MALANG | LIPUTAN9NEWS
Rencana kedatangan Rizieq Shihab ke Malang, Jawa Timur, kembali menuai penolakan. Sejumlah elemen masyarakat di Malang Raya disebut menyuarakan keberatan atas rencana kegiatan yang dijadwalkan berlangsung di wilayah Kedungkandang.
Salah satu suara penolakan datang dari Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB). Organisasi yang bermarkas di Jombang tersebut meminta seluruh pihak menjaga kondusivitas dan tidak membawa isu politik identitas yang berpotensi memicu ketegangan di tengah masyarakat.
Ketua Umum PNIB AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal menegaskan, pihaknya tidak mempersoalkan kegiatan pengajian atau tabligh akbar. Yang menjadi keberatan, kata dia, adalah figur yang dihadirkan serta potensi dampak sosial dari kegiatan tersebut.
“Kita tidak menolak acara Tabligh Akbar, yang kita tolak Rizieq-nya dan para dai provokator lainnya,” tegas Gus Wal dalam pernyataan resminya.
Berdasarkan informasi yang disampaikan PNIB, Rizieq Shihab dijadwalkan menghadiri tabligh akbar di Masjid As Salafiyyah, Kedungkandang, Malang, Senin (31/8/2026).
PNIB menilai kegiatan yang menghadirkan tokoh dengan rekam jejak kontroversial perlu dipertimbangkan secara matang, terutama apabila terdapat potensi gesekan antarpendukung maupun kelompok masyarakat.
“Jika sebagian besar masyarakat sudah menolak tetapi Rizieq tetap hadir maka sama halnya mengadu domba pihak-pihak yang pro kontra,” ujar Gus Wal.
Minta Aparat Utamakan Kondusivitas
PNIB juga meminta aparat kepolisian mempertimbangkan seluruh aspek keamanan dan ketertiban masyarakat sebelum memberikan izin atau mengambil keputusan terkait kegiatan tersebut.
Menurut Gus Wal, jangan sampai sebuah kegiatan keagamaan justru berujung pada konflik horizontal yang merugikan masyarakat luas.
Ia menegaskan bahwa kritik PNIB ditujukan terhadap narasi dan gerakan yang mereka anggap berpotensi mengganggu kebhinekaan, bukan terhadap kegiatan keagamaan secara umum.
“Kita tidak menolak acara Tabligh Akbar. Yang kita tolak Rizieq-nya dan para dai provokator lainnya,” katanya.
Gus Wal juga menyerukan agar masyarakat Jawa Timur tetap menjaga tradisi hidup berdampingan di tengah keberagaman agama, suku, budaya, dan tradisi.
Menurutnya, perbedaan pilihan maupun pandangan tidak seharusnya berubah menjadi permusuhan.
Sebagai penutup, Gus Wal kembali membawa pesan yang selama ini menjadi bagian dari kampanye PNIB, yakni JAS MERAH dan JAS HIJAU.
Ia memaknai JAS MERAH sebagai ajakan untuk tidak melupakan sejarah, sedangkan JAS HIJAU dimaknai sebagai penghormatan terhadap jasa para kiai dan ulama yang berperan dalam perjalanan bangsa.
“Kita tetap rukun berkehidupan bangsa dan negara karena berprinsip JAS MERAH dan JAS HIJAU. Tidak melupakan sejarah dan tidak melupakan jasa para kiai ulama pendiri bangsa,” pungkasnya.
Di tengah rencana kegiatan tersebut, perhatian publik kini tertuju pada bagaimana seluruh pihak—panitia, aparat, tokoh masyarakat, dan kelompok yang pro maupun kontra—dapat menjaga Malang tetap aman tanpa mengorbankan kebebasan menjalankan kegiatan keagamaan secara damai.

























