YOGYAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Ancaman kerusakan lingkungan hingga kekeringan menjadi perhatian serius mahasiswa Nahdlatul Ulama di Daerah Istimewa Yogyakarta. BEM PTNU DIY memilih bergerak sebelum persoalan semakin parah dengan menanam dan mendistribusikan 500 bibit pohon di Padukuhan Gandu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Minggu (06/09/2026).
Tak hanya soal penghijauan, mahasiswa juga turun langsung membantu masyarakat melalui cek kesehatan gratis, penyaluran air bersih, hingga sosialisasi pertanian adaptif di lahan kering. Pesan yang dibawa pun tegas: menjaga lingkungan bukan pekerjaan satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama.
Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut digelar BEM PTNU DIY bersama KKN STAIYO Yogyakarta dengan mengusung tema “Bersama Menanam, Bersama Menjaga Kesehatan, Untuk Lingkungan yang Lestari dan Masyarakat yang Sehat.”
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Drs. H. Syaban Nuroni, MA, Ketua Tanfidziyah PCNU Gunungkidul; Nur Hakim, Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Rongkop; Suyata, S.I.P, Lurah Kalurahan Semugih; serta M. Faisal Dzulfahmi, perwakilan Pengurus Pusat BEM PTNU Se-Nusantara.
Koordinator Wilayah BEM PTNU DIY, Tegar Pradana, menegaskan bahwa penanaman ratusan bibit tersebut bukan sekadar kegiatan simbolis.
Menurutnya, gerakan itu menjadi bagian dari upaya mahasiswa membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan hutan.
“Sebanyak 500 bibit yang kita tanam dan distribusikan ini harus menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.,” ujar Tegar.
Tegar mengingatkan bahwa persoalan lingkungan tidak boleh baru menjadi perhatian ketika bencana sudah terjadi. Momentum penghijauan dinilai penting di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
“Jangan sampai kita baru sadar pentingnya hutan ketika asap sudah memenuhi udara. Jangan sampai kita baru bicara lingkungan ketika ribuan hektare sudah terbakar. Pencegahan harus dimulai sebelum bencana terjadi, dan menjaga hutan harus menjadi tanggung jawab bersama,” kata Tegar.
Kepedulian BEM PTNU DIY tidak berhenti pada penanaman pohon. Masyarakat juga mendapat layanan cek kesehatan gratis, meliputi pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi badan, hingga gula darah.
Di tengah persoalan kekeringan yang dihadapi warga, BEM PTNU DIY turut menyalurkan air bersih untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Persoalan ketahanan pangan juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. BEM PTNU DIY menghadirkan sosialisasi bertajuk “Pertanian Adaptif di Lahan Kering: Inovasi Budidaya dan Pengelolaan Sumber Daya untuk Ketahanan Pangan Masyarakat Gendu”.
Materi tersebut disampaikan Didik Nuryanto, Founder Rumah Kreatif Indonesia (RKI). Masyarakat didorong untuk mengembangkan pola pertanian yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lahan, keterbatasan air, serta perubahan cuaca.
Tegar menilai ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya mendapatkan bantuan hari ini, tetapi juga memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menghadapi tantangan ke depan. Pertanian harus mampu beradaptasi dengan kondisi lahan, perubahan cuaca, keterbatasan air, sekaligus tetap menjaga lingkungan,” ujarnya.
BEM PTNU DIY berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai aksi sosial sesaat. Kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah kalurahan, Nahdlatul Ulama, perguruan tinggi, dan berbagai elemen lainnya diharapkan dapat terus berlanjut.
Tegar pun menyampaikan pesan kuat dari Gunungkidul.
“Dari Gunungkidul kita ingin mengirim pesan, sebelum hutan terbakar, mari kita jaga; sebelum air mengering, mari kita rawat sumbernya; dan sebelum lingkungan rusak, mari kita bergerak bersama,” pungkas Tegar.

























