JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika mengenai kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menjadi perhatian. Di tengah menghangatnya kontestasi, nama KH Nurul Huda Djazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, disebut mendapat dorongan dari sejumlah kiai sepuh untuk menerima amanah sebagai Rais Aam PBNU.
Dorongan tersebut muncul seiring keprihatinan sejumlah ulama terhadap dinamika internal NU yang belakangan dinilai semakin terbuka. Bahkan, beredar berbagai tudingan mengenai praktik transaksional dalam proses perebutan kepemimpinan organisasi.
Pemerhati enam kali Muktamar NU, Wahab Hasyim, menilai Muktamar ke-35 semestinya tidak berhenti pada persoalan siapa yang menduduki posisi strategis di tubuh PBNU. Lebih jauh, Muktamar harus menjadi momentum konsolidasi dan rekonsiliasi untuk mengakhiri ketegangan internal.
“NU membutuhkan figur pemimpin spiritual jam’iyyah ulama yang mampu menjadi titik temu berbagai kelompok dan menjadi payung teduh umat,” kata Wahab.
Menurutnya, seorang Rais Aam tidak cukup hanya memiliki kapasitas keilmuan. Sosok tersebut juga dituntut memiliki keteladanan, kewaraian, kewibawaan atau haibah, independensi dari berbagai kepentingan, serta kemampuan menjaga persatuan warga NU.
“Rais Aam PBNU bukan sekadar jabatan struktural. Ia merupakan simbol otoritas keulamaan dan penjaga moral jam’iyyah. Karena itu, kriterianya harus alim, faqih, zahid dan memiliki keteladanan,” ujarnya.
Dalam pandangan Wahab, KH Nurul Huda Djazuli memiliki sejumlah modal moral dan keulamaan yang dinilai sesuai dengan karakter kepemimpinan tersebut.
Sebagai ulama sepuh sekaligus pengasuh pesantren, Kiai Huda disebut memiliki posisi yang memungkinkan dirinya menjadi titik temu berbagai kelompok di tubuh NU.
Dorongan agar Kiai Huda menerima amanah Rais Aam juga disebut tidak terlepas dari keprihatinan terhadap konflik terbuka yang terjadi di lingkungan PBNU.
Wahab menyampaikan bahwa KH Nurul Huda berharap seluruh jajaran NU kembali mengedepankan persatuan, kerukunan, kekompakan dan keikhlasan dalam menjalankan amanah organisasi.
“NU memiliki posisi penting sebagai panutan masyarakat. Karena itu, konflik internal yang terbuka di ruang publik tentu sangat disayangkan karena bisa berdampak terhadap kepercayaan warga Nahdliyin dan masyarakat luas,” katanya.
Kiai Huda, lanjut Wahab, juga disebut terus mendoakan agar NU tetap berjalan sesuai asas dan khittahnya, dikelola secara tertib, serta mampu menjadi pelindung bagi seluruh warga.
“Harapannya NU tetap menjadi rumah bersama, membawa keberkahan bagi syiar Islam serta perkembangan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia,” imbuhnya.
Menariknya, aspirasi agar KH Nurul Huda Djazuli bersedia menjadi Rais Aam disebut belum langsung mendapatkan jawaban ketika sejumlah kiai sepuh menyampaikan permintaan tersebut.
Kiai Huda dikabarkan hanya tersenyum dan tidak memberikan pernyataan terbuka.
Namun, setelah para tamu berpamitan, ia disebut meminta salah seorang kepercayaannya untuk menemui salah satu kiai sepuh guna melakukan istikharah.
Menurut Wahab, berdasarkan informasi yang diterimanya dari lingkungan Pesantren Ploso, hasil istikharah tersebut dinilai baik. Meski demikian, KH Nurul Huda tetap memilih untuk tidak memberikan jawaban secara terbuka.
Bahkan, menurut informasi yang disampaikan Wahab, Kiai Huda tampak merunduk dan berkaca-kaca ketika pembicaraan mengenai amanah Rais Aam disampaikan kepadanya.
“Sikap Kiai Huda itu justru menunjukkan bahwa amanah ini tidak dipandang sebagai jabatan yang harus dikejar. Ada beban moral dan tanggung jawab besar yang dipertimbangkan,” ungkap Wahab.
Bagi Wahab, persoalan utama Muktamar ke-35 bukan semata-mata mengenai siapa yang berhasil memenangkan kontestasi kepemimpinan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana NU dapat menemukan sosok yang mampu menyatukan kembali berbagai kelompok setelah Muktamar selesai.
“Ini bukan soal siapa yang menang dalam kontestasi. Yang lebih penting adalah siapa yang mampu mengakhiri kontestasi dan menyatukan NU setelah Muktamar,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, munculnya aspirasi terhadap KH Nurul Huda dinilai bukan semata-mata sebagai upaya memenangkan perebutan jabatan. Sebaliknya, para kiai disebut sedang mencari figur yang dapat mengembalikan marwah jam’iyyah, sekaligus membawa NU kembali kepada semangat *khidmah* dan garis perjuangan para ulama pendiri.
“Harapannya bukan hanya lahir pemimpin yang kuat secara struktur, tetapi pemimpin yang mampu menjadi payung bagi semua kelompok dan mengembalikan NU sebagai rumah bersama,” pungkasnya.
Hingga kini, apakah KH Nurul Huda Djazuli akan menerima amanah sebagai Rais Aam PBNU masih menjadi tanda tanya.
Namun, dorongan sejumlah kiai sepuh, sikap hati-hati Kiai Huda, serta informasi mengenai istikharah yang disebut memberikan isyarat baik membuat nama Pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso tersebut semakin mengemuka menjelang Muktamar ke-35 NU.
Jika benar mendapat amanah, tantangan terbesar bukan sekadar memimpin secara struktural, melainkan menjadi **penjaga moral, pemersatu, sekaligus payung bagi seluruh warga NU** di tengah dinamika organisasi yang sedang berlangsung.
Muktamar ke-35 pun bukan hanya akan menentukan siapa yang memegang tampuk kepemimpinan NU, tetapi juga akan menjadi ujian bagi kemampuan jam’iyyah terbesar tersebut untuk kembali merajut persatuan, memperkuat tradisi keulamaan, dan menjaga NU sebagai rumah bersama.

























