JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Hari Santri tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Kebesaran pesantren bukan hanya diukur dari kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman.
Delapan puluh satu tahun setelah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, medan perjuangan santri telah berubah. Tantangannya kini adalah kemajuan teknologi, persaingan global, ketimpangan pendidikan, hingga perubahan sosial yang semakin cepat.
Indonesia membutuhkan pesantren yang tidak hanya kuat menjaga tradisi, tetapi juga berani melakukan transformasi.
Dalam konteks inilah kiprah KH Imam Jazuli, Rais Syuriyah PBNU sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, menarik dicermati.
Kiai Imam Jazuli termasuk figur yang mendorong gagasan pesantren transformatif. Baginya, pendidikan pesantren tidak boleh terjebak dalam dikotomi antara tradisi dan modernitas. Penguasaan kitab kuning harus berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan bahasa asing.
Salah satu wujudnya terlihat dari keberhasilan sejumlah santri Bina Insan Mulia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi luar negeri. Ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki peluang melahirkan generasi berwawasan global tanpa kehilangan akar keislaman dan kebudayaan Nusantara.
Terobosan lainnya adalah workshop dai di era digital. Inisiatif ini penting karena medan dakwah telah mengalami perubahan fundamental.
Dahulu, otoritas keagamaan tumbuh melalui pesantren, masjid, dan majelis taklim. Kini, ruang digital turut menentukan siapa yang didengar dan dipercaya masyarakat.
Jika kiai dan santri tidak menguasai teknologi komunikasi, ruang dakwah berisiko lebih banyak dikuasai mereka yang piawai membangun popularitas ketimbang memiliki kedalaman ilmu agama.
Sosiolog Max Weber menjelaskan bahwa otoritas tradisional dan kharismatik merupakan sumber legitimasi kepemimpinan. Namun, dalam masyarakat modern, otoritas keagamaan juga dituntut membuktikan relevansinya melalui kompetensi dan kontribusi sosial.
Kiai Imam Jazuli tampaknya memahami perubahan tersebut.
Momentum Hari Santri Nasional 2026 menjadi salah satu ruang aktualisasi gagasannya. Melalui Imam Jazuli Foundation, sekitar 1.000 tokoh pesantren se-Jawa Barat berkumpul di Cirebon, Kamis (22/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, sebanyak 17 tokoh menerima Imam Jazuli Award, termasuk KH Cucun Ahmad Syamsurijal dan KH Maman Imanulhaq, atas kontribusi mereka dalam kehidupan keagamaan, pendidikan, sosial, dan kebangsaan.
Namun, makna terpenting kegiatan ini bukan terletak pada penghargaan, melainkan pada upaya membangun jejaring kolaborasi dan pengabdian pesantren.
Pesantren sesungguhnya memiliki modal sosial yang luar biasa: tradisi keilmuan, jaringan alumni, kepercayaan masyarakat, dan kepemimpinan moral. Tantangannya adalah bagaimana seluruh kekuatan tersebut diubah menjadi gerakan yang memberikan manfaat nyata.
Tentu, transformasi pesantren tidak cukup berhenti pada seminar, workshop, atau seremoni penghargaan. Keberhasilannya harus diukur dari kualitas lulusan, keberlanjutan inovasi, serta kontribusinya bagi masyarakat.
Di sinilah relevansi ikhtiar Kiai Imam Jazuli. Ia menawarkan arah bahwa pesantren masa depan harus tetap berakar pada tradisi, tetapi memiliki keberanian menembus batas-batas kemajuan.
Hari Santri 2026 seharusnya menjadi pengingat bahwa pesantren tidak boleh hanya membanggakan kejayaan masa lalu.
Santri bukan sekadar pewaris sejarah. Mereka harus menjadi pencipta sejarah baru.
Dan melalui gagasan pesantren transformatif, Kiai Imam Jazuli memperlihatkan bahwa dari ruang-ruang sederhana pesantren, generasi santri Indonesia memiliki peluang melangkah menuju panggung dunia.
Yusuf Mars, Pengamat Komunikasi Politik dan Dosen Ilmu Komunikasi

























