SERANG, BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) didorong mengambil peran nyata dalam memperkuat ketahanan pangan, mulai dari mendampingi petani, mengawal distribusi pupuk bersubsidi, hingga mengembangkan agribisnis berbasis potensi lokal Banten.
Ajakan tersebut mengemuka dalam Seminar Ketahanan Pangan bertema “Mewujudkan Pangan Berdaulat, Kontribusi Pemuda bagi Ketahanan Pangan” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untirta di Ruang Student Centre 03, Kampus Utama Sindangsari, Serang, Rabu (28/10/2026).
Seminar menghadirkan akademisi, pelaku usaha, dan mahasiswa untuk membahas tantangan ketahanan pangan nasional serta peluang kontribusi pemuda di sektor pertanian.
Dosen Teknologi Pangan Untirta, Rifqi Ahmad Riyanto, S.Si., M.Sc., mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi, tetapi juga harus didukung pemerataan distribusi, akses masyarakat, dan keberlanjutan.
Berdasarkan Global Food Security Index (GFSI) 2022, Indonesia berada di peringkat 63 dari 113 negara dengan skor 60,2. Sementara itu, aspek keberlanjutan dan adaptasi masih menjadi tantangan.
Rifqi juga menyoroti ancaman perubahan iklim dan pemborosan makanan yang diperkirakan mencapai 23–48 juta ton per tahun.
“Peningkatan produksi beras perlu diiringi dengan pemerataan distribusi agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Ketua Koperasi Anugerah Aren Banten Nusantara (ARENTA), Sarnata, S.P., mengajak pemuda melihat sektor pertanian sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Ia menyoroti potensi produk pangan lokal Lebak, Serang, dan Pandeglang yang masih menghadapi kendala distribusi dan pemasaran.
Menurutnya, diversifikasi produk menjadi salah satu solusi meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
“Produk gula aren yang semula bernilai Rp20.000 dapat dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai jual hingga Rp80.000,” ungkap Sarnata.
Ia juga menekankan pentingnya perizinan, perencanaan bisnis, dan pengembangan pasar melalui skema business to business (B2B).
Usaha yang dirintisnya kini telah membina 175 petani aren sebagai penyedia bahan baku.
Sementara itu, Ketua BEM Fakultas Pertanian Untirta 2026, Rafii Rizqi Ramadhan, menyoroti pentingnya regenerasi petani dan pengawasan distribusi pupuk bersubsidi.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, jumlah petani milenial berusia 19–39 tahun baru mencapai 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari total petani Indonesia.
Rafii menilai mahasiswa memiliki peran strategis dalam mendampingi petani, termasuk membantu proses pendaftaran Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan mendorong keterlibatan dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Ia juga menyoroti peran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sebagai salah satu titik penebusan pupuk bersubsidi yang perlu dikawal agar benar-benar menjangkau petani yang berhak.
Di Banten, dari alokasi pupuk bersubsidi 2026 sebesar 135.377 ton, Pupuk Indonesia telah menyalurkan 71.472 ton atau sekitar 53 persen hingga 26 Oktober 2026.
Rafii menegaskan bahwa persoalan pertanian tidak hanya berkaitan dengan pupuk, tetapi juga cuaca, kualitas lahan, dan keterdaftaran petani dalam sistem e-RDKK.
“Petani di Banten masih membutuhkan pupuk bersubsidi untuk mendukung kegiatan pertanian,” katanya.
Ia menambahkan, kegagalan panen tidak hanya disebabkan persoalan pupuk, tetapi juga berbagai faktor lain yang membutuhkan penanganan secara menyeluruh.
Rafii juga mendorong penjajakan program penyediaan air, termasuk Program Manunggal Air milik TNI, untuk membantu petani menghadapi ancaman kemarau panjang.
Seminar ini menegaskan bahwa ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, mahasiswa, petani, dan pelaku usaha.
Melalui pendampingan petani, pengawalan pupuk subsidi, serta pengembangan agribisnis lokal, mahasiswa diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi mewujudkan pangan berdaulat dari hulu hingga hilir di Banten.

























