JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
“Apa humor Gus Dur hari ini?”
Pertanyaan itu acapkali muncul setiap kali KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur selesai menyampaikan ceramah atau sambutan di suatu daerah.
Bukan tanpa alasan. Gus Dur memang dikenal sebagai sosok yang mampu mengemas persoalan serius dengan humor yang sederhana, segar, dan mengundang tawa.
Namun, di balik kelucuan itu, hampir selalu ada pesan yang hendak disampaikan.
Humor Gus Dur bukan sekadar lelucon untuk membuat orang tertawa. Tak jarang, candaan yang keluar dari mulutnya justru menjadi cara paling halus sekaligus paling telak untuk menyentil kesalahan, mengkritik kekuasaan, bahkan menegur kalangan NU sendiri.
Salah satu contohnya terjadi ketika Gus Dur memberikan pidato dalam pembukaan Muktamar ke-30 NU di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 21 Desember 1999.
Di hadapan para peserta muktamar, Gus Dur menyinggung fenomena yang menurutnya mulai mengkhawatirkan: orang NU mulai melupakan makna barokah dan terlalu sibuk membangun kedekatan dengan kekuasaan.
Gus Dur mengawali ceritanya dengan pengalaman ketika dirinya masih aktif sebagai mubalig.
Setiap kali dijemput di bandara atau stasiun, ia mengaku kerap mendengar ungkapan dari ketua panitia maupun pengurus cabang NU yang justru membuatnya prihatin.
“Alhamdulillah Pak, hubungan kita dengan Pak Bupati bagus sekali.”
Gus Dur kemudian melontarkan pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi menghantam tepat sasaran.
“Mulai kapan NU ini ingat bupati dan lupa kepada Allah?”
Sontak, kalimat tersebut menjadi humor yang mengundang gelak tawa.
Namun Gus Dur tidak berhenti pada tawa.
Ia mengaku memilih diam ketika mendengar kebanggaan pengurus NU terhadap kedekatan dengan pejabat. Di balik sikapnya yang terlihat santai dan tertawa, ternyata ada kegelisahan yang jauh lebih dalam.
“Tapi sebagai ketua NU saya berdiam diri saja, tertawa-tawa saja tapi hati saya menangis,” ungkap Gus Dur.
Bukan Sekadar Soal Bupati
Pesan Gus Dur sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar kritik terhadap pengurus NU yang dekat dengan kepala daerah.
Ia sedang mengingatkan agar NU tidak kehilangan jati dirinya hanya karena mengejar akses kepada kekuasaan.
Bagi Gus Dur, kekuatan NU justru berada pada akar rumput, pada kesederhanaan, keluguan, kelugasan, serta kemampuan membangun masyarakat dari bawah.
Karena itu, ia kemudian mengajak warga NU untuk meninggalkan orientasi yang terlalu bertumpu pada hubungan dengan elite kekuasaan.
“Lupakan itu semua, silahkan kembali membangun bangsa ini dari bawah, dengan keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan Nahdlatul Ulama.”
Kalimat itu menjadi penutup pesan Gus Dur yang jauh lebih serius daripada humor yang mengiringinya.
Menurut Gus Dur, cara tersebut merupakan jalan untuk ikut menyelamatkan bangsa yang ketika itu menghadapi ancaman dari berbagai sisi kehidupan.
“Hanyalah cara demikian kita bisa menyelamatkan bangsa kita yang terancam dari segenap segi kehidupannya sekarang ini.”
Humor yang Tetap Relevan
Dua puluh lebih tahun berlalu, humor Gus Dur tersebut masih terasa relevan untuk direnungkan.
Gus Dur menunjukkan bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan dengan kemarahan. Kadang, sebuah pertanyaan sederhana yang disampaikan sambil tertawa justru mampu meninggalkan tamparan yang lebih lama.
Ia membuat orang tertawa, tetapi setelah tawa reda, muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab: apakah organisasi masih berdiri di atas nilai dan pengabdian, atau mulai terlalu nyaman berada di dekat kekuasaan?
Di situlah kekuatan humor Gus Dur.
Humor menjadi medium untuk menjaga kewarasan, menyampaikan kritik, sekaligus mengingatkan agar NU tidak kehilangan orientasi dasarnya.
Gus Dur boleh membuat orang tertawa.
Tetapi di balik tawanya, selalu ada pesan yang meminta untuk direnungkan.

























