JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Peta kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) mengalami perubahan tajam dalam rentang lima tahun. Jika Muktamar ke-34 NU di Lampung menjadi panggung kemenangan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang, justru menghadirkan konfigurasi politik organisasi yang berbeda.
Di balik pergantian kepemimpinan itu, muncul pertanyaan besar: apakah Gus Yahya akhirnya ditinggalkan oleh sebagian gerbong yang dahulu mengantarkannya menuju kursi Ketua Umum PBNU?
Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung, Gus Yahya berhasil memenangkan kontestasi Ketua Umum PBNU dengan mengalahkan petahana, KH Said Aqil Siroj. Kemenangan tersebut menandai perubahan besar dalam arah kepemimpinan PBNU.
Gus Yahya kemudian memimpin PBNU bersama sejumlah tokoh penting, termasuk Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Sementara di jajaran Syuriyah, KH Miftachul Akhyar menjadi Rais Aam PBNU.
Namun, perjalanan kepemimpinan lima tahun berikutnya tidak sepenuhnya mulus.
Dinamika internal kemudian berkembang. Relasi antartokoh dalam struktur PBNU mengalami perubahan seiring munculnya berbagai persoalan dan perbedaan pandangan mengenai arah organisasi.
Gus Yahya, Gus Ipul, dan Kiai Miftach yang pernah berada dalam satu konfigurasi kepemimpinan, pada akhirnya menghadapi situasi berbeda menjelang Muktamar ke-35.
Di Tambakberas, konfigurasi tersebut berubah secara drastis.
Gus Ipul berada dalam posisi penting dalam penyelenggaraan Muktamar, sementara Kiai Miftach kembali mendapatkan amanah sebagai Rais Aam. Pada saat yang sama, Gus Yahya menghadapi dinamika politik organisasi yang akhirnya membuatnya tidak kembali memimpin PBNU.
Muktamar ke-35 kemudian menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Perubahan itu sekaligus memperlihatkan bahwa kekuatan politik organisasi di NU tidak pernah benar-benar permanen.
Perjalanan dari Lampung menuju Tambakberas juga memunculkan refleksi mengenai bagaimana sebuah kemenangan dalam muktamar dapat membentuk konfigurasi kekuasaan baru.
Kemenangan Gus Yahya di Lampung membawa gerbong kepemimpinan baru ke PBNU. Namun, ketika perjalanan berlangsung, muncul berbagai dinamika dan konflik internal yang membuat hubungan antarkekuatan di dalam organisasi semakin kompleks.
Karena itu, menarik untuk melihatnya bukan sekadar sebagai pergantian ketua umum, tetapi sebagai pergeseran gerbong kekuasaan di tubuh NU.
Apa yang dahulu menjadi kekuatan pengusung Gus Yahya di Lampung, tidak sepenuhnya tampil dengan konfigurasi yang sama di Tambakberas.
Justru sejumlah tokoh yang sebelumnya berada dalam satu pemerintahan organisasi kemudian berada pada posisi berbeda dalam kontestasi dan dinamika Muktamar ke-35.
Muktamar ke-35 akhirnya menjadi titik balik. Kepemimpinan baru di bawah Gus Kikin bersama Rais Aam Kiai Miftachul Akhyar membawa harapan agar episode panjang dinamika internal segera ditutup dan NU kembali berkonsentrasi pada agenda yang lebih besar: pesantren, pendidikan, ekonomi umat, kaderisasi, serta kemaslahatan Nahdliyin.
Pelajaran paling penting dari perjalanan Lampung–Tambakberas adalah bahwa tidak ada satu gerbong yang selamanya berada di jalur yang sama.
Kemenangan Muktamar bukanlah akhir perjalanan. Ia justru menjadi awal dari ujian yang jauh lebih panjang.
Dan kini, setelah Tambakberas melahirkan kepemimpinan baru, pertanyaan publik bukan lagi sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Pertanyaan yang lebih besar adalah; Mengapa gerbong yang dahulu membawa Gus Yahya memenangkan pertarungan di Lampung, lima tahun kemudian tidak lagi tampil dengan kekuatan yang sama?
Jawabannya akan menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan NU memasuki abad keduanya.

























