JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Babak baru Nahdlatul Ulama resmi dimulai. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 melalui keputusan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/08/2026).
Penetapan Gus Kikin diumumkan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) KH Anwar Iskandar setelah sembilan ulama yang tergabung dalam AHWA menyelesaikan musyawarah.
Menurut Anwar, keputusan tersebut diambil melalui musyawarah mufakat sebagai pelaksanaan mandat Muktamar.
“Secara mufakat memutuskan untuk memilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi ketua umum PBNU masa khidmat 2026-2031,” ujar Anwar.
Jalan Gus Kikin menuju kursi Ketua Umum PBNU tidak datang begitu saja. Dalam proses penjaringan calon Ketua Umum PBNU, nama pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng tersebut justru menjadi peraih suara terbanyak.
Dari total 2.397 suara yang masuk, Gus Kikin memperoleh 472 suara. Perolehan tersebut menempatkannya di posisi teratas sekaligus memenuhi syarat untuk diajukan kepada Rais Aam terpilih KH Miftachul Akhyar guna mendapatkan pernyataan izin tertulis.
Proses kemudian berlanjut ke mekanisme AHWA. Sembilan ulama melakukan musyawarah untuk menentukan sosok yang dinilai paling tepat mengemban amanah memimpin PBNU lima tahun ke depan.
Hasilnya bulat. Gus Kikin dipercaya menjadi nahkoda baru PBNU.
Terpilihnya Gus Kikin bukan sekadar pergantian figur di pucuk organisasi. Muktamar ke-35 NU juga menandai perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui AHWA.
Skema tersebut menempatkan musyawarah ulama sebagai bagian penting dalam proses penentuan kepemimpinan organisasi. Kini Gus Kikin mendapatkan mandat untuk membawa NU menghadapi tantangan lima tahun ke depan. Tantangannya tidak ringan.
NU memiliki jaringan pesantren, lembaga pendidikan, badan usaha, hingga jutaan warga Nahdliyin yang tersebar dari kota hingga pelosok desa.
Mereka membutuhkan organisasi yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga hadir menjawab persoalan nyata masyarakat.
Kontestasi Muktamar ke-35 NU berlangsung dengan dinamika yang cukup tinggi. Sejumlah nama sebelumnya ikut diperhitungkan dalam bursa Ketua Umum PBNU.
Namun setelah keputusan ditetapkan, seluruh elemen NU kembali menghadapi pekerjaan yang sama: menyatukan energi untuk membesarkan organisasi.
Di sinilah kepemimpinan Gus Kikin akan diuji. Bukan hanya bagaimana menjalankan struktur PBNU, tetapi bagaimana merangkul seluruh kelompok, menjaga tradisi keilmuan, memperkuat kaderisasi, membangun kemandirian ekonomi Nahdliyin, serta memastikan NU tetap dekat dengan masyarakat akar rumput.
Masa khidmah 2026–2031 akan menjadi perjalanan penting bagi NU. Gus Kikin kini memiliki mandat besar untuk menerjemahkan keputusan Muktamar menjadi program nyata.
Dari Tambakberas, NU telah memilih nahkodanya. Gus Kikin datang dari Tebuireng, meraih suara terbanyak dalam penjaringan, kemudian mendapatkan mandat AHWA untuk memimpin PBNU.
Kini pertarungan telah selesai. Tidak ada lagi soal siapa yang menang atau siapa yang kalah.
Yang tersisa adalah satu pertanyaan besar, Mampukah Gus Kikin menyatukan seluruh energi Nahdliyin dan membawa NU memasuki abad keduanya dengan lebih kuat, mandiri, berilmu, dan semakin dekat dengan rakyat?
Lima tahun ke depan akan menjadi jawabannya. Selamat mengemban amanah, Gus Kikin. NU menunggu kerja besarnya.

























