BOGOR | LIPUTAN9NEWS
Mencuatnya Polemik Nasab untuk menjawab klaim sepihak klan Ba’alwi yang mengaku diri mereka sebagai Dzuriyah bahkan mengaku sebagai ahlul bait Nabi Muhammad SAW telah usai tanpa ada bantahan dari lembaga nasab Ba’alwi sesuai metodologi yang diajukan oleh sang penulis, Kyai Imadudin Usman al-Bantani selaku penulis dari mulai latar belakang penulisan, kajian nasab, ilmu pilologi, sejarah dan fiqih yang semua ditulis berjilid-jilid tanpa ada bantahan yang bisa merungkadkan tesis beliau, tentunya sebagian publik mengharapkan untuk disudahi dengan alasan tidak lagi produktif untuk membangun Negara dan bangsa ini lantaran sangat menguras energi besar.
Apapun perspektif alasan yang diajukan, baik ada yg ingin lanjut maupun disudahi semua itu ketika sebuah kajian tanpa ada bantahan maka bisa dinyatakan selesai atau sebaliknya apabila ada bantahan lalu penulis karya ilmiah tidak bisa menjawab balik antitesis itupun dianggap sudah selesai.
Yang jelas sebuah karya ilmiah yang baru muncul dan penuh resiko harus kita akui adalah sebuah karya jenius dalam membuka cakrawala khazanah keilmuan yang bepuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun telah mengakar, ternyata kemapanan sebuah informasi pengetahuan tanpa dasar metodologi ilmu, akan rapuh. Disinilah bagi seorang ilmuan akan diuji dalam menakar sebuah argumentasi ilmu yang telah mengakar ditengah masyarakat, benar atau tidak argumentasinya maka publik berhak untuk menilai sesuai kadar literasi yang dimilikinya.
Kemampuan publik dalam menangkap sinyal sebuah ilmu akan kembali ke pribadi masing-masing seiring perkembangan intelektual masyarakat generasi setelahnya, bahwa sebuah karya ilmu diakui tidak saat ini pastilah akan berguna dimasa akan datang.
Sekarang yang terpenting konsentrasi kita adalah kembali membuat rumusan yang serius agar klaim-klaim sepihak yang bisa mengakar dan telah menggeser ilmu menjadi doktrin yang tidak berdasarkan ilmu harus dibuatkan pemetaan yang jelas yaitu :
- Tidak boleh lagi ada yang mengaku sebagai keturunan Rosulullah tanpa verifikasi data yang jelas
- Jika klaim itu masih merebak ditengah masyarakat maka harus ada pembuktian.
- Bagi yang sudah jelas datanga sebagai keturunan Rosulullah dg pembuktian berdasarkan ilmu nasab, ilmu sejarah, ilmu pilologi, ilmu genetika maka harus menjaga akhlak dan prilakunya dengan akhlak mulia sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosulullah, yaitu tidak mencaci-maki kelompok yang berbeda, ketika menyampaikan dakwah ditengah umat maka umat harus memverifikasi ulang sejauh mana kemampuan ilmunya.
- Tidak boleh lagi ada kasta lebih terhormat dari orang lain.
Jika sebuah karya menjadi sebuah ilmu untuk jadi referensi generasi setelahnya dalam menemukan metode terbarunya, maka tentu hari ini ujian dalam penelitian telah usai mengingat sudah adanya korban, baik dalam bentuk korban psikologi, korban pisik bahkan membangun panatisme kedua kubu. Hal-hal semacam ini sudah tidak perlu dilanjutkan demi keutuhan bangsa dan Negara, penulis sangat menghormati hasil penelitian kyai Imaduddin al-Bantani demi untuk mencerdaskan umat, semoga Allah merestui perjuangan KH.Imadudin Usman dan kawan-kawan atas karya beliau dalam mengungkap nasab Habib Ba’alwi.
Begitu pula bagi yang masih mempertahankan pendapatnya, kalau diyakini klan Ba’alwi sebagai dzuriyah Rosulullah walaupun tanpa kajian pustaka, dan manuskrip kitab sejaman, tentu semua itu kembali kepada pribadi masing-masing tinggal seleksi alam yang akan menentukan dikemudian hari.
Yang pasti, bahwa sebuah penelitian yang bersifat ijtihadiyah selamanya akan terjadi debatable. Yang perlu di sepakati adalah kembali kepada akhlak Rosulullah yang berkeinginan untuk membangun dan menata peradaban Islam berdasarkan ilmu dan akhlak bukan karena nasab.

























