• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
KH Zaim Lasem: Regenerasi PBNU di Persimpangan Zaman, Membaca Jejak Pengabdian Gus Gudfan sebagai Penerus Tradisi Ulama

KH Zaim Lasem: Regenerasi PBNU di Persimpangan Zaman, Membaca Jejak Pengabdian Gus Gudfan sebagai Penerus Tradisi Ulama

July 8, 2026
Perang Laporan Gus Ipul-Gus Lilur, Abd. Aziz Serukan Rekonsiliasi

Perang Laporan Gus Ipul-Gus Lilur, Abd. Aziz Serukan Rekonsiliasi

October 18, 2026
Sajadah Ekologi di Tengah Bara Karhutla: Ikhtiar Langit dan Bumi Santri Bina Insan Mulia

Sajadah Ekologi di Tengah Bara Karhutla: Ikhtiar Langit dan Bumi Santri Bina Insan Mulia

October 17, 2026
Refleksi Hari Kesaktian Pancasila, Hari Santri, dan Sumpah Pemuda, Gus Wal Soroti Intoleransi hingga Dampak Amandemen Konstitusi

PNIB Serukan Kembali ke Pancasila dan UUD 1945 Asli

October 17, 2026
Surat Terbuka untuk Prabowo, BEM PTNU Soroti Nasib Petani

BEM PTNU: BBM Langka, MBG Membengkak Ke Mana Arah Prioritas Anggaran Negara?

October 17, 2026
Jangan Cuma Sibuk Sidak! Komisi III DPRD Kabupaten Bekasi Ditantang Kawal Tuntas Proyek Jalan Milyaran Rupiah

Jangan Cuma Sibuk Sidak! Komisi III DPRD Kabupaten Bekasi Ditantang Kawal Tuntas Proyek Jalan Milyaran Rupiah

October 17, 2026
Puluhan Ribu Warga Antar Tuan Guru Bagu ke Peristirahatan Terakhir

Wafat! Puluhan Ribu Warga Antar Tuan Guru Bagu ke Peristirahatan Terakhir

October 17, 2026
Gus Lilur: Wahai Para Penyuap Jangan Berpura-pura soal Dugaan Suap Muktamar NU

Gus Lilur: Wahai Para Penyuap Jangan Berpura-pura soal Dugaan Suap Muktamar NU

October 17, 2026
Tokoh Agama dan Ormas Kemang Soroti Narasumber Toleransi

Tokoh Agama dan Ormas Kemang Soroti Narasumber Toleransi

October 16, 2026
Nusron Wahid

Dua Kali Mangkir, KPK Pertimbangkan Jemput Paksa Nusron Wahid

October 16, 2026
Dr. Nurul Huda SA, Staf Pengajar Programs Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Perlawanan dari Pesantren

October 16, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Sunday, October 18, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Berita Nasional

KH Zaim Lasem: Regenerasi PBNU di Persimpangan Zaman, Membaca Jejak Pengabdian Gus Gudfan sebagai Penerus Tradisi Ulama

liputan9news by liputan9news
July 8, 2026
in Nasional
A A
0
KH Zaim Lasem: Regenerasi PBNU di Persimpangan Zaman, Membaca Jejak Pengabdian Gus Gudfan sebagai Penerus Tradisi Ulama

KH Zaim Lasem: Regenerasi PBNU di Persimpangan Zaman, Membaca Jejak Pengabdian Gus Gudfan sebagai Penerus Tradisi Ulama (Foto: Ist/MSn)

540
SHARES
1.5k
VIEWS

REMBANG | LIPUTAN9NEWS
KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem selaku Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Lasem, Rembang Jawa Tengah menyampaikan pandangannya ditengah dinamika menjelang Muktamar NU yang sedianya akan digelar 1 – 5 Agustus. Gus Zaim menyampaikan, Setiap organisasi besar akan menghadapi ujian zaman. Perbedaan pandangan, dinamika musyawarah, hingga polemik yang muncul dalam setiap forum merupakan bagian dari proses menuju kematangan organisasi. Demikian pula dengan berbagai dinamika yang mewarnai Munas-Konbes PBNU 2026. Di balik berbagai perdebatan yang berkembang, tersimpan harapan besar agar Nahdlatul Ulama tetap berdiri kokoh sebagai rumah bersama bagi seluruh warganya.

Ditengah suasana tersebut, Gus Zaim menyimpulkan jika perhatian sebagian warga nahdliyin tertuju kepada sosok H Gudfan Arif Ghofur (Gus Gudfan). Bukan semata karena jabatan atau latar belakangnya, tetapi karena harapan akan hadirnya generasi penerus yang mampu merawat persatuan, memperkuat tradisi, sekaligus menjawab tantangan zaman dengan kebijaksanaan.

Warisan para ulama tidak diukur dari seberapa keras seseorang mempertahankan pendapatnya, tetapi dari kemampuannya menjaga persaudaraan, merawat kepercayaan umat, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Di sinilah makna kepemimpinan menemukan hakikatnya, “bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling mampu menjaga amanah”, terang Gus Zaim.

Munas-Konbes dan Muktamar NU akan menjadi bagian dari sejarah yang terus dikenang. Namun, sejarah tidak berhenti pada perdebatan. Sejarah akan mencatat siapa yang mampu menghadirkan keteduhan di tengah perbedaan, membangun persatuan di tengah dinamika, dan menjadikan organisasi tetap tegak dengan semangat khidmah kepada umat.

BeritaTerkait:

Jenis kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan NU hari ini?

Restu Kiai Mengalir, Gus Gudfan Kian Kokoh Menuju Kursi Ketua Umum PBNU

KH Alwi Hasan Arsyad: Poros Tengah itu adalah Gus Gudfan, Solusi Abad Kedua NU

Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut Marut PBNU

Ketika Amanah Menjadi Jalan Pengabdian

sejarah selalu menghadirkan sosok-sosok yang dipersiapkan untuk melanjutkan estafet perjuangan. Mereka tidak hanya mewarisi nama besar, tetapi juga memikul amanah yang jauh lebih berat: menjaga nilai, merawat tradisi, dan menghadirkan manfaat bagi umat. masyarakat biasa menyebut dengan nama Gus Gudfan figur yang sedang menapaki jalan pengabdian tersebut.

Sebagian kalangan menyebutnya sebagai “Takdir Ilahi Sang Pewaris Dua Wali.” Sebuah ungkapan yang lahir dari rasa hormat dan harapan, bahwa nilai-nilai dakwah, keilmuan, serta kepedulian sosial yang diwariskan para ulama akan terus hidup melalui generasi penerus. Lebih dari sekadar gelar, ungkapan itu menjadi pengingat bahwa setiap amanah harus dibuktikan dengan kerja nyata, akhlak yang mulia, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul tradisi tanpa menutup diri terhadap kemajuan. Pemimpin yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, akhlak sebagai fondasi, dan pelayanan kepada umat sebagai tujuan utama. Nilai-nilai inilah yang diharapkan terus tumbuh dalam setiap langkah pengabdian Gus Gudfan Arif Ghofur, ujar Gus Zaim.

Pada akhirnya, sejarah tidak dibangun oleh gelar, melainkan oleh keteladanan. Penghormatan bukan lahir karena nama besar, tetapi karena keikhlasan dalam melayani dan konsistensi dalam memperjuangkan kebaikan. Jika amanah dijalankan dengan penuh integritas, maka warisan yang paling berharga bukanlah pujian manusia, melainkan jejak manfaat yang terus dirasakan oleh generasi-generasi setelahnya.

Pewarisan Spiritual: Kesinambungan Nilai-Nilai Tasawuf dan Akhlak dalam Diri Gus Gudfan Arif Ghofur

Dalam tradisi pesantren, pewarisan spiritual tidak dipahami sebagai sesuatu yang diwariskan melalui garis keturunan semata. Ia merupakan proses panjang pembentukan karakter, penghayatan terhadap ilmu, kedekatan dengan para guru, serta komitmen untuk mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, seorang pewaris sejati adalah mereka yang mampu menerjemahkan ajaran para ulama menjadi teladan nyata bagi masyarakat.

Sosok Gus Gudfan menurut Gus Zaim dipandang membawa kesinambungan nilai-nilai tersebut. Ia dinilai tumbuh dalam lingkungan pesantren yang menempatkan akhlak di atas kepentingan pribadi, musyawarah di atas ego, serta pengabdian kepada umat sebagai tujuan utama kehidupan. Lingkungan inilah yang membentuk cara pandangnya dalam menjalankan amanah, baik di ranah keagamaan, sosial, maupun organisasi.

Nilai-nilai tasawuf yang diwariskan para ulama tidak berhenti pada praktik ibadah individual, tetapi tercermin dalam sikap tawadhu’, kesabaran menghadapi perbedaan, keikhlasan dalam melayani, serta kemampuan menjaga persatuan di tengah berbagai dinamika.

Pewarisan Intelektual : Melalui Pendidikan Pesantren dan Sanad Keilmuan dalam Diri Gus Gudfan Arif Ghofur

Pewarisan intelektual merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan ilmu pengetahuan Islam. Seorang kiai atau ulama tidak hanya mewariskan pengetahuan melalui kitab-kitab yang diajarkan, tetapi juga melalui sanad keilmuan, metode berpikir, etika belajar, dan keteladanan dalam mengamalkan ilmu. Karena itu, keberhasilan seorang penerus tidak diukur semata dari kapasitas akademiknya, melainkan dari kemampuannya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan yang telah dibangun oleh para pendahulunya.

Gus Gudfan Arif Ghofur tumbuh dalam lingkungan pesantren yang sarat dengan tradisi keilmuan tersebut. Pendidikan yang diperoleh di lingkungan pesantren diyakini telah membentuk cara pandangnya terhadap agama, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui proses pembelajaran yang berlandaskan sanad, seorang santri tidak hanya menerima ilmu sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga, diamalkan, dan diteruskan kepada generasi berikutnya, beber Gus Zaim.

Gus Gudfan dipandang sebagai bagian dari generasi yang membawa kesinambungan tradisi intelektual pesantren, harapan itu tidak berhenti pada penguasaan ilmu keislaman, melainkan juga pada kemampuan mengaktualisasikan nilai-nilai pesantren dalam menjawab tantangan kehidupan modern, baik melalui penguatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, maupun pengembangan organisasi.

Pewarisan intelektual pada akhirnya bukan sekadar menjaga warisan masa lalu, melainkan menghidupkan kembali semangat ijtihad, musyawarah, dan pengabdian yang menjadi ciri khas ulama Nusantara. Dengan tetap berpegang pada sanad keilmuan yang kokoh, tradisi pesantren diharapkan terus melahirkan pemimpin yang mampu memadukan kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, dan kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan zaman.

Pewarisan Sosial: Pengabdian kepada Masyarakat, Organisasi, dan Bangsa dalam Diri Gus Gudfan Arif Ghofur

Ilmu dan spiritualitas tidak berhenti pada pembentukan pribadi, tetapi harus diwujudkan dalam pengabdian sosial. Seorang penerus ulama tidak hanya dituntut memiliki kedalaman ilmu dan kemuliaan akhlak, melainkan juga kemampuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat, memperkuat organisasi, serta memberikan kontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengabdian inilah yang menjadi ukuran nyata dari keberhasilan pewarisan nilai-nilai kepesantren.

Gus Gudfan Arif Ghofur menunjukkan komitmen terhadap dimensi pengabdian tersebut melalui keterlibatannya dalam berbagai aktivitas sosial, pendidikan, organisasi, dan pemberdayaan masyarakat. Berangkat dari lingkungan pesantren, membawa semangat bahwa kepemimpinan bukanlah sarana memperoleh kehormatan, melainkan amanah untuk melayani dan menghadirkan kemaslahatan.

Nilai pengabdian dalam tradisi pesantren berakar pada prinsip khidmah, yakni ilmu, tenaga, dan pemikiran demi kepentingan umat. Prinsip ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang pemimpin harus memberikan manfaat yang nyata, membangun solidaritas sosial, memperkuat persatuan, serta menjadi penghubung antara nilai-nilai keagamaan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Dalam konteks organisasi, keterlibatan Gus Gudfan dipandang sebagai bagian dari upaya melanjutkan tradisi pengabdian para ulama Nahdlatul Ulama yang menempatkan organisasi sebagai wadah perjuangan untuk menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, memperkuat pendidikan, membangun kemandirian ekonomi umat, serta memperkokoh persatuan bangsa. Pengabdian dalam organisasi bukan sekadar menjalankan fungsi administratif, melainkan menghadirkan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan, kolaborasi, dan kemanfaatan bersama.

Sementara itu, dalam kehidupan berbangsa, pengabdian seorang tokoh pesantren memiliki makna strategis sebagai jembatan antara nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Tradisi ulama Nusantara mengajarkan bahwa mencintai tanah air, menjaga persatuan, menghormati keberagaman, dan berkontribusi terhadap pembangunan nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab keagamaan.

Oleh karena itu, pewarisan sosial dalam diri Gus Gudfan Arif Ghofur sebagai harapan agar nilai-nilai pengabdian yang diwariskan oleh tradisi pesantren terus hidup melalui karya nyata. Pada akhirnya, warisan sosial seorang pemimpin tidak diukur dari kedudukan yang disandangnya, tetapi dari sejauh mana kehadirannya mampu memberikan manfaat, memperkuat persaudaraan, dan meninggalkan jejak pengabdian yang dirasakan oleh umat dan negara.

Lebih lanjut Gus Zaim menyampaikan, Sudah Saatnya PBNU Dipimpin Generasi Penerus yang Berakar pada Tradisi dan Berorientasi Masa Depan.

Setiap periode kepemimpinan Nahdlatul Ulama menghadirkan tantangan yang berbeda. Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dinamika ekonomi umat, dan semakin kompleksnya persoalan kebangsaan, PBNU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu menjaga warisan para muassis, tetapi juga memiliki visi untuk membawa organisasi menjawab tantangan zaman. Dalam hal ini Gus Gudfan Arif Ghofur merupakan figur yang layak dipertimbangkan untuk memimpin PBNU pada masa mendatang.

Kelayakan tersebut tidak semata bertumpu pada latar belakang keluarga pesantren, melainkan pada perpaduan antara tradisi keilmuan, pengalaman organisasi, kemampuan manajerial, dan komitmen terhadap pengabdian. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kepemimpinan lahir dari proses panjang pembentukan karakter, bukan sekadar popularitas ataupun kepentingan politik sesaat.

Gus Gudfan dipandang mewakili generasi baru nahdliyin yang tumbuh dalam lingkungan pesantren, memahami nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus memiliki pengalaman dalam mengelola amanah organisasi. Kombinasi ini dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat konsolidasi internal PBNU sekaligus memperluas peran organisasi dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan pemberdayaan umat.

Lebih dari itu, Gus Zaim menambahkan Tanpa Pondok Pesantren dan para Kyai Tidak akan lahir NU, dan tidak akan terbentuk PBNU.

Maka di setiap titik pada kepengurusan NU dan badan otonom (banom) maupun lembaga, seharusnya kesemuanya berdiri diatas kepentingan Pondok Pesantren dan para Kyai, terang Gus Zaim.

Kepemimpinan PBNU ke depan membutuhkan figur yang mampu merangkul seluruh elemen Nahdlatul Ulama tanpa terjebak dalam polarisasi. Sosok yang mengutamakan musyawarah di atas konflik, persatuan di atas kepentingan kelompok, dan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi. Dalam perspektif para pendukungnya, karakter kepemimpinan tersebut tercermin dalam diri Gus Gudfan.

Regenerasi bukan sekadar pergantian tokoh, tetapi momentum untuk memastikan bahwa nilai-nilai perjuangan para ulama tetap hidup dalam kepemimpinan organisasi. Oleh karena itu, nama Gus Gudfan dalam kepemimpinan PBNU merupakan sosok yang tepat melalui perpaduan antara kesinambungan tradisi dan kemampuan menjawab tantangan masa depan, Pungkas Gus Zaim.

(WLY/MSN)

Tags: Generasi PBNUGus GudfanGUs ZaimPersimpangan ZamanRegenerasi PBNUTradisi Ulam
Share216Tweet135SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Jenis kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan NU hari ini?
Opini

Jenis kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan NU hari ini?

by liputan9news
August 19, 2026
0

Achmad Baha'ur Rifqi, Aktivis Muda NU

Read more
Gus Baha' Mendoakan dan Mendukung Gus Gudfan sebagai Ketum PBNU

Restu Kiai Mengalir, Gus Gudfan Kian Kokoh Menuju Kursi Ketua Umum PBNU

August 6, 2026
KH Alwi Hasan Arsyad: Poros Tengah itu adalah Gus Gudfan, Solusi Abad Kedua NU

KH Alwi Hasan Arsyad: Poros Tengah itu adalah Gus Gudfan, Solusi Abad Kedua NU

July 15, 2026
Gus Gudfan

Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut Marut PBNU

July 12, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2632
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

760
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Perang Laporan Gus Ipul-Gus Lilur, Abd. Aziz Serukan Rekonsiliasi

Perang Laporan Gus Ipul-Gus Lilur, Abd. Aziz Serukan Rekonsiliasi

October 18, 2026
Sajadah Ekologi di Tengah Bara Karhutla: Ikhtiar Langit dan Bumi Santri Bina Insan Mulia

Sajadah Ekologi di Tengah Bara Karhutla: Ikhtiar Langit dan Bumi Santri Bina Insan Mulia

October 17, 2026
Refleksi Hari Kesaktian Pancasila, Hari Santri, dan Sumpah Pemuda, Gus Wal Soroti Intoleransi hingga Dampak Amandemen Konstitusi

PNIB Serukan Kembali ke Pancasila dan UUD 1945 Asli

October 17, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In