TANGERANG | LIPUTAN9NEWS
Naskah Khutbah Jum’at dengan tema Teladan Sifat Rasulullah yang Fathonah, Amanah, Siddiq dan Tabligh Dalam Berprilaku di Akhir Zaman di Era Media Sosial dan AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) ini disampaikan pada sidang shalat Jumat di Masjid Istiqomah komplek Pertamina Simprug Jakarta Selatan. Pada tanggal 04 September 2026 /22 Rabi’ul Awwal 1448 H
Teladan Sifat Rasulullah yang Fathonah, Amanah, Siddiq dan Tabligh Dalam Berprilaku di Akhir Zaman di Era Media Sosial dan AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَأَمَرَهُ بِالصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ فِيْ كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْعَلِيُّ السُّبْحَانُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا.
Jama’ah Jum’at Masjid Istiqomah yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’aalaa.
Menjadi prioritas utama bagi khatib dalam mengawali khutbah ini untuk senantiasa mengingatkan, mengajak, dan berwasiat kepada diri khatib dan para jamaah untuk terus dan tak henti-hentinya berusaha dengan sungguh-sungguh meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wata’aalaa
Wujud peningkatan ketakwaan ini adalah dengan penguatan komitmen untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Saat ini kita hidup di akhir zaman, era tehnologi informasi (media sosial dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence /AI)
Teknologi Informasi, termasuk media sosial dan AI, adalah amanah sekaligus ujian. Ia ibarat pedang bermata dua.
Dengan jari yang sama, kita bisa menebar ayat, berdakwah, dan menyambung silaturahmi.Tapi dengan jari yang sama pula kita bisa menebar hoaks, penipuan digital, dan adu domba.
Ingatlah, layar yang kita tatap hari ini akan menjadi saksi di hadapan Allah kelak. Maka jadilah penyambung pahala, bukan penyambung dosa.
Agar kita selamat, sekaligus sebagai salah satu bentuk kecintaan kita kepada Nabi ﷺ mari kita meneladani sikap dan sifatNya dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun dunia maya (medsos)
Dalam Al Qur’an telah diterangkan secara jelas bahwa Beliau adalah teladan hidup yang sebenarnya. Penjelasan itu ada di dalam QS Al Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”
Allah ta’aalaa berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sungguh engkau berada di atas akhlak yang agung” ( QS. Al-qolam : 4)
Sahabat nabi Sa’ad bin Hisyam bertanya kepada Ummul mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha terkait akhlak Rasulullah shalallahu alayhi wasallam,
وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: “كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Aisyah Radhiyallahu Anha berkata : _”Akhlak Beliau adalah Al-Qur’an”_
Anas radhiyallâhu ‘anhu :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
Artinya “Rasulullah SAW adalah manusia yang terbaik budi pekertinya.” (HR Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan wa-al-Musnad)
Jama’ah Jum’at Masjid Istiqomah yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’aalaa.
Diantara sifat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang wajib kita teladani adalah, Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah.
1. Shiddiq (Jujur dan Benar)
Di medsos, jari kita mudah mengetik dan menyebarkan berita tanpa tahu kebenarannya. Meneladani sifat Shiddiq berarti kita pantang menyebarkan hoaks atau memanipulasi informasi dengan teknologi AI. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 70:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga memperingatkan bahaya asal bicara dan asal sharing dalam sebuah hadis sahih:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ”
Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan (menyebarkan) setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim).
2. Amanah (Dapat Dipercaya)
Akun media sosial dan privasi data adalah amanah. Kita dilarang membongkar aib orang lain, mencuri data, atau melakukan plagiarisme digital melalui AI. Setiap jempol kita akan dimintai pertanggungjawaban. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 27:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga menegaskan pentingnya menjaga lisan dan tangan kita agar orang lain merasa aman:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ”
“Seorang muslim yang sejati adalah orang yang mana orang-orang muslim lainnya selamat dari bahaya lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari).
3. Tabligh (Menyampaikan Kebenaran)
Gunakan akun medsos kita untuk berdakwah, menyebarkan ilmu, dan mengajak pada kebaikan, bukan untuk mencaci maki di kolom komentar. Allah ta’aalaa berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda tentang pentingnya menyampaikan kebaikan walau sedikit:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
_”Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.”_ (HR. Bukhari).
4. Fathonah (Cerdas dan Bijaksana)
Menghadapi algoritma AI dan banjir informasi, kita butuh sifat Fathonah (cerdas) untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) agar tidak mudah terprovokasi. Allah subhanahu wata’aalaa berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ”
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajari kita untuk menjadi mukmin yang cerdas dan tidak mudah tertipu:
لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ
“Seorang mukmin tidak akan jatuh (tertipu) ke dalam satu lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah subhanahu wata’aalaa menjaga hati, lisan, gawai, dan jari-jari kita agar selalu berada dalam tuntunan syariat Islam di era digital ini. Aamiin yaa mijiibassaa’ilin
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, bimbinglah kami di akhir zaman ini agar mampu menggunakan lisan, tulisan, dan gawai kami untuk menyebarkan kebenaran, bukan dusta. Jauhkanlah kami dari fitnah media sosial dan dampak buruk teknologi. Jadikanlah teknologi yang kami genggam sebagai ladang pahala, bukan ladang dosa.
















