• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Andi Najmi Fuaidi, Ketua LPBH PBNU Masa Khidmat 2010–2015

Menang Muktamar, Kalah Ukhuwah

August 14, 2026
Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

September 25, 2026
MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

September 25, 2026
Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

September 25, 2026
Imam Jazuli Foundation Gelar Gala Dinner Pasca Muktamar, Dorong Rekonsiliasi dan Penguatan Ukhuwah Nahdliyin 

Imam Jazuli Foundation Gelar Gala Dinner Pasca Muktamar, Dorong Rekonsiliasi dan Penguatan Ukhuwah Nahdliyin 

September 25, 2026
Imam Jazuli Foundation Buka Workshop, Rumah Tangga Nyai Kunci Perjuangan Pesantren?

Imam Jazuli Foundation Buka Workshop, Rumah Tangga Nyai Kunci Perjuangan Pesantren?

September 24, 2026
Ali Masykur Musa Bahas Peran Naqsyabandiyah di Forum Dunia

Ali Masykur Musa Bahas Peran Naqsyabandiyah di Forum Dunia

September 24, 2026
Ali Masykur Musa Pimpin Naqshbandi Dunia

Ali Masykur Musa Pimpin Naqshbandi Dunia

September 24, 2026
Sulaiman Djaya

Tentang Penulisan Puisi – Robert Frost dan Walt Whitman

September 24, 2026
Dr. Nurul Huda SA, Staf Pengajar Programs Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Daya Pesona Perpustakaan

September 24, 2026
Gus Ipul Siapkan Somasi Atas Tudingan Aliran Rp480 Miliar ke Muktamar ke-35 NU

Gus Ipul Siapkan Somasi Atas Tudingan Aliran Rp480 Miliar ke Muktamar ke-35 NU

September 23, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Friday, September 25, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Menang Muktamar, Kalah Ukhuwah

Oleh: Andi Najmi Fuaidi

liputan9news by liputan9news
August 14, 2026
in Opini
A A
0
Andi Najmi Fuaidi, Ketua LPBH PBNU Masa Khidmat 2010–2015

Andi Najmi Fuaidi, Ketua LPBH PBNU Masa Khidmat 2010–2015

519
SHARES
1.5k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) sejatinya bukan sekadar agenda formal lima tahunan untuk menghitung suara, menyusun program kerja, atau menentukan suksesi kepemimpinan di jajaran syuriyah dan tanfidziyah. Bagi warga Nahdliyin, muktamar jauh lebih besar daripada itu. Ia adalah ruang refleksi kolektif, tempat organisasi sejenak berhenti, menengok perjalanan, mengevaluasi diri, lalu merumuskan jalan ke depan.

Dalam pengertian yang sederhana, muktamar juga seperti “pijat refleksi” bagi organisasi. Ia hadir untuk mengendurkan otot-otot jam’iyyah yang mungkin kaku setelah bertahun-tahun berhadapan dengan perubahan sosial, ekonomi, politik, dan tantangan zaman.

Namun, muktamar NU bukan hanya forum organisasi. Ia juga merupakan ruang kultural yang merawat kerinduan warga. Dari berbagai pelosok Nusantara, ribuan Nahdliyin datang untuk bersilaturahim, bertemu para kiai, menyambung persaudaraan, sekaligus merasakan kembali denyut kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar NU.

Karena itu, muktamar sesungguhnya memiliki wajah yang jauh lebih luas daripada sekadar arena persidangan. Di luar ruang-ruang resmi, kehidupan muktamar tumbuh dalam pasarpasar dadakan, kuliner khas daerah, para pedagang kecil, pesantren yang menjadi tempat singgah, hingga perjumpaan batin para jamaah yang datang mencari keberkahan.

BeritaTerkait:

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua

Politik Energi Nasional: Relasi Negara, Pasar, dan Masyarakat

Muktamar NU Tuntas! 3.000 Lebih Peserta Pulang Bawa Keputusan Besar, Kepemimpinan Baru Resmi Dimulai

Muktamar NU Bikin Jobang Makin Ramah! Posko Lintas Agama Bagikan 10 Ribu Bakso Gratis untuk Muktamirin

Muktamar adalah pesta kultural sekaligus wisata spiritual dan ekonomi warga Nahdliyin. Sidang organisasi hanyalah salah satu bagian dari berkah sosial yang menyertainya. Karena itu pula, menjadi sebuah ironi apabila forum yang semestinya mempertemukan justru melahirkan perpecahan. Muktamar yang seharusnya menjadi ruang silaturahim berubah menjadi arena polarisasi, saling curiga, gontokgontokan, bahkan konflik internal yang meninggalkan luka panjang.

Ketika sebuah muktamar berakhir dengan retaknya ukhuwah, ada sesuatu yang perlu kita renungkan bersama. Jangan-jangan kita terlalu sibuk memenangkan perebutan posisi, tetapi lupa menjaga rumah besar yang hendak kita pimpin.

Kaidah fikih yang sangat akrab mengingatkan: Dar’ul mafasidi muqaddamun ‘ala jalbil mashalih. (Menolak kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan)

Mengejar jabatan struktural dengan mengorbankan kohesi sosial warga NU adalah bentuk mafsadah yang nyata. Sebab, jabatan pada akhirnya hanya amanah yang bersifat sementara, sementara ukhuwah adalah modal sosial yang diwariskan lintas generasi.

Untuk mengembalikan marwah muktamar, NU perlu menengok kembali salah satu akar penting sejarahnya: kemandirian.

Muktamar tidak seharusnya menjadi forum yang mudah dipengaruhi oleh kekuatan di luar jam’iyyah. Karena itu, salah satu ikhtiar yang realistis adalah menghidupkan kembali tradisi pembiayaan swadaya dan gotong royong warga, sebagaimana pernah menjadi bagian dari tradisi NU pada masa lalu.

Dulu, muktamar bukan semata-mata urusan elite organisasi. Struktur NU dari tingkat cabang hingga warga akar rumput ikut merasa memiliki. Ada yang menyumbangkan beras, ayam, ikan, sayuran, tenaga, tempat tinggal, kendaraan, hingga iuran uang. Semua dilakukan dengan kesadaran sederhana: muktamar adalah hajat bersama.

Gotong royong semacam itu memang tampak sederhana. Tetapi di balik beras, ayam, ikan, dan uang yang dikumpulkan warga, sesungguhnya terdapat sesuatu yang jauh lebih besar: kedaulatan organisasi.

Sebab, organisasi yang mampu membiayai hajat besarnya sendiri akan memiliki ruang yang lebih luas untuk menentukan sikap secara mandiri. Kemandirian finansial pada akhirnya bukan hanya soal neraca pemasukan dan pengeluaran, melainkan juga soal kebebasan menentukan arah organisasi.

Semakin besar ketergantungan kepada pihak luar, semakin besar pula kemungkinan munculnya kepentingan yang ikut masuk. Sebaliknya, semakin kuat partisipasi warga, semakin kokoh pula posisi NU sebagai jam’iyyah yang berdiri di atas kaki sendiri.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan KH Said Aqil Siroj merupakan mata rantai penting dalam perjalanan gagasan kemandirian NU. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari meletakkan fondasi keulamaan yang berakar pada pesantren, masyarakat, dan kemandirian ekonomi, sehingga otoritas keagamaannya tidak mudah didikte oleh kekuasaan. Spirit tersebut kemudian diterjemahkan secara organisatoris oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan membangun NU sebagai jam’iyyah yang hidup dari kekuatan jamaah, pesantren, dan gotong royong warga.

Pada era berikutnya, Gus Dur menjaga independensi NU sebagai kekuatan masyarakat sipil dengan sikap kritisnya terhadap kekuasaan, sementara KH Said Aqil Siroj menegaskan pentingnya kemandirian warga dan keteguhan sikap jam’iyyah di tengah tarik-menarik kepentingan politik dan ekonomi. Dari keempat tokoh tersebut, tampak satu benang merah yang kuat: NU akan tetap bermartabat apabila mampu berdiri di atas kekuatan jamaahnya sendiri, menjaga jarak yang sehat dari kekuasaan, dan menjadikan kemaslahatan umat sebagai orientasi utama perjuangannya.

Semangat Mbah Wahab khususnya mengingatkan kita bahwa NU sejak awal bukan organisasi yang dibangun dari ruang elite. NU tumbuh dari pesantren, langgar, pasar, kampung, dan jaringan masyarakat. Kekuatan jam’iyyah justru terletak pada kemampuannya mengorganisasi warga dan menggerakkan kekuatan sosial dari bawah.

Karena itu, kemandirian NU bukan gagasan baru. Ia merupakan bagian dari DNA awal jam’iyyah. NU menjadi besar bukan karena kemewahan fasilitas, melainkan karena keikhlasan warga.

NU tumbuh bukan karena ketergantungan kepada kekuasaan, tetapi karena jaringan kiai, pesantren, santri, dan masyarakat yang merasa memiliki organisasi ini.

Mbah Wahab mengajarkan satu hal penting: organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu menggerakkan masyarakat, bukan organisasi yang sekadar digerakkan oleh kekuatan di luar dirinya.

Karena itu, sudah waktunya kita memikirkan kembali model muktamar NU ke depan.

Muktamar jangan sampai hanya menjadi pesta elite yang menentukan siapa mendapatkan jabatan dan siapa kehilangan posisi. Muktamar harus kembali menjadi pesta warga Nahdliyin.

Pesta yang teduh. Pesta yang menggembirakan. Pesta yang menghidupkan ekonomi rakyat. Pesta yang mempertemukan kiai, santri, pengurus, pedagang kecil, petani, nelayan, profesional, anak muda, dan seluruh lapisan warga NU.

Jika pembiayaan muktamar kembali bertumpu pada semangat gotong royong, warga tidak hanya datang sebagai penonton. Mereka menjadi pemilik.

Dan ketika warga merasa memiliki, mereka akan menjaga muktamar dengan hati. Tidak mudah terprovokasi. Tidak mudah dipecah. Tidak gampang ditarik ke dalam kepentingan jangka pendek. Inilah sesungguhnya makna kemandirian yang perlu dikembalikan.

Dunia memang berubah. Cara orang berorganisasi berubah. Teknologi berubah. Biaya penyelenggaraan semakin besar. Tetapi prinsip dasarnya tidak pernah berubah: NU harus tetap tumbuh dari akar rumput.

Mungkin sudah waktunya kita bertanya kembali: apa arti muktamar jika warga yang menjadi pemilik tradisi justru semakin jauh dari pusat pengambilan keputusan? Apa arti kemenangan jika setelah palu sidang diketuk, yang tersisa adalah luka dan kecurigaan?

Muktamar bukan sekadar tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Muktamar adalah tentang bagaimana NU tetap menjadi rumah bersama. Karena itu, menghidupkan kembali gotong royong warga bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu. Ia adalah ikhtiar untuk menemukan kembali masa depan NU.

Sudah saatnya muktamar kembali kepada khittah kemandirian: dari warga, oleh warga, dan untuk kemaslahatan warga.

Dengan begitu, muktamar tidak hanya melahirkan kepemimpinan baru, tetapi juga memperbarui energi persaudaraan. Bukan sekadar menghasilkan keputusan organisasi, tetapi mengembalikan rasa memiliki.
Pada akhirnya, NU yang besar bukanlah NU yang paling mahal muktamarnya, melainkan NU yang paling kuat rasa memiliki warganya.

Andi Najmi Fuaidi, Ketua LPBH PBNU Masa Khidmat 2010–2015

Tags: Andi Najmi FuaidiKalah UkhuwahMengan MuktamarNahdlatul Ulama
Share208Tweet130SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua
Opini

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua

by liputan9news
September 13, 2026
0

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua

Read more
Amsar A. Dulmanan, NU dan Politik Transaksional: Telaah Kritis atas Relasi Ulama dan Negara

Politik Energi Nasional: Relasi Negara, Pasar, dan Masyarakat

September 3, 2026
Gus Ipul

Muktamar NU Tuntas! 3.000 Lebih Peserta Pulang Bawa Keputusan Besar, Kepemimpinan Baru Resmi Dimulai

August 31, 2026
Muktamar NU Bikin Jobang Makin Ramah! Posko Lintas Agama Bagikan 10 Ribu Bakso Gratis untuk Muktamirin

Muktamar NU Bikin Jobang Makin Ramah! Posko Lintas Agama Bagikan 10 Ribu Bakso Gratis untuk Muktamirin

August 30, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2632
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

760
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

September 25, 2026
MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

September 25, 2026
Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

September 25, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In