CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Perjalanan panjang Presidium Penyelamat Organisasi dan Muktamar Luar Biasa (MLB) Nahdlatul Ulama akhirnya memasuki babak akhir. Setelah sekitar 18 bulan melakukan berbagai gerakan dan menyuarakan agenda perubahan di tubuh Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, Presidium MLB NU resmi dibubarkan.
Keputusan tersebut disampaikan salah satu tokoh sentral pergerakan MLB NU, KH Imam Jazuli, Kamis (10/9/2026).
Pembubaran Presidium MLB NU diputuskan dalam pertemuan yang berlangsung selama dua hari, 9–10 September 2026, di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Jawa Barat.
“Setelah 18 bulan didirikan dan melakukan berbagai pergerakan, alhamdulillah hari ini kami bersepakat membubarkan Presidium MLB NU,” ujar Kiai Imam Jazuli dalam keterangannya.
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia tersebut, pembubaran dilakukan setelah seluruh agenda dan misi yang diperjuangkan selama perjalanan gerakan dinilai telah mencapai hasil.
“Alhamdulillah seluruh misi dan agenda telah berhasil dengan sempurna. Kami akan kupas tuntas perjalanan lengkapnya dalam sebuah buku yang akan terbit tidak lama lagi,” ungkapnya.
Kiai Imam juga menegaskan bahwa setelah Presidium MLB NU dibubarkan, para tokoh yang selama ini terlibat dalam gerakan tersebut akan kembali memberikan perhatian penuh kepada dunia pesantren dan pendidikan generasi bangsa.
“Kami semua akan kembali fokus secara total ke pesantren untuk membangun generasi hebat Indonesia,” terangnya.
Pertemuan pembubaran Presidium MLB NU di Pesantren Bina Insan Mulia tersebut dihadiri sejumlah tokoh yang dikenal memiliki peran penting dalam perjalanan gerakan. Di antaranya adalah KH Imam Jazuli, KH Aguk Irawan MN, KH Abdussalam Shohib
Ketiganya merupakan figur yang selama perjalanan dinamika MLB NU dikenal aktif menyuarakan gagasan perubahan, evaluasi tata kelola organisasi, hingga dorongan agar berbagai persoalan internal Nahdlatul Ulama diselesaikan melalui mekanisme permusyawaratan organisasi.
KH Imam Jazuli sendiri dikenal sebagai salah satu motor utama gerakan Presidium MLB NU. Sebelum Muktamar ke-35 NU berlangsung, namanya kerap muncul dalam berbagai dinamika dan pernyataan yang berkaitan dengan evaluasi perjalanan organisasi NU.
Perjalanan Presidium Penyelamat Organisasi dan MLB NU tidak muncul dalam ruang kosong. Gerakan ini berkembang dari berbagai kritik dan keresahan terhadap kondisi internal PBNU serta tata kelola organisasi.
Sejumlah pemberitaan sebelumnya mencatat bahwa wadah Presidium Penyelamat Organisasi dan MLB NU mulai terbentuk pada Agustus 2024 di Madura. Gerakan tersebut kemudian menghimpun sejumlah kiai dan tokoh NU yang menaruh perhatian terhadap berbagai persoalan organisasi.
Dalam perjalanan berikutnya, Presidium secara konsisten menyuarakan sejumlah agenda, mulai dari evaluasi tata kelola organisasi, persoalan transparansi, hingga dorongan percepatan Muktamar atau pelaksanaan Muktamar Luar Biasa sebagai jalan penyelesaian atas dinamika internal PBNU.
Liputan9news sebelumnya juga mencatat keterlibatan KH Imam Jazuli dalam berbagai pernyataan kritis mengenai perjalanan NU. Pada September 2025, misalnya, Liputan9news memuat pandangan KH Imam Jazuli yang ketika itu disebut sebagai Ketua Steering Committee Muktamar Luar Biasa NU.
Gerakan tersebut semakin mendapatkan perhatian publik ketika dinamika internal PBNU menghangat pada akhir 2025. Presidium Penyelamat Organisasi dan MLB NU kemudian secara terbuka menyampaikan sikap terhadap krisis yang terjadi di lingkungan PBNU serta mendorong penyelesaian melalui mekanisme organisasi.
Selanjutnya, memasuki tahun 2026, perjalanan gerakan Presidium MLB NU terus bersinggungan dengan dinamika menuju pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
KH Imam Jazuli tetap menjadi salah satu figur yang aktif menyampaikan pandangan terkait berbagai persoalan strategis menjelang Muktamar. Ia juga beberapa kali melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional dan kiai sepuh untuk membicarakan masa depan organisasi dan dunia pesantren. Salah satu pertemuan yang mendapat perhatian publik adalah dialog Kiai Imam Jazuli dengan KH Ma’ruf Amin di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, pada Juli 2026.
Menjelang dan selama Muktamar ke-35 NU, dua figur yang dikenal dekat dengan perjalanan gerakan Presidium, yakni KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam dan KH Imam Jazuli, kembali menjadi perhatian dalam dinamika kontestasi kepemimpinan NU.
Sebuah ulasan pasca-Muktamar menggambarkan keduanya sebagai figur penting dalam perjalanan Presidium Penyelamat Organisasi dan MLB NU yang membawa keresahan serta aspirasi perubahan dari kalangan akar rumput Nahdliyin.
Kini, setelah Muktamar ke-35 NU selesai dan kepengurusan baru PBNU periode 2026–2031 mulai memasuki masa khidmatnya, Presidium MLB NU memilih mengakhiri perjalanan organisasinya.
Meski secara organisasi Presidium MLB NU telah resmi dibubarkan, Kiai Imam Jazuli memastikan perjalanan panjang gerakan selama sekitar 18 bulan tersebut tidak akan hilang begitu saja.
Ia menyebut seluruh perjalanan, dinamika, perjuangan, serta agenda yang dilakukan akan dituangkan secara lebih lengkap dalam sebuah buku.
Pernyataan itu sekaligus menandai bahwa pembubaran Presidium MLB NU bukan sekadar akhir sebuah wadah pergerakan, tetapi menjadi penutup satu fase dinamika panjang dalam perjalanan Nahdlatul Ulama menjelang dan menuju Muktamar ke-35 NU.
Bagi para tokoh yang selama ini berada di dalamnya, fase berikutnya adalah kembali ke basis utama perjuangan; pesantren, pendidikan, dan pembangunan generasi Indonesia.
Dengan keputusan yang diambil pada 10 September 2026, perjalanan Presidium Penyelamat Organisasi dan MLB NU yang selama sekitar satu setengah tahun menjadi bagian dari dinamika besar Nahdlatul Ulama pun resmi berakhir.
Namun, seperti disampaikan Kiai Imam Jazuli, cerita lengkap tentang apa yang terjadi di balik perjalanan gerakan tersebut tampaknya masih akan berlanjut—kali ini melalui sebuah buku yang dijanjikan akan segera diterbitkan.
“Alhamdulillah seluruh misi dan agenda telah berhasil dengan sempurna,” pungkasnya.


























