JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Ada sesuatu yang kembali hidup di Santiago Bernabéu. Teriakan “Hey Jude” kembali menggema, seiring Jude Bellingham menemukan lagi wajah terbaiknya bersama Real Madrid. Gelandang asal Inggris itu tampil luar biasa pada awal musim 2026/27.
Setelah melewati dua musim yang tidak sepenuhnya mulus akibat cedera bahu, Bellingham kini terlihat kembali menjadi pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan.
Dalam tiga laga pertama La Liga, kontribusinya sudah mencolok: dua gol, dua assist, satu gol bunuh diri yang dipaksakan melalui tekanan permainannya, serta satu tembakan yang membentur tiang.
Performa tersebut memperlihatkan bahwa Bellingham bukan sekadar gelandang. Ia kembali menjadi pemain yang punya pengaruh besar di sepertiga akhir lapangan.
Hampir semuanya sesuai dengan bagaimana Jose Mourinho menggambarkan Bellingham sebelum pertandingan.
“Dia adalah pemain yang unik dan sangat penting bagi tim. Bellingham memiliki banyak kualitas berbeda, mulai dari fisik dan mental hingga taktik,” komentar Mourinho.
Dia melanjutkan: “Jude juga memiliki kemampuan untuk merebut bola, melakukan pressing, mencetak gol, dan memainkan bola-bola udara. Dia benar-benar pemain yang luar biasa.”
Apa yang dikatakan Mourinho kemudian terlihat nyata di lapangan.
Saat menghadapi Málaga, Bellingham hadir di hampir setiap area lapangan. Ia menjadi pemain yang terus bergerak, menekan, membawa bola dan membuka ruang bagi rekan-rekannya.
Dua gol pertama Real Madrid melawan Málaga sama-sama lahir dari permainan agresif Bellingham. Pola tersebut juga mengingatkan pada situasi ketika ia memberikan umpan kepada Vinicius dalam pertandingan melawan Real Sociedad.
Ketika Jude memberi isyarat untuk menyerang, pemain-pemain Real Madrid lainnya seperti tahu apa yang harus dilakukan. Mereka mengikutinya.
Bagi Mourinho, karakter tersebut justru menjadi salah satu kekuatan terbesar Bellingham.
“Bellingham menuntut banyak dari dirinya sendiri dan dari orang lain. Itu sesuatu yang sangat saya hargai,” puji Mourinho.
Pengakuan tersebut seolah menunjukkan bahwa Mourinho bukan hanya melihat Bellingham sebagai pemain berbakat, tetapi juga sebagai sosok yang mampu menjadi motor permainan tim.
Dan hubungan itu berjalan dua arah. Sebagian besar perubahan permainan Bellingham saat ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Mourinho dalam memberinya peran yang lebih bebas.
Bellingham sendiri mengaku merasakan perubahan tersebut.
“Sekarang saya memiliki sedikit lebih banyak kebebasan untuk bermain, saya diizinkan untuk bergerak maju atau mundur tergantung pada kebutuhan tim. Saya sangat menikmatinya dan itulah mengapa saya bermain bagus.”
Kalimat itu mungkin menjadi kunci dari kebangkitan Bellingham. Ia tidak lagi terlalu terikat pada satu zona.
Ia diberi kebebasan untuk membaca permainan. Dan ketika Bellingham mendapatkan kebebasan, ancamannya menjadi jauh lebih besar.
Menariknya, pemahaman Mourinho terhadap Bellingham bukan muncul secara tiba-tiba.
Pelatih berjuluk “The Special One” itu memiliki pengalaman menghadapi Bellingham ketika masih melatih Benfica.
Mourinho bahkan mengaku tidak ingin melihat Bellingham dipaksa bertahan terlalu dalam.
“Saya setuju dengannya bahwa saya tidak ingin melihat Jude harus bertahan hampir seperti bek kiri kedua, sesuatu yang telah saya lihat berkali-kali sebelumnya.”
Mourinho kemudian mengungkap bagaimana kecenderungan Bellingham bergerak dari tengah menuju sisi kiri saat bertahan pernah dimanfaatkan lawan.
“Dalam pertandingan musim lalu di mana tim Benfica saya memenangkan babak kualifikasi, kami sangat memanfaatkan kecenderungan Bellingham untuk bergerak dari tengah ke kiri dalam bertahan.”
Kini, situasinya berubah.
“Sekarang kami mengatur tim dengan cara yang berbeda. Jude tahu persis apa yang harus dia lakukan dan merasa sangat nyaman.”jelasnya.
Dan kenyamanan itu terlihat jelas.
Inilah yang membuat pendekatan Mourinho terhadap Bellingham menarik. Ia bukan sekadar memberikan kebebasan kepada sang gelandang, tetapi terlebih dahulu memahami bagaimana Bellingham bergerak dan apa yang membuatnya efektif.
Ketika Bellingham terlalu dibebani tugas bertahan, energinya bisa terkuras.
Namun ketika diberi ruang untuk bergerak, pressing, membawa bola dan masuk ke kotak penalti, kemampuan terbaiknya muncul.
Hasilnya mulai terlihat di awal musim. Bellingham kembali menjadi pemain yang sulit dihentikan. Ia bisa muncul di tengah, bergerak ke kiri, menusuk ke kotak penalti, memenangkan duel, memberikan assist, atau tiba-tiba menjadi pencetak gol. Satu pemain, banyak peran.
Bellingham yang tampil pada awal musim ini mengingatkan Madridista pada sosok yang bersinar luar biasa pada musim 2023/24.
Saat itu, ia datang dan langsung menjelma menjadi salah satu pemain paling menentukan Real Madrid.
Kini, versi tersebut seperti kembali muncul.
Dribbling cepat menuju kotak penalti, kemampuan melewati beberapa pemain sekaligus, tembakan keras, duel udara, serta keberanian untuk terus bergerak membuat Bellingham kembali menjadi ancaman serius bagi pertahanan lawan.
Tak heran jika tribun Bernabéu kembali menyambutnya dengan nyanyian “Hey Jude.”
Awal musim ini juga memperpanjang catatan Mourinho dalam meraih kemenangan pada tiga pertandingan pembuka liga.
Pelatih asal Portugal tersebut sebelumnya pernah mencatat start serupa bersama Chelsea, Manchester United, dan AS Roma. inilah daftarnya:
- 2004/05 – Chelsea2005/06 – Chelsea
- 2014/15 – Chelsea
- 2016/17 – Manchester United
- 2017/18 – Manchester United
- 2021/22 – AS Roma
- 2026/27 – Real Madrid
Namun bagi Madridista, statistik tersebut mungkin bukan satu-satunya hal yang menarik. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi kepada Bellingham. Mourinho
menemukan kembali formula yang membuat sang gelandang mampu memainkan sepak bola terbaiknya.
Ada ironi menarik dalam cerita ini. Mourinho pernah mempelajari kelemahan Bellingham ketika menghadapinya bersama Benfica. Ia tahu kecenderungan pergerakannya, termasuk ketika sang pemain bergeser terlalu jauh ke kiri saat bertahan.
Kini, pengalaman tersebut justru menjadi modal untuk mengeluarkan kemampuan terbaik Bellingham.
Analisis Mourinho yang dulu digunakan untuk menghadapi Bellingham, kini justru menjadi bagian dari cara untuk membuatnya bersinar.
Mourinho membaca Bellingham. Kini Real Madrid yang menikmati hasilnya.
Dan ketika sang gelandang kembali berlari, menekan, mencetak gol, mengirim assist dan menggerakkan rekan-rekannya, Bernabéu kembali memiliki alasan untuk bernyanyi.
“Hey Jude…” Sang bos tampaknya sudah kembali.

























