JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, KH Taufik Damas mengingatkan Nahdliyyin atau pengurus Nahdlatul Ulama tidak didirikan untuk melahirkan kelas elit baru. Ia lahir sebagai rumah umat, tempat para kiai mengabdi, bukan tangga untuk membangun gengsi atau memperbesar kuasa.
Menurut Kiai Taufik, Jika jabatan di NU hanya dijadikan jalan menuju kehormatan sosial, kedekatan dengan kekuasaan, atau akses terhadap berbagai privilese, maka yang tumbuh bukan lagi khidmah, melainkan ambisi. Padahal, kehormatan dalam tradisi NU tidak lahir dari jabatan, tetapi dari pengabdian.
“Seorang pengurus NU seharusnya semakin dekat dengan rakyat, bukan semakin jauh karena merasa lebih tinggi. Semakin sederhana, bukan semakin gemar dipuja. Semakin mudah ditemui, bukan semakin sulit dijangkau,” ujarnya dalam keterangan, Selasa (04/07/2026).
Lebih lanjut, Alumni Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir itu menegaskan, NU akan tetap besar jika dipimpin oleh mereka yang melihat organisasi ini sebagai amanah, bukan sebagai kendaraan untuk menjadi elit. Sebab, kebesaran NU bertumpu pada ketulusan para pelayannya, bukan pada kemewahan para pemimpinnya.
“Masuklah ke NU untuk mengabdi, bukan untuk menjadi elit. Karena ketika pengabdian berubah menjadi perburuan status, ruh perjuangan perlahan akan menghilang,” pungkasnya.

























