JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Ada pemandangan sederhana tetapi sarat makna dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/08/2026).
Di tengah dinamika dan persaingan menuju kepemimpinan NU, sejumlah tokoh muda dan ulama NU justru tampak duduk beriringan dalam satu baris. Tidak ada sekat. Tidak ada wajah tegang. Yang terlihat justru senyum khas para kiai dan Gus NU.
Dalam momen yang diabadikan kamera Liputan9news, tampak Gus Kikin, Gus Ipang Wahid, Gus Salam, Kiai Zulfa, Gus Rozin, Gus Yusuf, Kiai Imam Jazuli, dan Gus Aab duduk berdampingan dalam satu baris.
Ketika kamera Liputan9news mengarah kepada mereka, para tokoh tersebut merespons dengan acungan jempol dan senyum penuh kegembiraan. Sebuah gestur sederhana, tetapi pesannya terasa kuat adalah Bersaing boleh. Bersaudara harus.
Muktamar memang menjadi ruang untuk berkompetisi dalam gagasan dan kepemimpinan.
Setiap kandidat tentu membawa pengalaman, jaringan, serta visi yang berbeda tentang bagaimana NU harus bergerak menghadapi tantangan zaman. Namun, perbedaan pilihan tidak harus membuat persaudaraan terputus.
Justru pemandangan para tokoh yang duduk berdampingan tersebut memberikan gambaran bahwa kompetisi kepemimpinan dan persaudaraan NU dapat berjalan dalam satu ruang yang sama.
Bersaing untuk kemajuan NU boleh. Tetapi setelah kompetisi selesai, bekerja bersama untuk NU jauh lebih keren.
Pembukaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi.
Presiden Prabowo Subianto hadir membuka secara resmi Muktamar yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Ribuan muktamirin dari berbagai daerah berkumpul membawa aspirasi, gagasan, dan harapan untuk masa depan NU.
Muktamar bukan sekadar forum memilih pemimpin. Di sinilah NU membicarakan arah organisasi, merumuskan keputusan strategis, sekaligus membaca tantangan bangsa dan umat yang semakin kompleks.
Karena itu, sosok yang nantinya mendapatkan amanah memimpin NU membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar dukungan. NU membutuhkan visi.
Tantangan NU ke depan tidak semakin sederhana.
Pendidikan harus diperkuat. Kaderisasi harus berjalan. Kemandirian ekonomi warga perlu ditingkatkan. Transformasi digital harus dihadapi tanpa kehilangan tradisi. Persoalan sosial, lingkungan, kesehatan mental, hingga perubahan ekonomi global juga membutuhkan respons organisasi.
Di tengah tantangan tersebut, NU membutuhkan pemimpin yang mampu melihat lima, sepuluh, bahkan puluhan tahun ke depan, bukan hanya sibuk menyelesaikan persoalan hari ini.
Visi kepemimpinan harus mampu menjadikan kekuatan besar Nahdliyin sebagai energi untuk kemajuan umat dan bangsa.
Namun visi tanpa persaudaraan juga akan kehilangan daya.
Karena NU sejak awal dibangun bukan hanya dengan struktur organisasi, tetapi juga dengan tradisi keilmuan, ketawadukan, silaturahmi, dan persaudaraan.
Itulah mengapa satu foto dari pembukaan Muktamar ke-35 NU tersebut terasa istimewa.
Delapan tokoh duduk satu baris.
Senyum mengembang.
Jempol terangkat.
Di luar sana mungkin ada persaingan, perbedaan pilihan, dan dinamika politik organisasi. Tetapi di dalam satu bingkai, mereka menunjukkan bahwa ber-NU sejatinya adalah belajar menerima perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.
Muktamar boleh melahirkan pemenang. Tetapi NU tidak boleh melahirkan permusuhan.
Sebab setelah palu sidang diketuk dan keputusan ditetapkan, pekerjaan terbesar justru dimulai: membawa NU bergerak bersama menuju masa depan.
Bersaing untuk NU itu biasa. Bersatu setelah bersaing, itu baru luar biasa.
Indahnya ber-NU: berbeda pilihan, tetap satu barisan; berbeda gagasan, tetap satu persaudaraan.

























