JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin hingga akhirnya dipercaya memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Beliau bukan lahir dari ruang yang kosong. Gus Kikin adalah keturunan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Darah yang mengalir dalam dirinya adalah darah keluarga pesantren yang sejak awal memang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan umat dan bangsa. Tetapi tentu saja, menjadi keturunan pendiri NU saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa Gus Kikin hari ini dipercaya memimpin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. Ada perjalanan panjang yang membuatnya menjadi pribadi dengan pengalaman yang tidak biasa.
Sebelum dikenal sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng dan kemudian memimpin PWNU Jawa Timur, Gus Kikin pernah menempuh pendidikan pelayaran. Ia bukan sekadar belajar tentang laut di ruang kelas. Ia benar-benar menjalani kehidupan sebagai pelaut, berlayar dan menjelajahi berbagai belahan dunia. Dari dunia pelayaran itulah barangkali terbentuk watak kepemimpinannya. Laut tidak mengenal kompromi. Ketika badai datang, seorang pelaut tidak bisa berdebat dengan badai, apalagi meminta badai berhenti. Yang bisa dilakukan adalah membaca situasi, memperhitungkan risiko, menjaga kapal tetap stabil, menentukan arah dan terus bergerak sampai badai berlalu. Pengalaman semacam itu tentu meninggalkan karakter.
“Saya ini seorang pelaut. Saya sudah keliling ke seluruh benua, kecuali Australia. Sebab saat itu tahun 70 akhir hingga 80 an Australia masih tidak terlalu menarik. Kalau ke Eropa dan Amerika saya beberapa kali pelayaran. Bahkan saya pernah diminta kerja di New York, dengan gaji 4 kali lipat dari gaji di perusahaan tempat saya bekerja. Alhamdulillah, Saya tolak, karena kalau saya terima, bisa jadi nggak balik ke Indonesia. Jadi sebagai pelaut saya ini sudah melewati semua samudera dan berbagai macam badai baik siang maupun malam. Jadi hapal saya dengan suasana perjalanan laut, bahkan saat itu saya punya kemampuan membaca rasi bintang dengan baik, ” Jelas Gus Kikin saat penulis sowan ndalem beliau dalam rangka meminta doa dan sambutan Ketum PBNU pada buku penulis yang berjudul ‘NU Abad Kedua, Menjaga Khittah, Optimis Menatap Masa Depan’. di Ndalem Kasepuhan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur
Gus Kikin kemudian memasuki dunia usaha. Pengalaman sebagai pengusaha juga bukan pengalaman yang ringan. Dunia usaha mengajarkan seseorang untuk berhadapan dengan ketidakpastian, mengambil keputusan, menghadapi risiko, bernegosiasi dengan banyak kepentingan, sekaligus bertahan ketika keadaan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Seorang pengusaha yang bisa bertahan tentu bukan orang yang mudah patah hanya karena menghadapi tekanan. Ia harus lentur, tetapi bukan berarti mudah dibengkokkan. Ia harus mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah.
Setelah melewati dunia pelayaran dan dunia usaha, Gus Kikin kemudian kembali ke dunia pesantren dan mengambil jalan khidmah. Ia dipercaya menjadi bagian dari kepemimpinan Pesantren Tebuireng, salah satu pesantren yang memiliki sejarah panjang dan posisi sangat penting dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Menjadi pengasuh Tebuireng tentu bukan amanah yang bisa dipandang sederhana. Nama Tebuireng terlalu besar untuk hanya dilihat sebagai sebuah lembaga pendidikan. Di sana ada sejarah KH Hasyim Asy’ari, ada tradisi keilmuan, ada perjuangan, ada jaringan ulama, dan ada tanggung jawab untuk menjaga warisan yang telah dibangun lintas generasi. Karena itu, ketika Gus Kikin dipercaya menjadi pengasuh Tebuireng, ia sebenarnya sedang memasuki ruang yang menuntut keteguhan sekaligus kebijaksanaan.
Perjalanan khidmahnya di NU kemudian terus berkembang. Gus Kikin dipercaya memimpin PWNU Jawa Timur, wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis utama kekuatan Nahdlatul Ulama. Memimpin organisasi di Jawa Timur tentu memberikan pengalaman tersendiri dalam memahami bagaimana NU bekerja di tingkat akar rumput, bagaimana berhadapan dengan berbagai karakter warga, pesantren, ulama, pemerintah, dunia usaha dan berbagai kelompok masyarakat. Dari sana terlihat bahwa perjalanan Gus Kikin menuju PBNU bukan perjalanan yang tiba-tiba. Ada proses panjang, ada pengalaman organisasi, ada pengalaman mengelola usaha, ada pengalaman mengelola pesantren, dan tentu ada pengalaman menghadapi berbagai macam situasi.
Mungkin karena itulah karakter seorang pelaut masih terasa dalam cara melihat Gus Kikin. Seorang pelaut sejati tidak dibentuk ketika laut sedang tenang. Justru karakter seorang pelaut terlihat ketika gelombang mulai tinggi dan cuaca berubah. Ia harus tetap berada di atas kapal ketika orang lain mungkin mulai panik. Ia harus tetap bisa berpikir ketika tekanan datang dari berbagai arah. Ia harus mampu membaca tanda-tanda alam, membaca arah angin, membaca posisi kapal dan menentukan keputusan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Dalam keadaan seperti itu, seorang nakhoda tidak mungkin membiarkan setiap suara dari luar menentukan arah kapalnya.
Di titik inilah pengalaman Gus Kikin menjadi relevan dengan amanahnya sekarang. NU adalah kapal yang sangat besar. Penumpangnya jutaan. Kepentingannya luas. Arah perjalanannya tidak mungkin ditentukan oleh satu atau dua orang. Di dalamnya ada ulama, kiai, pesantren, akademisi, profesional, pengusaha, politisi, anak muda dan masyarakat dari berbagai latar belakang. Kapal sebesar ini tentu akan selalu menghadapi ombak. Akan ada perbedaan pandangan, tekanan, kepentingan, bahkan mungkin badai yang datang dari berbagai arah. Yang dibutuhkan bukan pemimpin yang selalu mencari laut tenang, tetapi pemimpin yang tidak mudah panik ketika badai datang.
Gus Kikin memiliki modal pengalaman untuk itu. Ia pernah berada di laut, pernah berhadapan dengan dunia yang tidak selalu bisa diprediksi, pernah berada di dunia usaha yang penuh risiko, pernah mengelola pesantren dengan sejarah besar, dan pernah memimpin NU di Jawa Timur. Semua pengalaman itu tentu tidak otomatis menjadikan seseorang sempurna. Tetapi pengalaman panjang biasanya membuat seseorang lebih tahu mana gelombang yang harus dilalui, mana yang harus dihindari, dan kapan harus mengubah haluan.
Menjadi pemimpin organisasi sebesar NU juga bukan berarti harus keras kepada semua orang. Justru seorang pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang bisa lentur tanpa kehilangan prinsip. Seperti kapal yang menghadapi gelombang, ia harus bisa mengikuti gerakan laut agar tidak pecah, tetapi kemudinya tetap harus berada di tangan nakhoda. Di sinilah kelenturan dan keteguhan harus berjalan bersama. Gus Kikin punya pengalaman sebagai pengusaha yang membuatnya terbiasa bernegosiasi dan membaca situasi, tetapi juga memiliki akar pesantren yang membuatnya memahami bahwa ada nilai dan prinsip yang tidak bisa begitu saja ditukar dengan kepentingan sesaat.
Karena itu, rasanya tidak berlebihan jika Gus Kikin disebut sebagai sang penakluk badai. Bukan karena beliau tidak pernah menghadapi badai, tetapi justru karena beliau sudah cukup lama mengenal badai. Ia pernah menempuh perjalanan di laut, berpindah dari satu benua ke benua lain, mengenal dunia yang luas, kemudian kembali dan membangun kehidupan di dunia usaha, sebelum akhirnya memilih jalan khidmah. Perjalanan semacam itu membentuk cara pandang yang berbeda. Ia tahu bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Ia tahu bahwa tekanan adalah bagian dari perjalanan. Dan ia tahu bahwa seorang pemimpin tidak boleh kehilangan arah hanya karena angin bertiup kencang.
Pada akhirnya, PBNU membutuhkan seorang nakhoda yang bukan hanya pandai berbicara tentang perjalanan, tetapi pernah benar-benar berada di tengah perjalanan. Seorang yang tahu bagaimana membaca arah ketika keadaan tidak mudah. Seorang yang tidak mudah ditarik ke sana kemari hanya karena tekanan datang dari satu sisi. Seorang yang bisa mendengar banyak suara, tetapi tetap mampu mengambil keputusan. Dan yang paling penting, seorang yang memahami bahwa kapal ini bukan milik nakhoda, melainkan amanah yang harus dibawa sampai ke tujuan.
Gus Kikin sekarang berada di anjungan kapal besar bernama Nahdlatul Ulama. Di belakangnya ada warisan besar Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan para ulama pendahulu. Di tangannya ada pengalaman pesantren, pelayaran, dunia usaha dan organisasi. Di depannya ada laut masa depan yang tentu tidak selalu tenang. Kita tidak tahu badai apa yang akan datang. Tetapi setidaknya kita tahu, nakhoda kapal ini bukan orang yang asing dengan laut.
Dan mungkin itu yang membuat kita boleh menaruh harapan. Bahwa ketika angin mulai kencang, ketika gelombang mulai tinggi dan ketika tekanan datang dari berbagai arah, Gus Kikin tidak akan mudah kehilangan kendali. Ia sudah belajar dari laut bahwa badai tidak untuk ditakuti, tetapi untuk dibaca dan dilewati. Selama arah dan tujuan masih jelas, kapal harus tetap berlayar.
PBNU ke depan membutuhkan keteguhan itu. Membutuhkan nakhoda yang bisa lentur menghadapi gelombang, tetapi tidak mudah dibengkokkan oleh tekanan. Yang mampu membaca rasi bintang ketika langit gelap, membaca arah angin ketika cuaca berubah, dan tetap memegang kemudi ketika badai datang. Karena kapal sebesar NU tidak membutuhkan nakhoda yang takut pada badai. Ia membutuhkan nakhoda yang lihai, pemberani dan terus membawa semangat dan optimisme kejayaan masa depan NU dengan fondasi khidmah yang tulus karena semuanya didasarkan pada qonun asasi yang di wasiatkan khusus oleh sang muassis hadrotusyekh Mbah Hasyim Asyari yang tidak lain, mbah buyut beliau sendiri. Selamat berjuang dan berkhidmah Gus Kiai Ketum.
Dr. KH. Muhammad Nur Hayid, M.M., CSM., adalah Pengasuh Pesantren Skill Nurul Hayat Jakarta

























