JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Ada satu pemandangan menarik di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas saat Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) berlangsung.
Di tengah lalu-lalang ribuan muktamirin, santri, dan partisipan, aroma jajanan sederhana begitu mudah ditemukan. Hampir setiap beberapa meter, pedagang pentol seolah tak mau kehilangan kesempatan menyapa pembeli.
Namun, ada satu nama yang sudah puluhan tahun menjadi bagian dari cerita kuliner Tambakberas: Pentol Pak Mas. Bukan karena tampilannya mewah. Bukan pula karena harganya mahal. Justru sebaliknya.
Mulai Rp500, jajanan sederhana ini mampu membuat para penikmatnya kembali lagi.
Perjalanan Pentol Pak Mas bukan cerita bisnis yang tiba-tiba viral. Usaha ini telah eksis lebih dari dua dekade. Pada masa awal merintis, Pak Mas menjajakan pentol dengan berkeliling menggunakan gerobak yang ditopang sepeda motor.
Perlahan, pilihannya untuk konsisten berjualan di kawasan pondok pesantren membawa berkah. Pentol Pak Mas kemudian menjadi salah satu jajanan yang akrab dengan keseharian santri Tambakberas.
Menariknya, hubungan itu ternyata tidak berhenti ketika para santri meninggalkan pesantren. Banyak alumni yang kembali ke Tambakberas masih menyempatkan diri mencari pentol tersebut. Bahkan ada yang membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang. Seolah ada rasa yang ikut membawa mereka kembali pada kenangan masa mondok.
Pertanyaan itu mungkin muncul ketika melihat antrean pembeli. Jawabannya ada pada racikan sederhana yang menjadi kekuatannya.
Pentolnya dikenal memiliki tekstur empuk dengan ukuran yang pas untuk sekali lahap. Kemudian ada sambal khas dan kuah gurih yang menjadi pasangan utamanya.
Menurut sejumlah santri Tambakberas, racikan sambal dan kuah tersebut justru menjadi salah satu pembeda yang membuat Pentol Pak Mas mudah dikenali.
Sekali mencoba, godaan untuk menambah porsi pun muncul.
Harganya menjadi kejutan berikutnya. Pentol Pak Mas dijual dengan harga mulai Rp500.
Pembeli juga tidak hanya mendapatkan satu jenis pentol. Ada beragam pilihan isian dan pendamping seperti pentol jamur, pentol keju, pentol puyuh, siomay, hingga tahu.
Murah, beragam, dan mudah disantap. Tak heran jika jajanan ini begitu dekat dengan kehidupan santri.
Seiring perjalanan usahanya, Pentol Pak Mas kini tidak hanya ditemui di satu lokasi.
Beberapa titik penjualannya berada di kawasan MAN Tambakberas Jombang, Gang 1 Tambakrejo, sekitar Kantor Yayasan Bahrul Ulum, serta area Pasar Legi.
Pak Mas juga memahami satu hal penting dalam berdagang: selera setiap orang berbeda. Karena itu, pesanan dapat diracik sesuai permintaan pembeli, termasuk pilihan porsi kuah maupun racikan lainnya.
Muktamar ke-35 NU membuat kawasan Tambakberas semakin ramai. Ribuan orang datang dengan agenda, tujuan, dan cerita masing-masing.
Di tengah kesibukan itu, ada pengalaman sederhana yang mungkin justru paling mudah diingat: berdiri di pinggir jalan, memegang semangkuk pentol hangat, mencocol sambal, lalu menikmati kuah gurihnya.
Pentol Pak Mas bukan sekadar makanan murah. Ia telah menjadi bagian dari khazanah kehidupan santri Tambakberas—menemani generasi demi generasi, dari santri yang baru mengenal pesantren hingga alumni yang kembali membawa keluarganya.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa selama lebih dari dua dekade, jajanan sederhana ini masih dicari.
Kalau Anda sedang berada di Tambakberas saat Muktamar NU, pertanyaannya bukan lagi “ada pentol atau tidak?”
Pertanyaannya: berani penasaran kenapa pentol seharga Rp500 ini bisa bertahan lebih dari 20 tahun?

























