JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU), nama KH. Ridwan Abdullah sering dikenang sebagai pencipta lambang organisasi yang hingga kini menjadi simbol identitas jutaan warga Nahdliyin di Indonesia maupun dunia. Namun, membatasi peran beliau hanya sebagai pelukis lambang NU tentu tidak cukup. KH. Ridwan Abdullah merupakan sosok ulama yang memadukan kedalaman spiritual, kecakapan seni, kecintaan terhadap ilmu, dan komitmen terhadap perjuangan organisasi. Melalui karya dan keteladanannya, ia menunjukkan bahwa seni bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan juga media dakwah, pendidikan, dan penguatan identitas keislaman.
KH. Ridwan Abdullah lahir di Surabaya pada tahun 1885 dari keluarga religius. Sejak kecil beliau memperoleh pendidikan agama yang kuat melalui tradisi pesantren. Di samping mendalami ilmu-ilmu syariat, ia memiliki bakat yang menonjol dalam bidang seni lukis, kaligrafi, dan desain. Pada masa itu kemampuan seni seperti yang dimiliki beliau tergolong langka di kalangan ulama. Akan tetapi, Ridwan Abdullah tidak memandang seni sebagai sesuatu yang terpisah dari agama. Sebaliknya, seni dipahami sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan keindahan yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Perpaduan antara ilmu agama dan kemampuan artistik inilah yang kemudian menjadikan KH. Ridwan Abdullah memperoleh kepercayaan dari para pendiri NU. Ketika organisasi Nahdlatul Ulama mulai berkembang dan membutuhkan identitas visual yang mampu merepresentasikan cita-cita perjuangannya, KH. Wahab Chasbullah memberikan amanah kepada Ridwan Abdullah untuk merancang lambang organisasi. Amanah tersebut bukan sekadar pekerjaan teknis menggambar, melainkan tanggung jawab besar untuk menerjemahkan visi keagamaan dan kebangsaan NU ke dalam sebuah simbol yang dapat dikenali sepanjang masa.
Proses penciptaan lambang NU sendiri merupakan kisah yang sarat makna spiritual. Berbagai sumber menyebutkan bahwa Ridwan Abdullah tidak segera menemukan bentuk yang dianggap tepat. Berulang kali ia membuat rancangan, tetapi semuanya dirasa belum mampu mencerminkan kebesaran cita-cita organisasi. Dalam situasi tersebut, ia memilih menempuh jalan spiritual melalui shalat istikharah dan doa agar memperoleh petunjuk dari Allah. Dari pengalaman spiritual itulah lahir rancangan lambang NU yang kemudian diterima para ulama pendiri dan digunakan secara resmi sejak Muktamar NU di Surabaya tahun 1927. Kisah ini menunjukkan bahwa kreativitas dalam tradisi pesantren tidak dipisahkan dari dimensi spiritualitas. Inspirasi artistik dipandang sebagai hasil perpaduan antara ikhtiar intelektual dan kedekatan kepada Tuhan.
Lambang NU yang diciptakan Ridwan Abdullah bukan sekadar gambar dekoratif. Setiap unsur memiliki makna filosofis yang mendalam. Bola dunia melambangkan universalitas Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tali yang melingkari bumi menggambarkan persaudaraan dan persatuan umat sebagaimana ajaran Al-Qur’an tentang berpegang teguh pada tali Allah. Sembilan bintang melambangkan penghormatan kepada Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, dan Wali Songo sebagai mata rantai penyebaran Islam di Nusantara. Peta Indonesia yang tampak pada bola dunia menunjukkan bahwa perjuangan NU berakar kuat di bumi Indonesia sekaligus memiliki visi kemanusiaan yang bersifat universal. Keseluruhan simbol tersebut menjadi representasi dari karakter NU yang mengintegrasikan nilai keislaman, kebangsaan, dan tradisi pesantren.
Karya besar Ridwan Abdullah memperlihatkan bahwa simbol organisasi memiliki kekuatan sosial yang sangat besar. Dalam perspektif sosiologi, simbol berfungsi membangun identitas kolektif, memperkuat solidaritas, sekaligus menjadi media komunikasi nilai-nilai organisasi kepada masyarakat luas. Lambang NU bukan hanya identitas administratif, melainkan juga simbol yang menghubungkan jutaan warga Nahdliyin dengan sejarah, tradisi, dan cita-cita para pendiri organisasi. Ketika lambang tersebut dikibarkan dalam berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, maupun kebangsaan, yang hadir bukan sekadar gambar, melainkan memori kolektif tentang perjuangan ulama dalam menjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia.
Kontribusi KH. Ridwan Abdullah juga menunjukkan bahwa kebudayaan memiliki posisi penting dalam gerakan dakwah. Para pendiri NU memahami bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah dan pengajaran kitab, tetapi juga melalui simbol, seni, arsitektur, kaligrafi, dan berbagai bentuk ekspresi budaya. Dalam konteks ini, Ridwan Abdullah berhasil menghadirkan karya seni yang memiliki fungsi edukatif sekaligus ideologis. Lambang NU menjadi media yang terus-menerus mengingatkan warga organisasi tentang prinsip tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) yang menjadi karakter dasar NU.
Di samping sebagai seniman, KH. Ridwan Abdullah juga dikenal sebagai ulama yang sederhana dan memiliki dedikasi tinggi terhadap organisasi. Salah satu wasiat beliau yang terkenal di kalangan warga NU adalah agar para pengurus tidak takut mengabdi kepada organisasi hanya karena persoalan ekonomi. Wasiat tersebut mencerminkan pandangan bahwa perjuangan di jalan organisasi merupakan bentuk ibadah yang tidak selalu diukur dengan keuntungan material. Nilai pengabdian seperti inilah yang menjadi salah satu fondasi etika kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Keteladanan Ridwan Abdullah juga mengajarkan bahwa kreativitas tidak boleh dipisahkan dari integritas moral. Pada masa kini, simbol sering diproduksi secara instan untuk kepentingan pemasaran atau pencitraan politik. Berbeda dengan itu, lambang NU lahir melalui proses perenungan, dialog dengan para ulama, serta ikhtiar spiritual yang panjang. Oleh karena itu, simbol tersebut memiliki legitimasi moral sekaligus historis yang kuat. Tidak mengherankan apabila setiap upaya penyalahgunaan atau pelecehan terhadap lambang NU sering memperoleh respons dari warga Nahdliyin, sebab mereka memandangnya sebagai bagian dari warisan perjuangan para ulama.
Relevansi pemikiran dan keteladanan KH. Ridwan Abdullah semakin penting di era digital. Di tengah derasnya arus informasi dan budaya visual, organisasi keagamaan memerlukan identitas yang kokoh agar tidak kehilangan arah. Lambang NU yang dirancang hampir satu abad lalu tetap mampu bertahan karena dibangun di atas fondasi nilai, bukan sekadar mengikuti tren desain pada zamannya. Hal ini menunjukkan bahwa karya yang lahir dari perpaduan ilmu, spiritualitas, dan visi peradaban akan memiliki daya tahan melampaui perubahan zaman.
Lebih jauh lagi, sosok Ridwan Abdullah memperlihatkan bahwa pesantren bukan hanya melahirkan ahli fikih dan mubalig, tetapi juga intelektual kreatif yang mampu memberikan kontribusi dalam berbagai bidang kehidupan. Kemampuan beliau dalam seni rupa menjadi bukti bahwa tradisi pesantren memiliki ruang yang luas bagi pengembangan potensi manusia selama tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam. Perspektif ini penting untuk menghilangkan anggapan bahwa dunia pesantren identik dengan konservatisme yang menolak kreativitas. Sebaliknya, sejarah menunjukkan bahwa pesantren justru mampu melahirkan inovasi yang berakar pada tradisi sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, KH. Ridwan Abdullah merupakan figur yang berhasil menyatukan tiga dimensi sekaligus, yaitu keulamaan, kebudayaan, dan organisasi. Warisan terbesarnya bukan hanya lambang NU sebagai karya visual, tetapi juga teladan tentang bagaimana ilmu, seni, dan spiritualitas dapat dipadukan untuk membangun peradaban. Melalui dedikasinya, ia membuktikan bahwa sebuah simbol dapat menjadi kekuatan pemersatu umat apabila dibangun di atas landasan keikhlasan, kecerdasan, dan visi keagamaan yang mendalam. Karena itu, mengenang KH. Ridwan Abdullah berarti mengenang salah satu arsitek identitas Nahdlatul Ulama yang telah memberikan sumbangan penting bagi perjalanan Islam Indonesia hingga hari ini.
Referensi
- Abdul Holil. Kiai Ridlwan Abdullah: Peran dan Teladan Pelukis Lambang NU. Surabaya: Khalista, 2015.
- Nahdlatul Ulama Online. “Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU.” 10 Agustus 2015; serta “Kisah di Balik Proses Kreatif Terciptanya Lambang NU.” 11 April 2016.
Amsar A. Dulmanan, Dosen Sosiologi Pengetahuan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).

























