CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Pasca-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), seruan menjaga ukhuwah dan mengedepankan tabayun kembali mengemuka. Di tengah dinamika dan perbedaan pandangan yang berkembang, warga Nahdliyin diajak tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Pesan tersebut disampaikan dalam Gala Dinner Pekan Rekonsiliasi dan Ukhuwah Nahdliyyin Pasca-Muktamar ke-35 NU di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Ahad (27/09/2026).
Sekitar 300 ulama dan aktivis NU, baik dari unsur struktural maupun kultural, menghadiri forum yang diinisiasi Imam Jazuli Foundation (IJF) tersebut.
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah kesaksian KH Imam Jazuli mengenai KH Miftachul Akhyar, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Kiai Imjaz, sapaan KH Imam Jazuli, menegaskan bahwa kesaksiannya disampaikan sebagai bentuk tabayun terhadap sejumlah informasi yang berkembang mengenai KH Miftachul Akhyar.
“Saya ini orang yang objektif. Saya ingin klarifikasi sedikit saja berbagai bully, ujaran kebencian dan fitnah yang berkembang di ruang publik terkait KH Miftachul Akhyar, yang intinya ingin menjatuhkan marwah, wibawa, dan kehormatan beliau sebagai Rais Aam PBNU,” ujar Kiai Imjaz.
Kiai Imjaz mengatakan dirinya bersama keluarga sempat bersilaturahmi dan sowan langsung ke kediaman KH Miftachul Akhyar di Surabaya setelah Muktamar ke-35 NU.
Menurut dia, pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk melakukan tabayun terhadap sejumlah informasi yang beredar, termasuk mengenai kondisi rumah KH Miftachul Akhyar yang disebut memiliki fasilitas lift.
Namun, berdasarkan kesaksian yang disampaikan Kiai Imjaz, bangunan tersebut merupakan bagian dari lingkungan pesantren dan kehidupan keluarga KH Miftachul Akhyar menurutnya jauh dari kesan mewah.
“Saat bertemu Kiai Miftah, saya ngobrol sekaligus tabayun beberapa hal, termasuk kaitan rumah beliau yang memiliki lift, yang ternyata itu adalah pesantren. Rumah Kiai Miftah di belakang pesantren. Masuk gang. Itu pun lantai dua buat tempat santri. Atapnya sudah banyak yang rusak,” ungkapnya.
Kiai Imjaz menilai kondisi tersebut menunjukkan kesederhanaan kehidupan KH Miftachul Akhyar di tengah posisinya sebagai Rais Aam PBNU.
Ia juga menuturkan sikap KH Miftachul Akhyar ketika menghadapi kritik, pembullyan, maupun tudingan di ruang publik.
Menurut Kiai Imjaz, dirinya pernah menanyakan langsung mengapa KH Miftachul Akhyar memilih tidak membalas berbagai tudingan tersebut.
“Beliau hanya tersenyum dan mengatakan, biar waktu yang mengungkap semua kebenaran,” tutur Kiai Imjaz.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Imjaz juga menceritakan kesederhanaan keluarga KH Miftachul Akhyar.
Ia menyebut salah seorang putra Rais Aam PBNU merupakan sahabatnya ketika keduanya berada di Mesir. Menurut Kiai Imjaz, putra KH Miftachul Akhyar tersebut masih menggunakan mobil lama.
Ia juga menyebut putra lainnya, yang merupakan alumni Lirboyo dan kini menjadi Wakil Katib PWNU Jawa Timur, dalam kesehariannya menggunakan sepeda motor.
“Hidup sangat sederhana keluarganya, rumahnya pun masih mengontrak,” ungkap Kiai Imjaz.
Kiai Imjaz juga menyampaikan bahwa dirinya pernah memberikan sesuatu kepada salah seorang putra KH Miftachul Akhyar, tetapi pemberian tersebut ditolak dan disaksikan langsung oleh Rais Aam PBNU.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari kesaksiannya mengenai prinsip KH Miftachul Akhyar dalam mendidik keluarga.
Selain kehidupan keluarga, Kiai Imjaz juga memaparkan perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar.
Ia menyebut KH Miftachul Akhyar pernah menimba ilmu di sejumlah pesantren, antara lain Pondok Pesantren Tambakberas, Sidogiri, dan pesantren di Lasem, Jawa Tengah.
Kiai Imjaz juga menyebut KH Miftachul Akhyar pernah mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki ketika ulama tersebut masih mengajar di Indonesia.
Salah satu guru penting dalam perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar, menurut Kiai Imjaz, adalah KH Mashduqi Lasem.
“Kiai Miftah itu santri sekaligus menantu gurunya di Lasem. Ini menjadi penegasan bagaimana kedalaman ilmu agama beliau, karena tidak mungkin Kiai Mashduqi menjadikan santrinya sebagai mantu bila tidak alim,” kata Kiai Imjaz.
Kiai Imjaz juga menyebut KH Miftachul Akhyar masih menjalankan pengajian kitab secara rutin. Salah satunya pengajian Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari yang disebut digelar setiap Jumat setelah salat Jumat.
Di lingkungan NU, Kiai Imjaz menyebut perjalanan KH Miftachul Akhyar berlangsung panjang. Ia menyebut KH Miftachul Akhyar aktif dalam struktur Syuriyah NU Surabaya sejak akhir 1970-an, kemudian menjadi Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000, Rais PWNU Jawa Timur pada 2007–2015, Wakil Rais Aam PBNU sejak 2015, dan Rais Aam PBNU sejak 2018 hingga kini.
“Kombinasi antara kealiman Kiai Miftah yang ditempa dari pesantren-pesantren besar seperti Tambakberas, Sidogiri, hingga Lasem, dengan ketegasan prinsipnya yang kokoh hasil proses panjang dari perjalanan aktivisme berorganisasi di NU, adalah berkah terbesar bagi PBNU saat ini,” papar Kiai Imjaz.
Kiai Imjaz kemudian mengajak warga NU tidak menjadikan perbedaan pasca-Muktamar sebagai alasan untuk saling mencaci, memfitnah, atau merendahkan sesama Nahdliyin.
Ia meminta setiap informasi yang beredar, terutama terkait ulama dan organisasi, terlebih dahulu diklarifikasi melalui tabayun.
“Saya telah mendengar, membaca, dan mengikuti secara langsung dengan saksama. Oleh karenanya, jangan karena Muktamar kemudian saling mencaci, memfitnah, dan menjatuhkan kehormatan ulama satu sama lain, apalagi kepada sosok Rais Aam PBNU,” urainya.
Kiai Imjaz juga mengingatkan warga NU agar tidak ikut menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
“Kadang-kadang kita ini menjelekkan orang, enggak tahu faktanya. Jadi, seandainya saya tidak paham, saya memilih diam. Saya ngomong apa adanya tentang Rais Aam,” jelasnya.
Menurut Kiai Imjaz, narasi yang berkembang tanpa verifikasi dapat membentuk persepsi publik dan berpotensi memperlebar perbedaan di internal NU.
“Faktanya banyak framing yang dilakukan pihak tertentu. Jika kita malah terjebak dan menjadi penyebar framing tersebut, itu ibarat menepuk air di dulang, terpercik kita sendiri. Kita justru menjadi pihak yang mendegradasi NU itu sendiri,” katanya.
Kiai Imjaz menilai perbedaan pandangan setelah Muktamar merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun, menurutnya, energi tersebut perlu diarahkan menjadi kolaborasi untuk memperkuat khidmah NU kepada umat.
Ia juga menilai kepemimpinan KH Miftachul Akhyar menunjukkan pentingnya ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi dinamika organisasi.
“KH Miftachul Akhyar menunjukkan teladan kesabaran dan kepemimpinan yang tenang dan tegas dalam menyampaikan setiap aspirasi dan sikap organisasi serta menghadapi berbagai persoalan organisasi dengan kepala dingin tanpa emosi,” ungkapnya.
Menutup keterangannya, Kiai Imjaz mengajak para ulama dan warga Nahdliyin kembali memperkuat persatuan setelah dinamika Muktamar ke-35 NU.
“Sudah tiba saatnya para ulama bangkit dan bersatu kembali. Mengisi khidmah utama jam’iyyah untuk umat. Mengarungi abad kedua dengan akar perjuangan pendahulu, penuh keikhlasan, memperkuat profesionalisme organisasi dalam bingkai kepemimpinan kolaboratif, di bawah komando Rais Aam PBNU,” pungkas Kiai Imjaz.
Forum tersebut menempatkan rekonsiliasi dan ukhuwah sebagai agenda penting pasca-Muktamar, dengan penekanan pada tabayun, penghormatan terhadap ulama, serta penguatan kembali khidmah NU kepada masyarakat.

























