BOJONEGORO | LIPUTAN9NEWS — Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) bersama Asparagus (Aspirasi Para Lora dan Gus), BEM PTNU (Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama), Pagar Nusa Gasmi Ngraho, MP3I (Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pondok Pesantren Se-Indonesia), dan FK3I (Forum Komunikasi Kyai Kampung Seluruh Indonesia) menyalurkan 99.999 liter air bersih bagi warga Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Aksi sosial tersebut digelar dalam rangka memperingati dan memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW serta HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan itu sekaligus menjadi bentuk dukungan dan doa menyambut Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, mengatakan bantuan air bersih tersebut disalurkan menggunakan 11 tangki dengan kapasitas sekitar 9.700 liter. Air didistribusikan kepada warga Desa Nganti, meliputi Dukuh Tukbuntung, Dukuh Jati dan Dukuh Jeding, Desa Sugihwaras (Dukuh Sambirobyong), Desa Jumok (Dukuh Banyu Urip), serta Desa Ngraho, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro.
Menurut Gus Wal, bantuan tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat yang hingga kini masih menghadapi persoalan krisis air bersih. Masalah itu, kata dia, bukan persoalan baru dan telah dirasakan masyarakat Bojonegoro, Lamongan dan wilayah sekitarnya selama puluhan tahun.
Di tengah persoalan tersebut, Gus Wal turut menyoroti keberadaan industri ekstraktif, khususnya ExxonMobil, yang telah lama melakukan eksploitasi sumber daya alam Bojonegoro, terutama minyak bumi.
Ia menilai masyarakat sebagai pemilik wilayah dan sumber daya alam semestinya mendapatkan manfaat yang lebih besar dari kekayaan alam yang berada di daerahnya.
“Jangan sampai kekayaan minyak bumi Bojonegoro terus diambil, sementara masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur dan Indonesia masih harus berjuang mati matian mendapatkan air bersih. Jangan sampai rakyat hanya menjadi penonton hasil sumber daya alamnya dieksploitasi ditanahnya sendiri, namun tak dapat merasakan dan menikmati kekayaaan tanahnya sendiri” tegas Gus Wal.
Gus Wal juga menilai kontribusi ExxonMobil masih minim dirasakan secara langsung oleh masyarakat Bojonegoro jika dibandingkan dengan besarnya aktivitas eksploitasi sumber daya alam di wilayah tersebut.
Angka 99.999 Jadi Simbol Doa
Bagi PNIB, penyaluran 99.999 liter air bersih bukan sekadar aksi sosial maupun angka simbolis. Angka tersebut dipilih karena NU identik dengan simbol bintang sembilan.
Gus Wal menyebut angka tersebut sekaligus menjadi doa agar Muktamar Ke-35 NU berjalan lancar, tertib, aman, damai dan penuh persaudaraan.
Ia berharap Muktamar mampu melahirkan kepemimpinan dan kepengurusan baru PBNU yang berwibawa, berintegritas, berkarakter dan memiliki visi besar untuk membawa NU semakin kuat dalam menjalankan khidmahnya.
“Harapan kami, Muktamar NU ke-35 melahirkan para pemimpin dan pengurus yang alim, zuhud, berintegritas, serta siap totalitas berkhidmat untuk kepentingan para kiai, pondok pesantren dan seluruh warga Nahdliyin, serta lebih berperan serta berkontribusi bagi rakyat dan bangsa Indonesia,” ujar Gus Wal.
Ia menegaskan, NU ke depan harus tetap berpijak pada Khittah Nahdlatul Ulama, Qanun Asasi serta AD/ART. Dengan demikian, NU tidak kehilangan jati diri dan orientasi perjuangannya.
Menurut Gus Wal, kekuatan NU harus diarahkan bagi kemaslahatan umat, bangsa dan negara, sekaligus kepentingan para kiai, pondok pesantren dan seluruh warga Nahdliyin.
Kemanusiaan di Atas Perbedaan
Lebih jauh, Gus Wal menegaskan bahwa aksi penyaluran air bersih harus menjadi pengingat bahwa di atas seluruh perbedaan terdapat nilai yang lebih fundamental, yakni kemanusiaan.
“Di dunia ini tidak ada yang lebih penting daripada kemanusiaan, kepedulian, cinta, kasih sayang dan persatuan. Ketika terjadi tragedi, insiden, musibah atau bencana, tepikan terlebih dahulu segala bentuk perbedaan, kemanusian perdamaian, dan persatuan Indonesia adalah lebih penting dari hal yang paling penting” kata Gus Wal.
Ia menilai perbedaan pilihan politik, pandangan maupun latar belakang tidak boleh mengalahkan kepentingan kemanusiaan. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, seluruh pihak harus hadir tanpa memandang sekat dan perbedaan.
“Kemanusiaan, kerukunan, kedamaian, keselamatan dan persatuan Indonesia harus berada di atas segalanya bagi rakyat dan bangsa Indonesia,” tegas Gus Wal.
PNIB berharap aksi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Persoalan krisis air bersih di Bojonegoro, Lamongan, Bantul, Gunung Kidul dan sejumlah daerah lainnya diharapkan segera mendapatkan solusi yang berkelanjutan dari pemerintah, dunia usaha dan seluruh elemen bangsa.
Dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Muktamar Ke-35 NU, PNIB mengajak masyarakat memperkuat kepedulian, gotong royong, persaudaraan, kedamaian, kerukunan dan persatuan.
“Indonesia Aman, Indonesia Makmur, Indonesia Damai. Merdeka rakyatnya, sejahtera kehidupannya, dan kuat persatuannya, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Yang lebih penting dari Ekonomi, Politik dan kekuasaan adalah Cinta, Kasih sayang dan Kemanusiaan, bersama kita Indonesia Ber pancasila Berbhinneka Tinggal Ika dan jaga bangsa, bela negara, lestarikan pancasila dengan gotong royong dan merawat tradisi budaya nusantara, tolak dan lawan Korupsi, Intoleransi, Khilafah, Terorisme Radikalisme Anarkisme Premanisme,” pungkas Gus Wal.

























