CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Para ulama dan kasepuhan Jawa Barat berharap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tahun 2026 dapat melahirkan pemimpin yang mampu mengembalikan marwah jam’iyah. Nama KH. Said Aqil Siroj disebut sebagai salah satu sosok yang diharapkan mampu mengemban amanah tersebut.
Harapan itu dikemukakan oleh KH. Sofyan Yahya, Ulama sepuh pengasuh Pesantren Darul Maa’rif di Kabupaten Bandung. Beliau menegaskan, NU saat ini membutuhkan pemimpin yang kuat secara keilmuan, memiliki wibawa, serta istiqamah menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
“NU ini rumah besar. Marwahnya harus dijaga. Kami di Jabar berharap lahir pemimpin yang alim, tawadhu, dan mengerti adat budaya pesantren. Figur seperti Kang Said Aqil itu sudah teruji. Ilmunya luas, beliau paham kitab, paham bangsa, dan dicintai umat,” ujar KH. Sofyan Yahya dalam keterangan, Jumat (14/08/2026).
Menurut ajengan yang juga pernah menjadi anggota DPD RI periode 2009-2014, Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, NU butuh nahkoda yang bisa mempersatukan. Bukan hanya pandai berpolitik, tetapi juga kuat dalam spiritual dan khidmah kepada umat.
Di tempat lain, KH. Muhammad Djumhur, Imam Masjid Sang Cipta Rasa menyoroti pentingnya pemimpin yang dekat dengan akar rumput dan pesantren. Baginya, marwah NU terletak pada kedekatan para kiai dengan santri dan masyarakat.
“Masjid ini peninggalan para wali. Kami ingin NU kembali seperti dulu, menjadi tempat berteduh umat. Pemimpinnya harus mau turun ke bawah, ngaji ke pesantren, ngopeni kiai-kiai sepuh. Kami melihat Kang Said punya jejak itu. Ceramahnya menyejukkan, ilmunya bersanad, dan beliau tidak pernah jauh dari tradisi,” kata KH. Djumhur.
Ia juga menekankan bahwa proses pemilihan di Muktamar harus berlangsung secara jujur, demokratis, dan mengedepankan kemaslahatan jam’iyah.
“Kami tidak memaksa. Ini hanya harapan dari kasepuhan. Keputusan ada di tangan para muktamirin. Tapi kalau ditanya harapan kami, kami titipkan kepada beliau yang sudah terbukti khidmahnya untuk NU,” imbuhnya.
Kedua tokoh tersebut sepakat bahwa marwah NU bukan hanya soal struktur organisasi, tetapi juga soal adab, ilmu, dan keberpihakan kepada umat kecil.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 2026 mendatang. Forum tertinggi jam’iyah ini akan menentukan arah kebijakan dan kepengurusan PBNU untuk lima tahun ke depan.

























