BOYOLALI | LIPUTAN9NEWS
Sebanyak 150.000 liter air bersih disalurkan untuk warga terdampak kekeringan di wilayah Boyolali Utara dan Boyolali Selatan. Di tengah krisis air yang telah dirasakan warga sejak akhir Juli, bantuan tersebut hadir bukan sekadar membawa air, tetapi juga pesan tentang solidaritas, gotong royong dan toleransi.
Bakti sosial (bhaksos) itu digelar Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) bersama Ansor Banser, Pagar Nusa dan BEM Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Se-Nusantara selama tiga hari, Rabu hingga Jumat, 16–18 September 2026.
Truk-truk tangki bertuliskan PNIB Bhaksos Air Bersih hilir mudik sejak pagi hingga malam hari untuk mendistribusikan air kepada masyarakat yang membutuhkan. Kedatangan bantuan disambut antusias warga yang selama beberapa pekan menghadapi keterbatasan air bersih.
Ketua Umum PNIB, Abdur Rozaq Waluyo Wasis Nugroho alias Gus Wal, mengatakan aksi tersebut tidak semata-mata merupakan kegiatan sosial, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kepedulian dan persaudaraan sesama anak bangsa.
“Ini adalah aktivitas persaudaraan, persatuan anak bangsa dan toleransi nyata yang kita lakukan semampunya. Ketika ada saudara kita yang kesulitan mendapatkan air bersih, maka sudah seharusnya kita bertoleransi membantu. Dari rasa toleransi ini kebersamaan akan selalu terjaga sesama anak bangsa,” ujar Gus Wal.
Menurut Gus Wal, berbagai persoalan bangsa semestinya dihadapi dengan memperkuat persatuan dan persaudaraan nasional, bukan mempertajam perbedaan atau menyebarkan kebencian, hoaks dan fitnah.
“Indonesia adalah rumah kita bersama. Mari kita rawat persatuan, gotong royong dan kebhinekaan. Musuh bersama bangsa ini bukan sesama anak bangsa, tetapi berbagai persoalan yang merusak kehidupan masyarakat, seperti korupsi, intoleransi, terorisme, radikalisme, anarkisme dan berbagai bentuk kekerasan lainnya,” tegasnya.
Kolaborasi PNIB, Ansor Banser, Pagar Nusa dan BEM PTNU Se-Nusantara, kata Gus Wal, menunjukkan bahwa gerakan kebangsaan dapat berjalan beriringan dengan gerakan sosial kemasyarakatan.
Ia juga mengaitkan persoalan kekeringan dengan dampak korupsi terhadap kepentingan masyarakat.
“Triliunan uang yang dikorupsi jika digunakan untuk kepentingan masyarakat luas, tentunya tidak akan separah ini kesulitan yang dirasakan warga masyarakat yang dilanda krisis air bersih akibat kekeringan dan musibah bencana alam,” imbuhnya.
Gus Wal menilai dampak korupsi tidak hanya berkaitan dengan kerugian keuangan, tetapi juga dapat berujung pada terabaikannya kepentingan masyarakat bawah.
Bagi PNIB, membantu masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian dari kecintaan dan pengabdian kepada Indonesia. Nasionalisme, menurut Gus Wal, tidak cukup berhenti dalam pidato, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata.
“Merawat Indonesia bukan hanya dengan kata-kata. Mari hadir, membantu, bergotong royong dan menjaga persaudaraan. Dari air bersih kita bangun kepedulian, dari kepedulian kita kuatkan persatuan, dan dari persatuan kita wujudkan Indonesia yang aman, damai dan sejahtera tanpa korupsi, intoleransi, khilafah, terorisme, radikalisme dan anarkisme,” pungkas Gus Wal.
Aksi di Boyolali tersebut menambah rangkaian kegiatan sosial penyaluran air bersih yang dilakukan berbagai elemen masyarakat di tengah kekeringan yang melanda sejumlah wilayah. Sebelumnya, bantuan air bersih juga disalurkan oleh sejumlah organisasi dan lembaga di Boyolali untuk membantu warga yang mengalami keterbatasan sumber air.

























