CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) kembali mengantarkan puluhan santrinya melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Sebanyak 27 santri BIMA dinyatakan lolos untuk melanjutkan studi ke Kerajaan Maroko pada 2026 melalui jalur seleksi Kementerian Agama Republik Indonesia dan program beasiswa kerja sama luar negeri.
Dari jumlah tersebut, dua santri lolos melalui jalur seleksi resmi Kementerian Agama RI, sedangkan 25 santri lainnya diterima melalui jalur beasiswa kerja sama luar negeri.
Kabar ini menjadi pencapaian tersendiri bagi BIMA dalam memperluas akses pendidikan internasional bagi para santri, khususnya untuk mendalami ilmu keislaman di salah satu negara yang memiliki tradisi keilmuan Islam panjang.
Manajer Hubungan Internasional Pesantren Bina Insan Mulia, Mohammad Al Chudlori, Lc., MA., menyampaikan bahwa 25 santri berhasil memperoleh beasiswa dari Kementerian Wakaf Kerajaan Maroko pada 2026. Mereka dijadwalkan berangkat ke Maroko pada 15 Oktober 2026 untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al Qarawiyyin, Maroko.
Menurut Al Chudlori, capaian tersebut tidak terlepas dari upaya pesantren membangun jejaring kerja sama internasional serta mempersiapkan santri agar mampu menembus kesempatan pendidikan di luar negeri.
Maroko dikenal memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat, dengan perkembangan pendidikan agama yang berjalan berdampingan dengan kajian akademik modern. Lingkungan pendidikan tersebut menjadi salah satu pertimbangan bagi pelajar Indonesia yang ingin memperdalam ilmu agama di luar negeri.
Bagi santri, kesempatan belajar di Maroko juga membuka ruang untuk mengenal tradisi keilmuan, kebudayaan, serta kehidupan masyarakat Muslim dalam konteks internasional.
Melalui program ini, para santri diharapkan tidak hanya memperdalam ilmu keislaman, tetapi juga memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan beradaptasi, dan membangun jejaring akademik lintas negara.
BIMA menyebut kerja sama langsung dengan mitra di Kerajaan Maroko sebagai salah satu faktor pendukung terbukanya akses pendidikan internasional bagi para santrinya.
Kerja sama tersebut diklaim memberikan akses informasi, pendampingan, serta jalur pendaftaran pendidikan ke luar negeri. Namun, status dan cakupan kerja sama itu perlu merujuk pada dokumen resmi agar dapat diketahui secara terperinci.
Capaian 27 santri pada 2026 sekaligus memperlihatkan adanya dua jalur berbeda yang ditempuh, yakni seleksi resmi Kementerian Agama RI dan program beasiswa kerja sama luar negeri.
Keberhasilan tersebut diharapkan dapat memotivasi santri lainnya untuk mempersiapkan diri sejak dini, baik dari sisi akademik, penguasaan bahasa, maupun kesiapan menghadapi lingkungan pendidikan lintas negara.
Bagi Pesantren Bina Insan Mulia, kesempatan melanjutkan studi ke luar negeri merupakan bagian dari upaya memperluas cakrawala pendidikan santri. Dengan persiapan yang terarah dan akses kerja sama internasional, cita-cita menempuh pendidikan di luar negeri diharapkan semakin terbuka bagi generasi muda pesantren.
Mohammad Al Chudlori, Lc., MA.
Manajer Hubungan Internasional Pesantren Bina Insan Mulia

























