JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan, Nahdlatul Ulama harus mampu menunjukkan perannya sebagai miniatur Islam yang menjunjung tinggi pemuliaan manusia dan pengangkatan derajat kemanusiaan dalam mengawali abad kedua organisasi.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Miftach dalam Rapat Koordinasi (Rakor) PBNU di Hotel Trans Cibubur, Jumat (23/10/2026) malam.
“Memang keinginan kami ini bagaimana mengawali abad kedua, kita betul-betul bisa menunjukkan sebagaimana NU itu adalah miniatur Islam, yang mana Islam itu sendiri adalah memuliakan manusia, mengangkat derajat manusia,” ujar Kiai Miftach, Jumat.
Menurutnya, pemuliaan manusia merupakan bagian dari sunnatullah yang telah menjadi prinsip dalam ajaran Islam sejak masa para rasul, terutama Nabi Muhammad SAW.
Ia menjelaskan, manusia diciptakan sebagai khalifatullah fil ardh, yakni pemimpin di bumi yang mengemban amanah untuk menjalankan ketetapan Allah SWT.
“Jadi, memang sunnatullah. Bahkan sunnatullah yang tertua, yaitu pemuliaan terhadap manusia sampai diutusnya para rasul, terutama Nabi Besar Muhammad saw. Itu bagaimana pemuliaan Islam terhadap manusia,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftach juga menyoroti hubungan Islam dengan jamaah atau komunitas. Ia mengajak jajaran NU mencermati makna hubungan tersebut dalam memahami kemuliaan Islam dan peran umat dalam kehidupan beragama.
“Jadi, Islam itu justru lebih membutuhkan pada jamaah daripada jamaah tersebut membutuhkan Islam. Ini sepertinya ada hal-hal yang mungkin kita apa ya, tuju karena mungkin Islam itu justru di sinilah kemuliaan Islam itu sendiri,” jelasnya.
Kiai Miftach turut menyampaikan terima kasih kepada para kiai, masyayikh, dan profesor yang telah memberikan pandangan mengenai arah perjalanan NU pada abad kedua.
Ia berharap berbagai pemikiran yang disampaikan dalam forum rapat kerja tersebut dapat memperkuat peran ulama sekaligus menjaga marwah Nahdlatul Ulama dalam menjalankan khidmah kepada umat.
“Alhamdulillah kami terima kasih kepada para kiai, para masyayikh, para profesor, yang kerso bersama-sama untuk menunjukkan bahwa NU ini, ulama di abad kedua ini betul-betul menunjukkan marwahnya, menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama ini adalah peran-peran yang kita harapkan selama ini,” ungkapnya.
Kiai Miftach juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tugas dan jabatan yang berbeda. Perbedaan tersebut hendaknya tidak mengurangi semangat untuk berkontribusi dan mengabdi kepada organisasi.
Baginya, jabatan yang diterima harus menjadi bagian dari perjalanan khidmah, bukan sekadar kedudukan dalam struktur organisasi.
Ia berharap seluruh jajaran pengurus dan warga NU terus menjaga semangat perjuangan dalam menjalankan amanah organisasi, terutama saat NU memasuki abad kedua.
“Semoga menambah semangat kita, dan terus bisa memperjuangkan dan berkhidmat kita di Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.
Pesan Rais Aam PBNU tersebut menempatkan pemuliaan manusia, penguatan marwah ulama, dan pengabdian sebagai prinsip penting dalam perjalanan NU pada abad kedua. Tantangannya adalah menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kerja nyata organisasi yang membawa manfaat bagi umat dan masyarakat luas.

























