BOYOLALI | LIPUTAN9NEWS
Warga Desa Lampar, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menyambut sukacita kedatangan bantuan air bersih pada Sabtu (26/09/2026). Sebanyak 81.000 liter air bersih disalurkan melalui aksi bakti sosial yang digelar Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) bersama Asparagus, Ansor Banser, Pagar Nusa dan BEM Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Se-Nusantara.
Bantuan tersebut menjadi angin segar bagi warga yang telah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih sejak pertengahan Juni 2026. Dua truk tangki air dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan warga di tengah kondisi kekeringan yang melanda wilayah tersebut.
Sejak pagi hingga malam hari, truk tangki bertuliskan PNIB Baksos Air Bersih terlihat hilir mudik menyalurkan air kepada masyarakat. Warga yang selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan menghadapi keterbatasan air bersih pun menyambut bantuan tersebut dengan antusias.
Ketua Umum PNIB, Abdur Rozaq Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar penyaluran bantuan air, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kepedulian, gotong royong dan persaudaraan.
“Kabar berita jutaan liter bantuan air bersih dari Pemda Boyolali faktanya tidak semanis itu. Warga Desa Lampar tidak butuh janji pemerintah, mereka hanya butuh aktivitas nyata. Yang kami lakukan ini adalah aktivitas solidaritas, toleransi dan kemanusiaan nyata yang kita lakukan semampunya,” ujar Gus Wal dalam keterangan, Ahad (27/09/2026).
Menurut Gus Wal, kolaborasi PNIB, Asparagus, Ansor Banser, Pagar Nusa dan BEM PTNU Se-Nusantara menunjukkan bahwa gerakan sosial dapat dilakukan bersama untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan anggaran negara agar kebutuhan dasar masyarakat, termasuk akses terhadap air bersih, menjadi prioritas.
“Uang rakyat jika tidak dikorupsi akan lebih dari cukup untuk mensejahterakan warga, khususnya kebutuhan air bersih. Digunakan untuk kepentingan masyarakat luas, tentunya tidak akan separah ini kesulitan yang dirasakan warga masyarakat yang dilanda krisis air bersih akibat kekeringan dan musibah bencana alam,” katanya.
Gus Wal menambahkan, persoalan kekeringan tidak hanya terjadi di Boyolali. Menurutnya, sejumlah wilayah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta dan berbagai daerah lainnya juga menghadapi persoalan serupa.
Karena itu, ia mendorong pemerintah dan pemangku kebijakan untuk meningkatkan penanganan kekeringan serta mempertimbangkan penetapan status tanggap darurat apabila kondisi di suatu wilayah memenuhi indikator kedaruratan.
“Di daerah lain ada masjid yang tidak menggelar Salat Jumat karena tidak ada air untuk berwudu. Dari situasi tersebut pemerintah seharusnya bisa menetapkan status tanggap darurat kekeringan ekstrem. Jangan sampai masalah air, warga lebih percaya ormas daripada pemerintahannya sendiri,” tegas Gus Wal.
Aksi penyaluran air bersih tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus menjadi pengingat pentingnya kolaborasi berbagai elemen masyarakat dalam menghadapi dampak kekeringan.
Gus Wal menutup kegiatan tersebut dengan menyerukan semangat kebersamaan untuk membangun Indonesia yang aman, makmur dan damai.
“Bersama kita wujudkan Indonesia aman, makmur, damai tanpa korupsi, intoleransi, premanisme, anarkisme, khilafah, terorisme,” pungkasnya.

























