JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Jika tidak salah ingat, saya mulai bersentuhan dengan KH Imam Jazuli Lc, MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Kuningan, Cirebon, Jawa Barat, sekitar 10 tahun lalu. Tepatnya tahun 2016. Saat itu, saya menyelenggarakan agenda Bahsul Masail tentang isu-isu seputar konflik, perang dan hukum perang bersama sekelompok ulama dan intelektial muda NU di Cirebon. Saya menyempatkan diri membawa atasan saya yang berasal dari Inggris untuk sowan ke pesantren Kiai Imjaz (demikian beliau akrab disapa) yang sedang merintis.
Saya mendengarkan dengan seksama penjelasan Kiai Imjaz tentang asbabul wurud kenapa dia mendirikan pesantren. Namun yang paling mengesankan bagi saya dan atasan saya adalah ritual bersalaman dengan ratusan santriwan dan santriwati yang dengan tertib dan takzim menciumi tangan kami.
Selain seremoni salaman tadi, hal yang paling menakjubkan lagi bagi saya yang alumnus pesantren modern adalah sikap para santri yang begitu takzim kepada kiai dan tamunya, dengan setia berdiri diam merunduk ketika kami berkeliling pondok, ataupun sikap takzim mereka ketika menyajikan makan dan minum. Itu adalah pemandangan yang tidak saya alami di sebuah pesantren modern yang tak jarang mencemooh praktek seperti itu sebagai bentuk feodalisme yang tak perlu.
Namun setelah berbincang lama dengan Kiai Imjaz dan mendengarkan visi dan impiannya tentang pesantren yang ia rintis, saya merasakan paradoks mendasar yang menyelimuti sosok kiai yang nyentrik ini. Di satu sisi ia adalah sosok yang merawat tradisi, terutama tradisi keagamaan Nahdliyyah, namun di sisi lain saya juga merasakan getaran seorang alim inteletual yang visioner dan berpikiran jauh ke depan. Pada Kiai Imjaz, saya merasakan paradoks besar menyatunya turats dan hadatsah, keinginan merawat tradisi dan menjemput pembaruan, dalam satu tarikan napas dan dalam batang tubuh yang sama.
Paradoks itu makin kuat dan kentara terasa tatkala saya membaca buku terbaru beliau, NU Abad Kedua: Merawat Akar, Memjemput Masa Depan (terbitan Damai Banawa Semesta, September 2026). Saya mengkhatamkan buku digital setebal 148 halaman ini selama beberapa jam saja (ya, saya selahap itu membacanya!). Pada buku ini, saya menyaksikan evolusi Kiai Imjaz, dari seorang kiai perintis di kaki Gunung Ciremai, menjadi seorang intelektual matang, tokoh nasional, dan pemimpin muda NU yang visioner dengan gagasan-gagasan yang bernas dan multidimensional tentang NU abad kedua.
Saya sungguh menikmati 16 topik yang diulas Kiai Imjaz di buku ini, karena isinya membantu saya memahami isu-isu krusial NU baik sebagai jamaah (komunitas keagamaan) maupun sebagai jam’iyyah (sebuah organisasi keagamaan). Apa yang disajikan Kiai Imjaz di buku ini tidak hanya memotret persoalan-persoalan krusial NU seperti tata kelola organisasi, visi pendidikan pesantren, hubungan NU dengan PKB, isu kesehatan, dakwah di tengah era disrupsi, moderasi beragama, diplomasi internasional, pemberdayaan ekonomi, bahkan persoalan ekologi, namun juga menunjukkan kedalaman pemahaman dan kearifan dalam melihat persoalan.
Semua ulasan itu menunjukkan betapa luas dan dalamannya minat dan perhatian Kiai Imjaz. Beliau tidak lagi terkungkung oleh bilik-bilik pesantren tapi berkelana jauh sampai melampaui imajinasi seorang kiai pesantren semata. Kiai Imjaz telah tumbuh dan berkembang menjadi tokoh nasional yang mampu menangkap persoalan-persoalan penting warga NU mulai dari yang paling alit sampai yang paling elit, dan merumuskan peta jalan pembenahannya.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kenyataan bahwa penulisnya adalah sosok yang benar-benar mengerti NU sampai ke jeroan-jeroannya, memahami persoalan-persoalan mendasarnya, dan tahu bagaimana mencarikan jalan keluar kreatifnya. Semua ulasan itu tidak kekurangan landasan filosofis dan ideologis NU, dan disertai pula dengan kemampuan menggunakan istilah-istilah khas Nahdliyyah (misalnya hifzul ummah), dengan sangat lihai dan bertenaga.
Yang saya sayangkan hanya satu. Sekalipun saya menangkap kuatnya gaya narasi pemikir Mesir yang mungkin menjadi idola Kiai Imjaz, Hassan Hanafi, saya tidak menemukan kutipan-kutipan ulama klasik ataupun pemikir kontemporer dalam buku ini. Anehnya Kiai Imjaz malah mengutip sosiolog Jerman, Max Weber.
Tapi itu mungkin bisa dipahami karena buku ini lebih merupakan percikan-percikan permenungan dan refleksi tentang isu-isu krusial NU yang mungkin diperlukan untuk memandu biduk ormas Islam terbesar di dunia ini dalam menghadapi cabaran abad keduanya.
Dan tatkala yang menuliskannya adalah seorang kiai pemikir dan tokoh yang berhasil mengembangkan pesantrennya tidak hanya sebagai kakbah santri untuk belajar tapi juga destinasi tokoh-tokoh dan elit-elit nasional untuk mencari petuah, Anda memang harus membacanya dengan seksama.
Ala kulli hal, buku Kiai Imjaz ini adalah suluh NU untuk menapaki abad kedua, karena itu para pemimpin NU maupun warganya patut menyambut dan menelaahnya guna mengarungi tantangan dunia yang kian tidak sepele.
Jakarta, 12 September 2026.
Novriantoni Kahar, alumnus Universitas al-Azhar dan Sosiologi UI

























