CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Sebanyak 2.500 calon santri baru Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) mengikuti tes seleksi masuk Tahun Ajaran 2027/2028 yang digelar serentak di tiga hotel di Cirebon, yakni Aston, Luxton, dan Patra Jasa, Ahad (25/10/2026).
Tingginya jumlah peserta membuat panitia membagi pelaksanaan tes menjadi dua sesi, yakni pukul 07.00–12.00 WIB dan 13.00–17.00 WIB. Para peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Selandia Baru, Jepang, dan Mesir.
Di hadapan calon santri dan wali santri, pengasuh Bina Insan Mulia yang juga Rais Syuriyah PBNU, KH Imam Jazuli, Lc., MA, menegaskan bahwa pesantren tidak hanya berorientasi mencetak lulusan, tetapi juga menyiapkan generasi pemimpin yang mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan bangsa.
“Pesantren Bina Insan Mulia hadir tidak semata ingin mencetak lulusan. Kami ingin menghasilkan para kader dan leader yang mampu memainkan peran sentral di posisi-posisi strategis dalam pembangunan Indonesia,” ujar Kiai Imam Jazuli dalam keterangan, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, lulusan pesantren harus memiliki kesempatan luas untuk berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, hukum, politik, dunia usaha, hingga ilmu pengetahuan dan profesi lainnya.
“Jangan semua jadi ustadz atau kiai. Sedikit saja yang menempati peranan itu. Perlu ada yang menempati peranan sebagai eksekutif, yudikatif, dan legislatif, profesional, pengusaha, ilmuwan, dan seterusnya dan seterusnya,” tegasnya.
Kiai Imam Jazuli menilai pendidikan tinggi menjadi salah satu kunci untuk menyiapkan generasi yang mampu bersaing dan berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Karena itu, Bina Insan Mulia berkomitmen mendampingi para lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk melalui akses beasiswa dan kerja sama kelembagaan.
“Inilah yang membedakan Bina Insan Mulia dengan yang lain,” katanya.
Ia menyebut lulusan Bina Insan Mulia telah tersebar di berbagai perguruan tinggi di 16 negara, meliputi kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Sejumlah lulusan diterima melalui jalur beasiswa maupun kerja sama antarlembaga.
Kiai Imam Jazuli juga mengingatkan para wali santri agar memahami visi pendidikan tersebut sejak awal.
“Saya tegaskan untuk ke sekian kali, bagi wali santri yang menginginkan anaknya bekerja setelah SMK, Aliyah, atau SMK, mohon segera dibatalkan niatnya dan langsung mengambil uang pendaftaran. Akan kami kembalikan utuh,” tegasnya.
Seiring tingginya minat masyarakat, panitia menyampaikan bahwa pendaftaran santri baru untuk Tahun Ajaran 2028/2029 akan dibuka dalam waktu dekat.
Selain mengukur kemampuan calon santri, tes seleksi juga dimaksudkan untuk memetakan potensi dan membantu pengembangan pembelajaran. Bina Insan Mulia menekankan pentingnya memberikan kesempatan yang adil kepada setiap santri untuk mengembangkan kemampuan, keunggulan, dan cita-citanya.
Ketua panitia menjelaskan bahwa pesantren berupaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang tetap memberi ruang bagi santri untuk berkembang secara wajar.
“Pesantren Bina Insan Mulia bukan penjara suci. Apa yang dilarang di pesantren-pesantren lain, justru di sini dibolehkan, seperti nonton film, baca komik, berinteraksi normalnya manusia bagi santri dan santriwati, dan lain-lain,” paparnya.
Untuk menjangkau masyarakat dari beragam latar belakang ekonomi, Bina Insan Mulia mengembangkan beberapa unit pendidikan, yakni BIMA 1, BIMA 2, BIMA 3, BIMA 4, dan BIMA 5 atau BIEST yang dikhususkan untuk jenjang sekolah dasar.
Biaya pendidikan disesuaikan dengan unit dan fasilitas yang diterima santri. BIMA 1 menetapkan uang masuk Rp8 juta–Rp10 juta dengan biaya bulanan Rp990 ribu. BIMA 3 menetapkan uang masuk Rp900 ribu hingga Rp1,5 juta dengan biaya bulanan Rp499 ribu.
Sementara itu, BIMA 2 atau kelas VIP menetapkan uang masuk Rp25 juta dengan biaya bulanan Rp2 juta. Adapun BIMA 4 menetapkan uang masuk Rp39 juta dan biaya bulanan Rp4 juta.
Untuk BIEST, uang masuk bagi santri pulang-pergi sebesar Rp900 ribu dengan biaya bulanan Rp100 ribu. Sementara santri yang tinggal di asrama dikenai uang masuk Rp5,9 juta dan biaya bulanan Rp1,1 juta.
Perbedaan biaya tersebut antara lain berkaitan dengan fasilitas yang disediakan. Di BIMA 4, misalnya, santri mendapatkan fasilitas makan dan kamar berisi empat orang dengan akses air panas. BIMA 2 dan BIMA 4 juga menerapkan kurikulum Cambridge dan International Baccalaureate (IB), sebagaimana disampaikan dalam keterangan panitia.
Menutup rangkaian seleksi, panitia memberikan kejutan kepada seluruh peserta berupa kesempatan menonton film di pusat perbelanjaan di Cirebon.
Melalui proses seleksi ini, Bina Insan Mulia berharap dapat memetakan potensi calon santri sekaligus menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkiprah di berbagai bidang dan mengambil peran dalam pembangunan Indonesia.
(Abd/MSn)



























