JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Belum genap sepekan dikukuhkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031, KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin langsung menunjukkan langkah awalnya.
Bukan pidato panjang. Bukan pula gebrakan seremonial. Gus Kikin justru memulai kepemimpinannya dengan menata barisan, meminta dukungan, menggelar istikharah, hingga membuka komunikasi dengan Bank Syariah Indonesia dan Duta Besar Arab Saudi.
Jumat (4/9/2026), suasana di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, menjadi saksi awal perjalanan Gus Kikin sebagai nahkoda baru organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Untuk pertama kalinya, ia memasuki ruang kerja resminya setelah dikukuhkan pada Senin, 31 Agustus 2026.
Tidak ada pesta kemenangan. Gus Kikin justru menyapa para staf dan karyawan PBNU yang selama ini menjadi bagian penting dari roda pelayanan organisasi. Ia meninjau ruang kerjanya dan mulai melihat langsung denyut aktivitas di rumah besar NU.
Didampingi KH Samsul Maarif, Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Asrorun Niam Sholeh, dan KH Gudfan Arif Ghofur, Gus Kikin menyampaikan pesan singkat namun sarat makna.
“Saya dikukuhkan pada Senin, 31 Agustus lalu. Mohon dukungan panjenengan semuanya,” ujar Gus Kikin.
Namun, di balik kalimat sederhana itu, pekerjaan besar sudah menunggu. ke mana Gus Kikin akan membawa PBNU selama lima tahun ke depan?
Gus Kikin sadar, tidak mungkin menjalankan mesin organisasi secara maksimal jika struktur kepengurusan belum lengkap.
Karena itu, langkah pertamanya justru diarahkan untuk melengkapi formatur kepengurusan PBNU periode 2026–2031.
“Belum ada yang bisa dilakukan karena kita harus melengkapi formatur kepengurusan,” katanya.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa pembentukan kepengurusan menjadi pekerjaan rumah pertama yang ingin segera diselesaikan.
Tetapi ada sesuatu yang menarik. Gus Kikin tidak ingin sekadar menyusun nama berdasarkan pertimbangan organisatoris.
Ia membawa satu tradisi yang selama ini melekat kuat dalam kultur NU: istikharah.
Bagi Gus Kikin, menentukan orang yang tepat untuk menduduki posisi strategis bukan perkara sederhana.
Ada amanah besar yang harus dipikul. Karena itu, istikharah menjadi bagian dari proses tersebut.
“Ini jalan agar kita mendapatkan petunjuk siapa yang cocok, yang bisa membawa manfaat besar. Ini tradisi NU untuk menjamin segala langkah mendapat ridha Allah SWT,” tegasnya.
Bahkan posisi strategis seperti Sekretaris Jenderal tidak luput dari prinsip tersebut. Di sinilah warna kepemimpinan Gus Kikin mulai terlihat. Modern dalam mengelola organisasi, tetapi tidak ingin tercerabut dari tradisi pesantren dan nilai-nilai keulamaan NU.
Jika urusan internal menjadi prioritas pertama, Gus Kikin juga tidak menutup pintu untuk membangun jaringan eksternal.
Hari pertamanya di kantor PBNU diwarnai pertemuan dengan perwakilan Bank Syariah Indonesia (BSI). Pertemuan tersebut membuka ruang sinergi antara PBNU dan lembaga keuangan syariah. Pesannya jelas, setelah Muktamar selesai, NU harus kembali bergerak. Tidak hanya mengurus organisasi, tetapi juga membangun kerja sama yang dapat memberi manfaat lebih luas. Namun, langkah Gus Kikin tidak berhenti di sektor ekonomi.
Usai agenda di Kantor PBNU, Gus Kikin menyambangi kediaman Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al-Amoudi, di kawasan Menteng.
Pertemuan itu berlangsung dalam suasana hangat. Gus Kikin mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama mengenal sang duta besar.
“Kami sudah lama kenal. NU selalu terbuka, hubungan baik dengan Arab Saudi ingin terus ditingkatkan,” terangnya.
Belum ada pembahasan teknis mengenai kerja sama tertentu. Namun pertemuan tersebut menunjukkan satu hal: pintu komunikasi internasional mulai diketuk sejak awal kepemimpinan Gus Kikin.
Dubes Faisal menyambut baik pertemuan tersebut dan menyampaikan apresiasi terhadap hubungan Arab Saudi dengan berbagai organisasi Islam di Indonesia, khususnya NU.
Di balik sosok Gus Kikin yang kini berada di puncak struktur PBNU, terdapat pengalaman yang tidak biasa. Sebelum dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Gus Kikin pernah bersentuhan langsung dengan dunia profesional.
Ia memiliki pengalaman di BUMN pelayaran Djakarta Lloyd, serta dunia usaha logistik dan perkapalan. Pengalaman tersebut kini bertemu dengan tradisi pesantren yang menjadi akar kehidupannya.
Perpaduan dua dunia inilah yang menarik untuk ditunggu. Apakah pengalaman profesional akan melahirkan gaya baru dalam mengelola PBNU, tanpa meninggalkan karakter dan tradisi NU? Pertanyaan itu kini mulai muncul setelah langkah pertama Gus Kikin terlihat.
Hari pertama Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU akhirnya ditutup dengan sebuah harapan sederhana.
“Mudah-mudahan hari ini menjadi awal langkah yang lebih baik lagi bagi NU,” pungkasnya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan pekerjaan besar: menyusun kepengurusan, menyatukan barisan, menjaga tradisi, membangun sinergi, dan membawa NU memasuki periode baru.
Muktamar ke-35 telah selesai. Kepemimpinan baru telah lahir. Kini pertarungan sebenarnya bukan lagi soal siapa yang terpilih.

























