JOMBANG | LIPUTAN9.id
Kepemimpinan baru Polri langsung mendapat sorotan sekaligus dukungan. Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) AR Waluyo Wasisi Nugroho alias Gus Wal menyambut pelantikan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri dengan pesan tegas: slogan “Polisi Bersama Rakyat” harus dibuktikan lewat pelayanan nyata.
Presiden Prabowo Subianto melantik Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri dan Komjen Pol Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri di Istana Negara, Jakarta, 1 Oktober 2026.
Pergantian pucuk pimpinan Polri tersebut dinilai Gus Wal sebagai momentum regenerasi dan transformasi institusi yang bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat.
“Selamat bertugas mengemban amanah kepada Kapolri baru Jenderal Pol Suyudi Ario Seto. Regenerasi dan transformasi Kepolisian patut kita apresiasi. PNIB akan tetap menjadi organisasi yang siap memberi masukan dan kritis sebagai wujud aspirasi publik, cinta, peduli dan dukungan kepada Polri,” ujar Gus Wal, Selasa (06/09/2026).
Polisi Bersama Rakyat Jangan Sekadar Slogan
Di bawah kepemimpinan Jenderal Suyudi, slogan “Polisi Bersama Rakyat” menjadi pesan penting yang menurut Gus Wal harus diterjemahkan dalam tindakan.
Ia menilai slogan tersebut mencerminkan arah pelayanan Polri yang lebih persuasif, profesional dan dekat dengan masyarakat.
“Bersama rakyat dalam situasi dan persoalan apa pun harus diwujudkan melalui sikap profesional, melayani dan pengabdian kepada rakyat,” tegasnya.
Gus Wal mengingatkan, masyarakat bukan sekadar objek pelayanan, tetapi memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kepolisian yang semakin baik.
Karena itu, ia meminta slogan tersebut tidak berhenti sebagai tulisan di kantor kepolisian atau pemberitaan media.
“Tanpa sosialisasi, slogan tersebut hanya menjadi tulisan di pintu gerbang kantor polisi maupun berita di media. Bahasa rakyat dan tindakan nyata jauh lebih mudah dipahami masyarakat,” katanya.
Gus Wal juga meminta kepemimpinan Kapolri baru memperkuat pemberantasan intoleransi, khilafah, radikalisme dan terorisme.
Menurutnya, ancaman terhadap masyarakat tidak selalu hadir dalam bentuk aksi teror secara langsung. Ia menilai intoleransi perlu dicegah sejak dini karena dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong lahirnya radikalisme dan kekerasan.
“Terorisme tidak hanya berwujud ancaman bom, tetapi ada yang lebih mendasar yaitu intoleransi. Faham intoleransi yang berjubah agama bisa menjadi salah satu faktor yang melahirkan aksi radikal, anarkis yang pada akhirnya berujung aksi terorisme,” ujar Gus Wal.
Ia berharap Kapolri baru membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan organisasi masyarakat yang selama ini aktif menjaga toleransi dan melawan provokasi kelompok intoleran.
“Sudah waktunya Kapolri yang baru merangkul ormas-ormas yang selama ini independen melawan provokasi kelompok intoleransi, khilafah, radikalisme dan terorisme,” imbuhnya.
Gus Wal menegaskan PNIB siap menjadi mitra kritis sekaligus bagian dari masyarakat yang mendukung pembenahan Polri.
“PNIB siap berkolaborasi demi menjembatani beberapa kesenjangan yang masih terjadi antara aparat penegak hukum dengan masyarakat,” pungkas Gus Wal.
Ia pun menyampaikan selamat bertugas kepada Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.
“Salam masyarakat yang kritis, peduli, cinta dan mendukung Polri untuk terus berbenah menjadi lebih baik dalam menjalankan amanah sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.” pungkasnya.

























