CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Sekitar 300 aktivis NU dari unsur struktural dan kultural berkumpul dalam Gala Dinner Pasca Muktamar 35, bagian dari Pekan Rekonsiliasi dan Ukhuwah Nahdliyyin.
Forum tersebut menjadi ruang silaturahmi dan urun rembuk untuk membahas masa depan NU. Meski dihadiri berbagai kelompok yang sebelumnya berseberangan dalam Muktamar ke-35, suasana dialog berlangsung cair dan kondusif.
Sebagai penggagas sekaligus keynote speaker, KH Imam Jazuli mengatakan acara tersebut merupakan inisiatif pribadinya melalui Imam Jazuli Foundation (IJF), lembaga yang bergerak di bidang sosial, keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi.
Kiai Imam Jazuli mengajak seluruh kader NU segera merapatkan barisan dan menyatukan visi untuk menghadapi berbagai agenda mendesak, mulai dari pendidikan, pesantren, dakwah, kesehatan hingga ekonomi.
“Banyak agenda mendesak yang harus diselesaikan. Saatnya kita bangkit dan itu memerlukan kerja sama semua elemen. Syaratnya sederhana, kita harus ikhlas dan berkhidmah,” ujarnya dalam keterangan, Ahad (27/09/2026).
Ia juga menyinggung dugaan riswah dalam sejumlah proses muktamar dan konferensi NU yang, menurutnya, perlu diantisipasi dengan pembenahan sistem yang lebih baik.
“Ke depan perlu diantisipasi dengan menata sistem yang lebih baik. Di sinilah pentingnya gagasan, saran dan urun rembuk,” terangnya.
Lebih lanjut, Kiai Imam Jazuli turut mengingatkan kader NU agar tidak mudah terjebak berbagai isu atau framing yang berpotensi mendegradasi tokoh maupun organisasi.
“Kalau kita malah menjadi penyebar framing, itu ibarat menepuk air di dulang, terpercik kita sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, forum tersebut tidak dimaksudkan untuk mengungkit dinamika masa lalu, melainkan menyerap ide, gagasan, saran dan harapan bagi masa depan NU.
Dialog yang berlangsung sekitar empat jam itu disebut menghasilkan berbagai gagasan yang akan dihimpun sebagai rekomendasi bagi kepengurusan NU di era Abad Kedua.
“Fokus kita adalah bagaimana NU ke depan menjadi lebih baik,” pungkasnya.

























