JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, mengingatkan umat Islam agar berhati-hati menghadapi Yaumul Harj, masa yang digambarkan dengan maraknya kekacauan, pertentangan, dan sulitnya membedakan kebenaran dari kebatilan.
Pesan tersebut menyoroti bahaya hawa nafsu yang mengalahkan kebenaran serta perilaku manusia yang tampak baik di luar, tetapi tidak mencerminkan ketulusan dalam perkataan dan tindakan.
“Berhati-hatilah di akhir zaman. Zaman ketika manusia lebih mendahulukan hawa nafsu daripada kebenaran dan banyak orang menggunakan topeng,” ujar KH Miftachul Akhyar yang disampaikan kepada umat.
Peringatan itu relevan di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas, membentuk opini, bahkan memicu konflik sebelum kebenarannya benar-benar terungkap.
Selanjutnya, Kiai Miftcah menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi situasi penuh pertentangan adalah kecenderungan menilai persoalan berdasarkan kepentingan pribadi, bukan fakta.
Informasi yang sejalan dengan pandangan sendiri kerap langsung dipercaya, sementara pendapat berbeda ditolak tanpa pemeriksaan. Kritik pun berisiko berubah menjadi penghinaan, sedangkan tuduhan yang belum terbukti dapat disebarkan seolah-olah merupakan fakta.
Dalam situasi seperti ini, umat perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada penampilan atau narasi yang belum teruji kebenarannya.
Karena itu, memeriksa sumber informasi, memahami konteks secara utuh, dan tidak terburu-buru menghakimi menjadi bagian penting dalam menjaga akhlak di tengah perbedaan.
Menurutnya, media sosial bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Platform digital dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, silaturahmi, serta penyebaran pesan-pesan kebaikan.
Namun, manfaat tersebut bergantung pada cara penggunanya memanfaatkan teknologi. Kebebasan menyampaikan pendapat tetap perlu disertai tanggung jawab, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat orang lain.
Prinsip tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya menjadi semakin penting.
Tidak semua kabar harus segera dibagikan. Tidak setiap persoalan harus dikomentari. Dalam keadaan tertentu, menahan diri sampai informasi menjadi jelas justru menunjukkan kematangan berpikir dan kedewasaan akhlak.
Setiap unggahan memiliki konsekuensi. Informasi yang benar dapat memberikan manfaat luas, sedangkan kabar bohong dan fitnah berpotensi merusak reputasi, memecah persaudaraan, serta menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Dalam perspektif ajaran Islam, setiap perkataan dan perbuatan manusia memiliki konsekuensi moral yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Karena itu, umat diingatkan untuk tidak hanya mempertimbangkan apakah suatu informasi menarik perhatian, tetapi juga apakah informasi tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.
Jejak digital yang telah dihapus dari layar pun tidak serta-merta menghilangkan dampak yang telanjur ditimbulkan. Sebuah tuduhan yang terus disebarkan dapat tetap merugikan orang lain meskipun pengunggah awalnya sudah berhenti membagikannya.
Dalam konteks ini, istilah dosa jariyah dapat menjadi pengingat moral tentang bahaya perbuatan buruk yang dampaknya terus berlangsung. Namun, penilaian dosa dan pahala seseorang tetap merupakan urusan Allah SWT.
Pesan yang dapat direnungkan ialah bahwa kesalehan tidak cukup ditunjukkan melalui ibadah personal, tetapi juga melalui kemampuan menjaga lisan, tulisan, dan kehormatan sesama.
Menghadapi Yaumul Harj Kata Kiai Miftach, bukan berarti umat harus kehilangan harapan atau berhenti menyampaikan pendapat. Sebaliknya, situasi yang penuh tantangan menuntut penguatan iman, ilmu, kesabaran, dan kebijaksanaan.
Kritik tetap diperlukan, tetapi harus berpijak pada fakta. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyebarkan fitnah atau merendahkan orang lain.
Di tengah derasnya informasi, umat perlu menjadikan ilmu sebagai penerang, tabayun sebagai pedoman, dan akhlak sebagai landasan dalam bertindak.
Peringatan tentang bahaya hawa nafsu dan perilaku bertopeng pada akhirnya mengajak setiap orang untuk melakukan introspeksi: jangan sampai merasa sedang membela kebenaran, padahal justru sedang dikuasai kepentingan pribadi.
Media sosial seharusnya menjadi ladang menanam kebaikan, bukan ruang untuk mewariskan kebencian. Sebab, menjaga kebenaran bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana seseorang menjaga akhlak dan kehormatan sesamanya.
























