JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Dinamika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang terus menjadi perhatian. Di tengah menghangatnya bursa kepemimpinan PBNU, KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh menyerukan agar seluruh Nahdliyin tetap menjaga persatuan dan menghormati siapa pun yang nantinya mendapat amanah.
Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi Asy-Syar’i Sarang, Rembang, itu menekankan pentingnya prinsip “sami’na wa atha’na” dalam menyikapi keputusan forum tertinggi NU.
Menurut Gus Rosikh, siapa pun yang terpilih secara sah sebagai Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU harus dihormati dan didukung bersama. Kontestasi kepemimpinan, kata dia, jangan sampai meninggalkan luka atau memecah persaudaraan di kalangan Nahdliyin.
“Siapapun yang mendapatkan amanah dan terpilih secara sah sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU wajib dihormati serta didukung oleh seluruh warga Nahdliyin,” tegasnya.
Gus Rosikh juga mengingatkan agar proses pemilihan pimpinan PBNU tidak terjebak pada kepentingan politik praktis maupun kepentingan materi.
Baginya, Muktamar harus menjadi momentum mengembalikan marwah NU kepada akar perjuangan para ulama dan pesantren.
Ia menyerukan agar NU kembali menguatkan semangat Khittoh 1926, dengan menempatkan tradisi keilmuan pesantren dan kepemimpinan ulama sebagai fondasi utama organisasi.
“Kontestasi jangan dicemari oleh polarisasi politik praktis atau materi. NU harus kembali kepada tradisi pesantren dan para ulama,” pesan Gus Rosikh.
Menurut Gus Rosikh, tantangan NU memasuki abad kedua semakin kompleks. Karena itu, pemimpin baru tidak cukup hanya memiliki legitimasi organisasi, tetapi juga harus mempunyai arah perjuangan yang jelas.
Pemimpin NU ke depan dituntut mampu menjawab perubahan dan tantangan global tanpa mengorbankan independensi organisasi.
Ia menegaskan, kepemimpinan NU harus berpihak pada kepentingan pesantren, kiai, dan warga Nahdliyin.
“Siapapun yang terpilih sebagai Rais Aam PBNU dan Ketum Tanfidziyah PBNU harus berpihak dan mengedepankan kepentingan kiai, kepentingan pondok pesantren, serta lebih mengutamakan kemaslahatan warga Nahdliyin,” ujarnya.
Lebih jauh, Gus Rosikh berharap kepemimpinan PBNU 2026–2031 tidak berhenti pada urusan internal organisasi. NU harus hadir lebih nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia berharap NU semakin aktif mengisi kemerdekaan melalui kerja-kerja nyata yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
“Harus lebih berperan dalam mengisi kemerdekaan dan lebih berkontribusi nyata untuk kebaikan, kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi bangsa dan negara Indonesia,” pungkasnya.
Pesan Gus Rosikh sederhana: kontestasi boleh selesai, persaudaraan jangan pernah berakhir. Siapa pun yang mendapat amanah, NU harus tetap menjadi rumah besar bagi seluruh Nahdliyin.

























