JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Sosok Kiai Hasan Gontor ramai dibicarakan. Namun, di balik viralitas tersebut, ada sesuatu yang dinilai jauh lebih dalam dari sekadar fenomena media sosial: kerinduan masyarakat terhadap sosok yang mampu menghadirkan keteladanan.
Pandangan itu disampaikan KH. M. Taufik Damas, Lc. Menurutnya, viralitas Kiai Hasan Gontor hanyalah gejala di permukaan. Di baliknya terdapat sesuatu yang lebih tua sekaligus manusiawi, yakni kerinduan manusia terhadap figur yang dapat dipercaya ketika dunia terlalu banyak menawarkan suara, tetapi semakin sedikit menghadirkan keteladanan.
“Manusia selalu mencari sosok yang dapat dipercaya ketika dunia terlalu banyak menawarkan suara tetapi terlalu sedikit memberikan keteladanan,” ujar KH. M. Taufik Damas dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa (22/09/2026)..
Menurutnya, di tengah zaman ketika otoritas kerap dibangun melalui popularitas, jumlah pengikut, dan kemampuan menguasai ruang publik, kehadiran seorang kiai yang sederhana, tegas, disiplin, dan konsisten memberikan pengalaman yang berbeda.
Sosok semacam itu mengingatkan bahwa kewibawaan tidak selalu lahir dari kemampuan berbicara atau besarnya panggung yang dikuasai. Kewibawaan juga dapat tumbuh dari kehidupan yang dijalani secara konsisten.
Karena itu, yang membuat seseorang menjadi penting bukan selalu apa yang dikatakannya, melainkan apa yang diwakilinya.
Kiai Hasan, dalam pandangan Kiai Taufik, mungkin menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri: kerinduan terhadap guru yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menghadirkan ukuran tentang bagaimana ilmu seharusnya dijalani.
Di sinilah muncul paradoks kehidupan modern.
Semakin mudah manusia memperoleh informasi, semakin sulit menemukan figur yang benar-benar layak diteladani. Semakin banyak orang berbicara tentang nilai, semakin langka orang yang bersedia menjalani kehidupan berdasarkan nilai tersebut.
Ketika masyarakat menemukan sosok yang dianggap memiliki keteguhan, mereka sesungguhnya tidak hanya sedang melihat seorang individu.
Mereka juga sedang bercermin pada sesuatu yang mungkin terasa hilang dari kehidupan mereka sendiri.
“Yang viral bukan hanya seorang kiai. Yang viral adalah kerinduan manusia kepada keteladanan,” terang Kiai Taufik Damas alumni Al-Azhar, Cairo, Mesir itu.
Selanjutnya, pertanyaan yang kemudian muncul pun menjadi lebih mendasar: apakah masyarakat sedang kekurangan tokoh, atau justru sedang kekurangan kehidupan yang layak diteladani?
Pada akhirnya, sebuah masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar untuk menunjukkan jalan.
Masyarakat juga membutuhkan manusia yang bersedia berjalan di jalan itu terlebih dahulu.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sebuah keteladanan: bukan sekadar mengajarkan ke mana manusia harus melangkah, tetapi memberikan contoh dengan terlebih dahulu menjalani jalan tersebut.

























