JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), ruang publik warga Nahdliyin kembali dipenuhi percakapan tentang kontestasi, nama-nama kandidat, serta arah kepemimpinan jam’iyah untuk lima tahun mendatang.
Di tengah dinamika itu, beredar sebuah pesan pribadi dari Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, yang akrab disapa Buya Said, kepada seorang kiai khos asal Jawa Timur.
Pesan itu menarik perhatian bukan karena mengandung dukungan terhadap kandidat tertentu. Justru sebaliknya. Ia berbicara tentang ketidaktertarikan pada jabatan.
Dalam pesan tersebut, Buya Said menyampaikan bahwa dirinya tidak menginginkan maupun mengharapkan jabatan apa pun di dalam jam’iyah. Ia juga menyatakan tidak akan ikut campur dalam urusan Muktamar mendatang dan hanya akan menghadiri pembukaan untuk bertabarruk dan bertafa’ul melalui keberkahan para pendiri NU, sebelum kembali ke Jakarta.
Ia menulis:
“أنا لا أتمني ولا أتَرَجّي بأي منصب في الجمعية ولا أتدخل في شؤون المؤتمر القادم، سوف أحضر فقط في الافتتاح تبركاً وتفاؤلاً ببركة الشيخ هاشم أشعري والشيخ عبد الوهاب والشيخ بشرى شنسوري لا غير، ثم رجعت إلى جاكرتا، قد بلغت العمر ٧٤ سنة وأصابتني الأمراض وزيادة الذنوب كل يوم، أمنيتي ورجائي فقط مغفرة الله ورحمته مع حسن النزع والخواتيم.”
Secara sederhana, pesan tersebut menggambarkan sikap seorang ulama yang tidak lagi memandang jabatan sebagai sesuatu yang harus dikejar. Pada usia 74 tahun, di tengah kesadaran tentang kesehatan, usia, dan kehidupan yang terus berjalan menuju akhir, harapan yang disampaikan justru sederhana: ampunan Allah, rahmat-Nya, serta husnul khatimah.
Bagi saya, justru di situlah letak kekuatan pesan tersebut. Ketika jabatan tak lagi menjadi tujuan.
Dalam tradisi pesantren, jabatan bukanlah ukuran kemuliaan seorang kiai. Kemuliaan lahir dari ilmu, akhlak, keteladanan, sanad keilmuan, dan panjangnya pengabdian kepada umat.
Karena itu, sikap tidak mengejar jabatan bukan berarti seseorang kehilangan kepedulian terhadap organisasi. Sebaliknya, bisa jadi itulah bentuk tertinggi dari kesadaran bahwa jabatan hanyalah amanah sementara.
Dalam tradisi keislaman dikenal prinsip tark al-manashib sikap tidak mengejar atau meminta kedudukan. Jabatan, dalam perspektif ini, bukan trofi yang harus diperebutkan. Ia adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Pesan Buya Said terasa semakin kuat karena ia datang menjelang sebuah momentum politik organisasi yang biasanya sarat dengan kalkulasi.
Nama kandidat beredar. Dukungan mulai dihitung. Pertemuan berlangsung. Komunikasi politik semakin intens.
Di tengah semua itu, seorang ulama sepuh justru berbicara tentang dosa, usia, ampunan, dan akhir kehidupan. Kontras tersebut seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Barangkali Muktamar NU memang membutuhkan lebih banyak ketenangan daripada kegaduhan.
Keputusan Buya Said untuk tetap hadir pada pembukaan Muktamar juga memiliki makna tersendiri. Ia tidak datang untuk membangun barisan. Tidak untuk mengonsolidasikan faksi. Tidak pula untuk menunjukkan pengaruh.
Ia menyebut kehadirannya sebagai upaya tabarruk dan tafaa’ul melalui keberkahan para pendiri NU: Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri.
Ini adalah bahasa khas pesantren. Bahasa yang mungkin tidak selalu mudah dipahami oleh politik modern.
Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa NU bukan semata organisasi administratif. Ada sanad, ada guru, ada sejarah, ada tradisi, dan ada ikatan batin yang diwariskan lintas generasi.
Seorang ulama yang pernah berada di pusat kepemimpinan NU pun pada akhirnya tetap menempatkan dirinya sebagai murid di hadapan para muassis.
Itulah salah satu wajah penting tradisi pesantren: semakin tinggi ilmu dan pengalaman seseorang, semakin kuat kesadarannya tentang posisi dirinya sebagai hamba dan murid.
Pesan tersebut tentu tidak harus dibaca sebagai sikap politik terhadap kandidat tertentu. Namun, secara moral, ia membawa pesan yang jauh lebih luas.
Muktamar jangan kehilangan ruhnya.Muktamar bukan sekadar mekanisme pergantian kepemimpinan. Ia adalah forum besar jam’iyah untuk bermusyawarah tentang masa depan NU dan umat. Karena itu, kontestasi seharusnya tidak membuat warga Nahdliyin kehilangan adab.
Perbedaan pilihan tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menuduh. Apalagi jika perebutan jabatan mulai menggeser tujuan utama khidmah.
NU membutuhkan kompetisi gagasan, bukan kompetisi ego.NU membutuhkan kepemimpinan yang lahir dari kepercayaan, bukan sekadar kemampuan mengumpulkan dukungan. Dan NU membutuhkan para pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan di dalam jam’iyah bukanlah hak milik pribadi.
Dalam kehidupan organisasi sebesar NU, keberadaan kiai sepuh memiliki fungsi yang jauh melampaui struktur formal. Mereka adalah tempat bertanya ketika organisasi mengalami kebuntuan. Mereka menjadi peneduh ketika perbedaan mulai memanas. Mereka menjadi pengingat ketika kepentingan praktis mulai mengalahkan nilai.
Karena itu, seorang kiai sepuh tidak harus selalu berada di dalam struktur untuk tetap berkhidmah kepada NU.Khidmah dapat dilakukan melalui pengajaran. Melalui pesantren, Melalui majelis ilmu, Melalui nasihat. Bahkan melalui doa-doa sunyi yang tidak pernah diketahui publik.
Dalam konteks inilah, sikap Buya Said menarik untuk direnungkan. Ketika seseorang memilih keluar dari pusaran perebutan jabatan, bukan berarti cintanya kepada NU berkurang. Bisa jadi justru sebaliknya. Ia sedang menunjukkan bahwa mencintai NU tidak harus dengan memiliki posisi di dalam NU.
Muktamar ke-35 akan menjadi ujian kedewasaan bagi seluruh warga Nahdliyin. Bukan hanya bagi kandidat, Bukan hanya bagi muktamirin. Tetapi bagi seluruh elemen yang berada di sekitar NU. Ujian sesungguhnya bukan sekadar siapa yang terpilih.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah setelah Muktamar NU tetap utuh?
Apakah ukhuwah tetap terjaga?
Apakah para pendukung kandidat yang berbeda tetap bisa duduk bersama?
Apakah keputusan Muktamar dapat diterima dengan lapang dada?
Dan apakah setelah jabatan berpindah tangan, semua pihak kembali kepada semangat khidmah?
Sebab kemenangan dalam sebuah kontestasi organisasi tidak akan bermakna jika meninggalkan luka yang panjang. Sebaliknya, perbedaan pilihan yang dikelola dengan adab justru dapat menjadi sumber kekuatan.
Pesan Buya Said pada akhirnya bukan hanya tentang Muktamar. Ia adalah pesan tentang kehidupan.
Pada usia 74 tahun, setelah perjalanan panjang sebagai ulama, pendidik, intelektual, dan pernah memimpin organisasi, yang paling dikhawatirkan bukan kehilangan jabatan. Yang ditakutkan justru bertambahnya dosa.
Yang diharapkan bukan kekuasaan, Melainkan ampunan, Yang dicari bukan pengaruh. Melainkan rahmat Allah dan akhir kehidupan yang baik.
Di tengah zaman ketika jabatan sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan, pesan semacam ini terasa seperti cermin.Ia mengingatkan kita bahwa pada akhirnya semua jabatan akan selesai.Semua kepengurusan akan berakhir. Semua pengaruh akan berlalu. Yang tersisa adalah amal, ilmu yang bermanfaat, keteladanan, dan hubungan seorang manusia dengan Tuhannya.
Karena itu, menjelang Muktamar ke-35 NU, mungkin kita perlu belajar dari pesan sunyi seorang Buya Said.
Datanglah dengan niat khidmah. Bermusyawarahlah dengan adab. Berbeda pilihan tanpa kehilangan persaudaraan. Jangan jadikan jabatan sebagai tujuan.
Dan jangan biarkan kontestasi membuat kita lupa bahwa NU dibangun bukan untuk membesarkan ego pribadi, melainkan untuk mengabdi kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, kebesaran seorang ulama tidak ditentukan oleh berapa lama ia memegang jabatan.
Kebesaran seorang ulama justru tampak ketika ia mampu melepaskan jabatan tanpa kehilangan kewibawaan, meninggalkan panggung tanpa kehilangan cinta umat, dan memasuki usia senja dengan harapan yang semakin sederhana: mendapatkan ampunan, rahmat, dan husnul khatimah.
Mungkin itulah pesan terdalam dari Buya Said. Bahwa dalam jam’iyah sebesar NU, adab harus lebih tinggi daripada ambisi, khidmah harus lebih utama daripada jabatan, dan keberkahan para ulama harus lebih dicari daripada kemenangan politik. Wallahu a’lamu bis-shawab.
Abdur Rahim, Santri-Alumni Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang

























