PALU | LIPUTAN9NEWS
Bonus demografi menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Namun, peluang tersebut juga menyimpan tantangan serius apabila tidak diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia, ketersediaan lapangan kerja, serta kemampuan generasi muda menghadapi perubahan zaman.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Dialog Kepemudaan bertema “Bonus Demografi, Tantangan Pemuda Kini dan Akan Datang” yang digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, di Cafe Aswaja, Simpang Lima Silae, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Dialog yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme itu menghadirkan tiga narasumber dari kalangan tokoh muda lintas organisasi dan keilmuan, yakni Yahdi Basma, SH, mantan Ketua KNPI Sulawesi Tengah; Dr. Nasaruddin Abd Kadir, M.Si, aktivis sekaligus tokoh muda NU Sulteng; serta Sadiq Alhabsy, M.A.Hum, akademisi dan tokoh muda Alkhairaat.
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Anggota DPD RI asal Sulawesi Tengah, Rafik Al-Amri, yang turut hadir mengikuti jalannya dialog.
Dalam forum itu, para narasumber mengingatkan bahwa besarnya jumlah penduduk usia produktif tidak otomatis menjadi keuntungan apabila pemuda tidak memiliki kompetensi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Mantan Ketua KNPI Sulteng, Yahdi Basma, menyoroti ketimpangan antara jumlah lulusan pendidikan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan.
Menurutnya, setiap tahun ribuan lulusan SMA/SMK hingga perguruan tinggi memasuki dunia kerja. Namun, pertumbuhan lapangan pekerjaan belum mampu mengimbangi jumlah pencari kerja yang terus bertambah.
“Masalah kita bukan kekurangan orang pintar, tapi lapangan kerja yang tidak tersedia. Negara harus hadir menciptakan ekosistem wirausaha, bukan hanya mencetak pencari kerja,” tegas Yahdi.
Ia menekankan pentingnya peran negara dalam membangun ekosistem yang memungkinkan generasi muda tidak hanya bergantung pada pekerjaan formal, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha dan membuka lapangan kerja baru.
Senada dengan itu, Sadiq Alhabsy menjelaskan bahwa persoalan pemuda tidak berhenti pada terbatasnya kesempatan kerja. Lapangan pekerjaan yang tersedia pun kerap sulit diakses karena dunia industri membutuhkan keterampilan dan pengalaman yang belum sepenuhnya diperoleh melalui pendidikan formal.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan nyata dunia kerja.
Sementara itu, Dr. Nasaruddin Abd Kadir mengingatkan bahwa generasi muda sedang menghadapi perubahan besar akibat digitalisasi dan perkembangan Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, kecerdasan buatan bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan saat ini. Karena itu, pemuda dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan agar tidak tertinggal.
“AI bukan lagi masa depan, tapi sudah masa kini. Jika pemuda tidak adaptif, kita akan tergantikan,” ujarnya.
Selain tantangan teknologi, Nasaruddin juga menyoroti persoalan sosial yang tidak kalah penting, yakni mulai lunturnya empati dan solidaritas di tengah masyarakat.
Ia menilai kemajuan pembangunan yang terlalu berorientasi pada aspek material berpotensi mendorong tumbuhnya sikap individualistis dan apatis di kalangan generasi muda.
Padahal, menurutnya, pemuda tidak cukup hanya unggul secara intelektual dan teknologi. Mereka juga harus memiliki kepedulian sosial, kepekaan terhadap persoalan masyarakat, serta semangat gotong royong.
Nasaruddin turut mengingatkan bahaya disrupsi informasi yang membuat berita bohong atau hoaks dapat diterima sebagai kebenaran ketika terus-menerus disebarkan dan diviralkan.
“Pemuda harus jadi filter, bukan jadi penyebar hoaks,” pesannya.
Persoalan lain yang menjadi perhatian dalam dialog tersebut adalah keterlibatan generasi muda dalam kehidupan politik.
Para narasumber sepakat bahwa pemuda tidak seharusnya bersikap alergi atau antipati terhadap politik. Sebaliknya, generasi muda perlu mengambil bagian dalam ruang-ruang politik dengan membawa gagasan, idealisme, dan kepentingan masyarakat.
Politik, dalam perspektif dialog tersebut, merupakan salah satu sarana untuk memperjuangkan aspirasi dan mendorong perubahan sosial.
Karena itu, pemuda didorong untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut terlibat secara kritis dan bertanggung jawab dalam menentukan arah pembangunan.
Menutup pembahasan, dialog juga menyoroti pentingnya kemampuan nonteknis atau soft skill sebagai bekal menghadapi persaingan masa depan.
Menurut Dr. Nasaruddin, kesuksesan generasi muda tidak cukup hanya bertumpu pada ijazah atau capaian akademik. Kemampuan membangun jaringan, membaca peluang, berkomunikasi, serta mengelola kecerdasan emosional menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika kehidupan.
“Jaringan dan relasi yang luas, kemampuan membaca dan menangkap peluang dengan cepat, serta kecerdasan emosional, itu yang lebih menentukan masa depan pemuda hari ini,” tutup Nasaruddin, yang juga dikenal sebagai tokoh muda NU Sulawesi Tengah.
Anggota DPD RI asal Sulawesi Tengah, Rafik Al-Amri, mengapresiasi penyelenggaraan dialog kepemudaan tersebut.
Ia berharap forum-forum diskusi yang melibatkan berbagai elemen generasi muda terus digalakkan sebagai ruang bertukar gagasan, memperluas wawasan, dan mematangkan peran pemuda dalam menghadapi tantangan pembangunan.
Dialog ini sekaligus menjadi pengingat bahwa bonus demografi tidak cukup disambut dengan optimisme. Diperlukan kesiapan, kompetensi, keberanian berinovasi, serta kepedulian sosial agar generasi muda benar-benar mampu mengambil peran strategis.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, dilanjutkan foto bersama narasumber dan seluruh peserta.
Semangat Sumpah Pemuda pun kembali diteguhkan: generasi muda tidak hanya dituntut menjadi penerus bangsa, tetapi juga harus hadir sebagai penggerak perubahan dan bagian dari solusi bagi masa depan Indonesia.

























