SURABAYA | LIPUTAN9NEWS
Perdebatan mengenai kapasitas Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam bidang hadis kembali mencuat. Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Surabaya sekaligus Ketua Aswaja NU Jawa Timur, KH Moh. Ma’ruf Khozin, ikut menyoroti persoalan tersebut dengan menghadirkan sejumlah penilaian dari ulama yang berada dalam lingkungan Salafi sendiri.
Menurut Kiai Ma’ruf Khozin, kritik terhadap penilaian hadis Syekh Albani bukan semata datang dari kalangan yang berbeda pandangan dengannya. Ia menyebut terdapat ulama Salafi yang juga memberikan catatan terhadap metode dan hasil takhrij Syekh Albani.
Pernyataan itu disampaikan Kiai Ma’ruf Khozin melalui artikel dalam postingan medsosnya yang membahas “Syekh Albani Menurut Sesama Ulama Salafi”, pada hari Kamis (03/09/2026).
Salah satu rujukan yang dikemukakan Kiai Ma’ruf Khozin adalah penilaian Lajnah ad-Daimah yang di dalamnya tercantum nama Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Mufti Arab Saudi.
أما كتاب [سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة] فمؤلفه واسع الاطلاع في الحديث قوي في نقدها والحكم عليها بالصحة أو الضعف وقد يخطئ. (فتاوى اللجنة الدائمة – المجموعة الأولى 4/ 474)عبد الله بن قعود. عبد الله بن غديان . عبد الرزاق عفيفي . عبد العزيز بن عبد الله بن باز
“Kitab Silsilat al-Ahadits adh’Dhaifat wa al-Maudhu’ah’, Pengarangnya -Syekh Albani- memiliki pengetahuan yang luas di bidang hadis, kuat dalam mengkritik hadis, memberi penilaian sah atau dlaif. Dan terkadang dia salah,” (Fatwa Lajnah ad-Daimah).
Dalam kutipan berbahasa Arab yang disampaikan Kiai Ma’ruf Khozin disebutkan bahwa pengarang Silsilat al-Ahadits adh-Dhaifah wa al-Maudhu’ah, yakni Syekh Albani, memiliki pengetahuan luas mengenai hadis dan kuat dalam melakukan kritik serta memberikan penilaian sahih atau dhaif.
Namun, penilaian itu juga disertai catatan bahwa Syekh Albani “terkadang melakukan kesalahan.” Bagi Kiai Ma’ruf Khozin, poin tersebut menunjukkan bahwa keluasan pengetahuan seorang ulama tidak otomatis berarti seluruh penilaiannya terbebas dari kekeliruan.
Selanjutnya, Kiai Ma’ruf Khozin kemudian mengangkat karya Syekh Abdullah bin Muhammad ad-Dawisy yang menurutnya secara khusus membahas sejumlah penilaian Syekh Albani terhadap hadis.
Ia mengutip mukadimah kitab Tanbih al-Qari’ ‘ala Taqwiyati ma Dha’afahu al-Albani yang menjelaskan adanya hadis yang dinilai dhaif oleh Albani tetapi kemudian terdapat penilaian berbeda di karya lainnya.
Dalam kutipan tersebut, ad-Dawisy juga menjelaskan bahwa ada hadis yang dinilai dhaif pada satu tempat, tetapi dinilai kuat pada tempat lain.
Ad-Dawisy menulis bahwa ia menyusun catatan tersebut setelah melihat banyak orang mengambil pendapat Syekh Albani tanpa melakukan penelitian lebih lanjut.
Kemudian Kiai Ma’ruf Khozin menaympaikan kutipan pendapat tersebut:
أَمَّا بَعْدُ : فَهَذِهِ أَحَادِيْثُ وَآثَارٌ وَقَفْتُ عَلَيْهَا فِي مُؤَلَّفَاتِ الشَّيْخِ مُحَمَّدٍ نَاصِرِ الدِّيْنِ اْلأَلْبَانِي تَحْتَاجُ إِلَى تَنْبِيْهٍ مِنْهَا مَا ضَعَّفَهُ وَلَمْ يَتَعَقَّبْهُ وَمِنْهَا مَا ضَعَّفَهُ فِي مَوْضِعٍ وَقَوَّاهُ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ وَمِنْهَا مَا قَالَ فِيْهِ لَمْ أَجِدْهُ أَوْ لَمْ أَقِفْ عَلَيْهِ أَوْ نَحْوَهُمَا ، وَلَمَّا رَأَيْتُ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ يَأْخُذُوْنَ بِقَوْلِهِ بِدُوْنِ بَحْثٍ نَبَّهْتُ عَلَى مَا يَسَّرَنِيَ اللهُ تَعَالَى . فَمَا ضَعَّفَهُ وَهُوَ صَحِيْحٌ أَوْ حَسَنٌ وَلَمْ يَتَعَقَّبْهُ بَيَّنْتُهُ وَمَا ضَعَّفَهُ فِي مَوْضِعٍ ثُمَّ تَعَقَّبَهُ ذَكَرْتُ تَضْعِيْفَهُ ثُمَّ ذَكَرْتُ تَعْقِيْبَهُ لِئَلاَّ يَقْرَأَهُ مَنْ لاَ اطِّلاَعَ لَهُ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي ضَعَّفَهُ فِيْهِ فَيَظُنُّهُ ضَعِيْفًا مُطْلَقًا وَلَيْسَ اْلأَمْرُ عَلَى مَا ظَنَّهُ (تنبيه القارئ على تقوية ما ضعفه الألباني عبدالله بن محمد الدويش 5)
“Kitab ini terdiri dari hadis dan atsar yang saya temukan dalam kitab-kitab Syaikh Albani yang memerlukan peringatan, diantaranya hadis yang ia nilai dhaif tapi tidak ia ralat, diantaranya juga hadis yang ia nilai dhaif di satu kitab tetapi ia sahihkan di kitab yang lain, juga yang ia katakan ‘saya tidak menemukannya’ (padahal dapat ditemukan dalam kitab-kitab hadis), dan sebagainya. Ketika saya melihat banyak orang yang mengambil keterangan dari Albani tanpa meneliti maka saya ingatkan, sesuai yang dimudahkan oleh Allah kepada saya. Maka, apa yang didhaifkan oleh Albani padahal hadis itu sahih atau hasan, maka saya jelaskan. Juga hadis yang didhaifkan Albani di satu kitab tapi ia ralat, maka saya sebutkan penilaian dhaifnya dan ralatannya tersebut. Supaya tidak dibaca oleh orang yang tidak mengerti di bagian kitab yang dinilai dhaif oleh Albani sehingga ia menyangka bahwa hadis itu dhaif secara mutlak, padahal hakikatnya tidak seperti itu,” (Tanbih al-Qari’, 5, Abdullah ad-Dawisy)
Menurutnya, ad-Dawisy tidak sekadar menunjukkan adanya perbedaan penilaian, tetapi juga memberikan penjelasan terhadap hadis-hadis yang menurutnya perlu dikaji kembali.
Dalam pandangannya, Kiai Ma’ruf Khozin menyebut ad-Dawisy mencatat 294 hadis yang menurut kajiannya dinilai dhaif oleh Syekh Albani dalam satu karya, tetapi kemudian dinilai sahih dalam karya lainnya.
Sementara perubahan dari penilaian sahih menjadi dhaif disebut berjumlah 13 hadis.
Ia juga mengutip kajian Muhammad Abu Umar dalam Mukhtashar Tarajum al-Albani. Dalam kajian tersebut, menurut Ma’ruf Hozin, ditemukan perubahan penilaian dari dhaif ke sahih sebanyak 110 hadis, dari sahih ke dhaif sebanyak 71 hadis, serta perubahan antara hasan dan sahih sebanyak 29 hadis.
Namun, angka-angka tersebut merupakan klaim dan hasil penghitungan dari karya yang dirujuk Ma’ruf Hozin, sehingga pembaca tetap perlu melihat langsung karya-karya tersebut untuk memverifikasi metodologi dan rinciannya.
Kiai Ma’ruf KHozin menegaskan kesalahan ulama bisa saja terjadi, tidak menampik bahwa kesalahan dalam penelitian hadis dapat terjadi pada seorang ahli hadis sekalipun.
Menurutnya, persoalannya bukan sekadar apakah seorang ulama pernah melakukan kekeliruan, melainkan bagaimana posisi kekeliruan tersebut dipahami ketika seseorang menjadikan seluruh penilaiannya sebagai rujukan tanpa melakukan telaah.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan pembanding mengenai sejumlah ulama hadis klasik.
“Kesalahan kan wajar, banyak ahli hadis lain yang lalai dan melakukan kesalahan? Ya betul. Sekarang pertanyaan dibalik, siapa di antara ahli hadis seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar, As-Suyuthi, As-Sakhawi, Al-Haitsami, Al-Ajluni, Al-Kinani, Al-Fatanni, yang melakukan kesalahan sampai ratusan?” ulasnya.
Pertanyaan tersebut menjadi inti kritik Ma’ruf Hozin: sejauh mana sebuah penilaian hadis harus diterima secara langsung, dan sejauh mana tetap perlu diuji melalui perbandingan dengan sumber serta ulama lainnya.
Di bagian awal postingannya, Kiai Ma’ruf Khozin juga menanggapi beredarnya foto editan yang menggambarkan dirinya sedang merokok.
Ia membantah foto tersebut dan mengatakan gambar itu merupakan hasil editan.
“Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba ada foto editan bahwa saya merokok. Ini tidak benar. Ini kelakuan Pak Dosen Yaser Muhammad Arafat (foto asli saya sertakan di komentar/red). Sekali lagi saya bukan ahli hisap.” tegasnya.
Setelah menyinggung persoalan tersebut, Kiai Ma’ruf Khozin mengarahkan pembahasan pada polemik mengenai penilaian terhadap Syekh Albani.
Menurut hematnya, perdebatan semestinya tidak berhenti pada pembelaan terhadap figur tertentu. Lebih penting adalah melihat argumentasi, sumber rujukan, konsistensi penilaian, dan metode yang digunakan dalam menilai hadis.
Dengan menghadirkan penilaian dari sejumlah ulama yang ia kategorikan sebagai bagian dari lingkungan Salafi, Kiai Ma’ruf Khozin ingin menunjukkan bahwa kritik terhadap penilaian Syekh Albani bukan persoalan sederhana antara satu kelompok dan kelompok lainnya.
Pada akhirnya, ia mengajak pembaca untuk tidak menerima sebuah penilaian hadis hanya karena datang dari nama besar, tetapi tetap melakukan kajian, perbandingan dan verifikasi terhadap sumber-sumber yang digunakan.


























