CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Lebih dari 5.000 santri Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Jawa Barat, menggelar shalat istisqa sebagai ikhtiar spiritual menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Kegiatan tersebut juga disertai penggalangan donasi untuk membantu masyarakat terdampak bencana.
Pengasuh Pesantren BIMA sekaligus Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Imam Jazuli, mengajak jaringan pesantren NU menjadikan krisis lingkungan sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap alam.
Dalam gerakan tersebut, Kiai Imam Jazuli turut menyumbangkan dana pribadi sebesar Rp100 juta sebagai bentuk solidaritas bagi masyarakat yang terdampak karhutla dan kekeringan.
“Mengetuk pintu langit dengan doa harus berjalan beriringan dengan merawat bumi melalui tindakan nyata,” ujar Kiai Imam Jazuli dalam keterangan pers, Ahad (18/10/2026).
Menurutnya, bencana ekologis tidak cukup direspons melalui doa dan kegiatan keagamaan yang bersifat seremonial. Masyarakat juga perlu terlibat langsung dalam membantu korban, mencegah kerusakan lingkungan, dan mendukung pemulihan kawasan terdampak.
“Jika satu pesantren di Cirebon bisa bergerak, bayangkan dampaknya jika ribuan pesantren di bawah naungan NU melakukan langkah serupa,” katanya.
Kiai Imjaz Serukan Tajdid Ekologis
Kiai Imam Jazuli menilai krisis lingkungan perlu mendorong pembaruan kesadaran keagamaan atau tajdid ekologis. Gagasan ini menempatkan perlindungan alam sebagai bagian dari tanggung jawab seorang Muslim dalam menjaga kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa kebakaran hutan dan kekeringan tidak semestinya dipandang hanya sebagai persoalan cuaca. Menurutnya, kondisi tersebut juga menjadi pengingat tentang pentingnya tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan alam dan mencegah kerusakan lingkungan.
Kiai Imjaz merujuk Surah Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia. Pesan tersebut, menurutnya, perlu diterjemahkan menjadi kesadaran bersama untuk merawat lingkungan.
“Kesalehan ritual harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial-ekologis,” ujarnya.
Ia juga mendorong penguatan fikih lingkungan dan penerapan prinsip maqashid asy-syariah, yakni tujuan syariat yang berorientasi pada kemaslahatan. Dalam pandangannya, perlindungan lingkungan berkaitan erat dengan keselamatan jiwa dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Kiai Imam Jazuli mengajak pesantren menjadikan peringatan Hari Santri Nasional 2026 sebagai momentum memperluas gerakan penyelamatan lingkungan.
Menurutnya, pesantren memiliki modal sosial yang kuat untuk menggerakkan masyarakat. Selain menjadi pusat pendidikan dan pembinaan keagamaan, pesantren juga memiliki jaringan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat menghadapi bencana.
Karena itu, ia berharap gerakan shalat istisqa dan penggalangan donasi di Pesantren BIMA dapat menginspirasi pesantren lain untuk melakukan kegiatan serupa, sekaligus mendorong kolaborasi dengan masyarakat dan berbagai pihak yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.
“Jalan spiritualitas santri adalah jalan pengabdian yang membawa rahmat bagi semesta. Karena itu, doa harus disertai kepedulian dan tindakan untuk menyelamatkan kehidupan,” kata Kiai Imjaz.
Seruan kepedulian terhadap lingkungan juga disampaikan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. Ia mengajak warga NU memperbanyak doa bagi keselamatan masyarakat terdampak karhutla sekaligus memperkuat ikhtiar bersama untuk mengatasi bencana.
“Mari kita satukan doa dan ikhtiar. Menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama,” tutur Kiai Miftachul.
Ia juga mendoakan agar masyarakat terdampak memperoleh perlindungan dan bantuan yang dibutuhkan, serta para petugas yang menangani kebakaran di lapangan diberi kekuatan hingga api dapat dipadamkan.
Sementara itu, Kiai Imam Jazuli menegaskan bahwa penanganan karhutla dan kekeringan perlu melibatkan berbagai elemen masyarakat. Bantuan kemanusiaan harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan dan pemulihan lingkungan agar risiko bencana dapat ditekan.
Ia berharap gerakan tersebut memperluas peran pesantren dalam menjawab persoalan bangsa. Dengan demikian, pengabdian NU dan pesantren tidak hanya dirasakan dalam bidang pendidikan dan keagamaan, tetapi juga melalui aksi nyata untuk kemanusiaan dan kelestarian bumi.

























