JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) mengapresiasi langkah kepolisian yang menetapkan Aji Cahyono Putra sebagai tersangka dalam kasus pembubaran ibadah di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten.
Aji ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga mengancam jemaat menggunakan golok dan memaksa ibadah dihentikan. Meski sebelumnya pelaku sempat meminta maaf setelah peristiwa tersebut viral, proses hukum tetap berjalan.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menyampaikan terima kasih kepada Kapolri baru Jenderal Suyudi Ario Seto. Ia menilai penegakan hukum yang tegas penting untuk mencegah aksi intoleransi dan menjaga kerukunan antarumat beragama.
“Aksi intoleransi sudah termasuk pelanggaran hukum, apalagi ada pengancaman dengan golok. Pelaku sudah ada bibit radikalisme Terorisme Anarkisme dan apabila dibiarkan bisa menjadi pelaku teroris. Ini bukan asal tuduh, bahwa pelaku terorisme selalu berawal dari aksi Intoleransi, radikalisme dan anarkisme yang selama inidibiarkan” kata Gus Wal dalam keterangan, Kamis (15/10/2026).
Menurut Gus Wal, kepemimpinan Kapolri baru diharapkan semakin responsif terhadap tindakan yang mengancam kebebasan beribadah dan merusak kerukunan masyarakat.
“Kapolri baru dengan slogan ‘Polisi bersama Masyarakat’ kami harap sejalan dengan implementasi di lapangan. Warga jangan pernah takut intimidasi karena, medsos selalu berpihak pada oknum intoleran. Dan aparat segera menindak tanpa harus ada yang melaporkan karena pengancaman sudah masuk delik umum” lanjut Gus Wal.
PNIB Desak 16 November Jadi Hari Toleransi Nasional
Selain mengapresiasi penegakan hukum, PNIB terus mendorong pemerintah menetapkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional. Gus Wal menilai penetapan tersebut menjadi simbol kehadiran negara dalam melawan intoleransi.
“Penetapan 16 November sebagai hari Toleransi Nasional itu bagi kami harga mati. Menjadi penegasan bahwa siapapun yang mendukung Hari Toleransi Nasional pasti menolak aksi-aksi intoleransi dimanapun” jelasnya.
Gus Wal menegaskan, perjuangan menjaga toleransi tidak cukup dilakukan melalui pernyataan di media. PNIB, kata dia, juga bergerak melalui kirab Merah Putih dan bakti sosial air bersih sebagai bentuk aksi nyata di tengah masyarakat.
“Toleransi ibarat lem perekat yang menyatukan pluralisme yang ada di Indonesia. Tanpa itu negara kita sudah terpecah belah sejak dulu. dan nilai toleransi itu yang selalu kita gaungkan tidak hanya bicara tapi berujud aksi nyata” imbuhnya.
Ia menambahkan, PNIB memilih berfokus pada perjuangan di akar rumput, terutama untuk mendampingi masyarakat yang rentan terprovokasi oleh isu intoleransi dan konflik sosial.
“Disaat ormas lain sibuk mendukung sana sini, menjilat kepentingan untuk jabatan, kami tidak iri karena PNIB fokus perjuangan di garis akar rumput. Tanpa imbalan apalagi penghargaan karena bagi kami masyarakat yang kesusahan rentan terprovokasi. Tugas kami memprovokasi masyarakat di jalan kebangsaan dan menolak diam saat ditindas intoleransi, saatnya Indonesia Setara, Indonesia Tanpa Koma, Indonesia Tanpa Intoleransi, Terorisme Khilafah Radikalisme Anarkisme Premanisme” pungkas Gus Wal.
PNIB berharap penindakan terhadap kasus pembubaran ibadah GKPI Rajeg menjadi pengingat bahwa kebebasan beragama dan beribadah harus dilindungi. Penegakan hukum yang konsisten serta penguatan toleransi dinilai penting untuk menjaga persatuan dan keberagaman Indonesia.
(WLY/MSN)

























