• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Implementasi Qanun Asasi dalam Gerakan Dakwah NU: Gus Kikin dan Wajah Nahdlatul Ulama Abad Kedua

Implementasi Qanun Asasi dalam Gerakan Dakwah NU: Gus Kikin dan Wajah Nahdlatul Ulama Abad Kedua

October 23, 2026
Hari Santri 2026: Kiai Imam Jazuli dan Wajah Baru Pesantren Transformatif

Hari Santri 2026: Kiai Imam Jazuli dan Wajah Baru Pesantren Transformatif

October 23, 2026
Peringati Hari Santri, BEM PTNU Salurkan 1 Juta Liter Air Bersih untuk Korban Karhutla dan kekeringan Ekstrem

Peringati Hari Santri, BEM PTNU Salurkan 1 Juta Liter Air Bersih untuk Korban Karhutla dan kekeringan Ekstrem

October 23, 2026
TGH Turmudzi Badaruddin (Tuan Guru Bagu) dan KH Syukron Makmun pada acara haul Syekh Abdul Qadir dan TGH Jailani dan TGH Moh Sholeh Hambali di Loteng, NTB, pada 14 Nopember 1992 (Foto: Ist./MSN)

Mengenang KH Syukron Makmun, Singa Podium dari Madura ke Tanah Betawi

October 22, 2026
Dari Resolusi Jihad Menuju Indonesia Emas, Semangat Santri Bergema di Pulau Tidung

Dari Resolusi Jihad Menuju Indonesia Emas, Semangat Santri Bergema di Pulau Tidung

October 22, 2026
Amsar A. Dulmanan, NU dan Politik Transaksional: Telaah Kritis atas Relasi Ulama dan Negara

Bangkit Bergerak: Pergulatan Nahdlatul Ulama Jawa Barat, Banten, dan Jakarta (1926–1941)

October 22, 2026
Barisan santri Tebuireng mengikuti upacara peringatan Resolusi Jihad dan Hari Santri Nasional di lapangan Pesantren Tebuireng (foto: dafa-kopiireng)

Ribuan Santri Tebuireng Antusias Ikuti Apel Hari Santri 2026 Bersama PBNU

October 22, 2026
Momentum Hari Santri dan Sumpah Pemuda, Gus Wal Serukan Perlawanan terhadap Khilafah, Terorisme, Premanisme, dan Anarkisme

PNIB Ajak Santri dan Pemuda Ikrarkan Generasi Muda Anti Korupsi dan Intoleransi

October 22, 2026
Rais Syuriyah PBNU Imam Jazuli Dorong Edukasi Seks dan Kesehatan Mental bagi Ibu Nyai

Rais Syuriyah PBNU Kiai Imjaz Dorong Edukasi Seks dan Kesehatan Mental bagi Ibu Nyai

October 21, 2026
KH Agus Salim HS, Pengurus Idarah Aliyah JATMAN, Ketua Lembaga Dakwah PBNU Periode 2015-2021

Khususiyah Bukan Sekadar Ramainya Kehadiran Jamaah

October 21, 2026
Dr. Nurul Huda SA, Staf Pengajar Programs Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Ki Hadjar dan Pesona Pesantren

October 21, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Friday, October 23, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Implementasi Qanun Asasi dalam Gerakan Dakwah NU: Gus Kikin dan Wajah Nahdlatul Ulama Abad Kedua

liputan9news by liputan9news
October 23, 2026
in Opini
A A
0
Implementasi Qanun Asasi dalam Gerakan Dakwah NU: Gus Kikin dan Wajah Nahdlatul Ulama Abad Kedua
502
SHARES
1.4k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS

“Kami jajaran pengurus yang ada ini sedang berusaha untuk mengimplementasikan nanti diberlakukannya Qanun Asasi sebagai rujukan perjalanan NU ke depan. Ini bisa disebut sebagai konstitusinya NU di masa yang akan datang,”

“Ini menggambarkan bagaimana kedisiplinan, bagaimana Qanun Asasi itu menjadi kalimatun sawa, pemersatu dalam berpikir, pemikiran-pemikiran. Oleh karena itu, ini menjadi hujjah dan menjadi fikrah. Kemudian ada kesamaan, keselarasan dalam berharakahnya,”

(KH. Abdul Hakim Mahfuzh, Ketua Umum PBNU Periode 2026-2031)

Pernyataan Gus Kikin di atas sebagaimana lansir NU Online, menegaskan bahwa Qanun Asasi bukan sekadar warisan historis pendiri NU, melainkan fondasi ideologis dan pedoman konstitusional bagi kepemimpinan NU ke depan. Dengan menjadikan Qanun Asasi sebagai kalimatun sawa, Gus Kikin hendak membangun kesamaan fikrah, keselarasan gerakan, dan kedisiplinan organisasi. Artinya, kepemimpinan NU tidak semata-mata bertumpu pada figur, tetapi berakar pada nilai, pemikiran, dan prinsip perjuangan yang diwariskan para muassis. Dengan demikian, Qanun Asasi menjadi titik temu yang menyatukan pemikiran sekaligus mengarahkan gerak langkah NU dalam menghadapi tantangan zaman.

Pertanyaan itu semakin penting ketika NU berada di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Dunia bergerak melalui teknologi digital, ekonomi semakin kompetitif, dan geopolitik kian rumit. Sementara itu, masyarakat Nahdliyin menghadapi persoalan konkret: pendidikan, pekerjaan, ekonomi keluarga, kesehatan, kemiskinan, kesenjangan digital, hingga perubahan karakter generasi muda.

Dalam situasi seperti itu, saya melihat kepemimpinan Gus Kikin memiliki posisi yang menarik. Bukan semata-mata karena beliau berasal dari lingkungan trah muassis NU, melainkan juga karena latar belakang dan pengalamannya dapat memberi warna tersendiri bagi kepemimpinan NU.

BeritaTerkait:

Mudir JATMAN Ali Masykur Musa Serukan Warga NU Mulai Bertarekat

Harlah ke-69 JATMAN, Ali Masykur Musa Sebut Negara Butuh Kekuatan Spiritual

Kiai Imam Jazuli Kembali Masuk Syuriyah PBNU, 5.000 Dai Disiapkan Hadapi Era Digital

Lebih Gemuk, Ini Struktur Baru PBNU 2026–2031 Pimpinan Gus Kikin

Gus Kikin dan Kepemimpinan NU di Abad Kedua

Dalam sejarah awal NU, kita mengenal H. Hasan Gipo, tokoh saudagar yang menjadi Ketua Tanfidziyah pertama NU. Sementara itu, KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar memberikan fondasi keulamaan, keilmuan, dan orientasi keagamaan. Beliau menjadi kompas yang memandu arah organisasi pada masa awal pendiriannya. Memasuki abad kedua, pola kepemimpinan semacam itu terasa kembali relevan. Ada Rais ‘Aam KH. Miftahul Akhyar yang menjaga ruh dan orientasi keagamaan NU, dan ada Gus Kikin sebagai Ketum Tanfidziyah seorang pengusaha dan profesional, persis seperti perpaduan NU di awal berdirinya. Perpaduan tersebut, menurut saya, merupakan salah satu model kepemimpinan yang ideal bagi NU.

Mengimplementasikan Qanun Asasi dalam Gerakan Dakwah NU

KH. Hasyim Asy’ari merumuskan Qanun Asasi sebagai prinsip dasar organisasi. Prinsip tersebut menjadi fondasi perjalanan NU dan kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU. Dalam konteks kepemimpinan Gus Kikin, menurut saya, Qanun Asasi perlu diterjemahkan ke dalam empat orientasi kerja: al-ijtima’ sebagai konsolidasi, at-ta’awun sebagai kolaborasi, al-ittihad sebagai integrasi, dan at-ta’alluf sebagai kohesi.

Dalam konteks dakwah, keempat orientasi tersebut dapat menjadi landasan bagi gerakan dakwah NU:

Pertama, Dakwah untuk Menjaga Persatuan dan Ukhuwah

Salah satu prinsip yang sangat penting untuk dikembangkan NU pada abad kedua adalah al-ittihad wa al-ukhuwah, yakni persatuan dan persaudaraan. Di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi, NU harus hadir sebagai kekuatan yang menyatukan. Hari ini, orang dapat berselisih hanya karena perbedaan pendapat, mazhab, atau pilihan politik. Di media sosial, perbedaan pandangan bahkan dapat berubah menjadi permusuhan.

Perbedaan mazhab, organisasi, dan pilihan tokoh tidak seharusnya membuat sesama Muslim saling mencaci. Dalam situasi seperti ini, NU harus hadir sebagai rumah besar ukhuwah atau persaudaraan, yang mencakup ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.

Ukhuwah Islamiyah berarti mengarahkan dakwah NU untuk membangun persaudaraan di antara sesama Muslim, meskipun terdapat perbedaan dalam persoalan furu’iyah, pilihan politik, maupun corak dakwah.

Ukhuwah Wathaniyah diwujudkan dengan menegaskan bahwa keislaman dan keindonesiaan bukanlah dua hal yang bertentangan. Sejarah menunjukkan bahwa perjuangan keagamaan dan kebangsaan dapat berjalan beriringan. Dakwah NU perlu mengajarkan kepada generasi muda bahwa menjadi Muslim yang baik sekaligus warga negara yang baik adalah dua hal yang saling menguatkan.

Ukhuwah insaniyah menuntut dakwah NU untuk menampilkan wajah kemanusiaan. Dakwah bukan hanya menyampaikan ajaran, melainkan juga membela martabat manusia. NU harus menolak kesewenang-wenangan, kezaliman, dan segala bentuk penindasan tanpa memandang agama, kebangsaan, maupun keyakinan seseorang.

Kedua, Dakwah Kultural dan Ramah (at-Ta’alluf)

Saya percaya salah satu kekuatan terbesar NU adalah kemampuannya berdialog dengan kebudayaan. NU tidak hadir untuk menghancurkan seluruh tradisi masyarakat. Sebaliknya, NU memiliki sejarah panjang dalam proses Islamisasi melalui pendekatan yang bijaksana. Memasuki abad kedua, pendekatan ini perlu diperbarui tanpa kehilangan prinsip dasarnya. Inilah yang saya sebut dakwah kultural yang ramah. Prinsip at-ta’alluf menekankan pentingnya membangun kedekatan, persahabatan, dan penerimaan.

Ketiga, Dakwah yang Terorganisasi (al-Ijtima’ wa at-Ta’awun)

Di sinilah NU memiliki keunggulan besar. Jaringannya terbentang luas, dari PBNU di tingkat pusat hingga pelosok desa dan anak ranting di tingkat RW. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah jaringan yang besar itu sudah bekerja sebagai satu kesatuan?

Menurut saya, belum sepenuhnya. Karena itu, NU abad kedua membutuhkan gerakan dakwah yang terorganisasi. Seluruh struktur NU perlu memiliki arah bersama, meskipun bentuk kegiatannya dapat berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.

Sebagai contoh, Lembaga Dakwah PBNU dapat menyusun rancangan besar dakwah. Lembaga Dakwah PWNU menerjemahkannya sesuai dengan karakter provinsi, sedangkan Lembaga Dakwah PCNU mengembangkan program berdasarkan persoalan kabupaten atau kota. Lembaga Dakwah MWCNU menerjemahkannya ke tingkat kecamatan, sementara ranting NU menjadi ujung tombak di tengah masyarakat.

Dengan demikian, jarak antara keputusan organisasi di tingkat pusat dan kebutuhan masyarakat di tingkat bawah dapat diperkecil. Dakwah NU harus bergerak sebagai satu tubuh: kepala mengetahui apa yang dilakukan tangan, tangan memahami arah yang dituju, dan kaki melangkah menuju tujuan yang sama.

Membangun Ekosistem Dakwah NU

Menurut saya, ekosistem dakwah NU tidak cukup dibangun dengan memperbanyak dai atau pengajian. Yang dibutuhkan adalah sistem yang membuat ilmu, dai, pesantren, masjid, lembaga, dan jamaah bergerak dalam satu arus dakwah yang saling menguatkan.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membangun ekosistem dakwah NU.

1. Membangun “Peta Dakwah NU”

Langkah pertama adalah memetakan kebutuhan dakwah, bukan sekadar memetakan struktur organisasi. Setiap PCNU, misalnya, perlu memiliki data mengenai ruang dakwah, kebutuhan masyarakat, pelaku dakwah, dan program yang sesuai.

Ruang Dakwah Kebutuhan Dai/Pelaku Program

Pesantren Penguatan keilmuan Kiai/ustaz Kajian kitab

Masjid Penguatan keilmuan Kiai/ustaz Kajian kitab dan khutbah Jumat

Kampus Islam moderat dan intelektual Dai akademisi Kajian kampus

Rumah sakit Pendampingan spiritual Dai kesehatan Pendampingan spiritual

Perkantoran Pembinaan keislaman Dai profesional Kajian rutin

Anak muda Identitas dan literasi digital Dai muda Komunitas kreator

Media sosial Konten keislaman Kreator NU Konten harian

Lapas Pembinaan keagamaan Dai khusus Dakwah pemasyarakatan

Ekonomi Etika bisnis Islam Dai ekonomi Pendampingan UMKM

Keluarga Ketahanan keluarga Dai/konselor Bimbingan keluarga

Melalui pemetaan kebutuhan ini, pertanyaannya bukan lagi, “Berapa banyak dai yang kita miliki?” melainkan, “Di ruang mana NU sudah hadir, dan di ruang mana kehadirannya masih dibutuhkan?”

2. Membentuk “Dai Spesialis”

Menurut saya, langkah ini sangat penting. NU tidak cukup hanya mencetak dai umum, tetapi juga perlu menyiapkan dai spesialis sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

• Dai Kampus: Memahami Islam, filsafat, ilmu sosial, dan bahasa akademik.

• Dai Profesional: Mampu berdakwah di perusahaan, perbankan, rumah sakit, perkantoran, dan lingkungan profesional lainnya.

• Dai Digital: Menguasai media sosial, produksi video, podcast, desain, dan komunikasi digital.

• Dai Anak Muda: Memahami budaya generasi Z dan generasi Alpha.

• Dai Ekonomi: Menguasai fikih muamalah, ekonomi syariah, UMKM, dan kewirausahaan.

• Dai Keluarga: Memahami fikih keluarga sekaligus psikologi keluarga.

• Dai Rumah Sakit: Mampu memberikan pendampingan spiritual kepada pasien dan keluarganya.

• Dai Pemasyarakatan: Memiliki kompetensi dalam pembinaan keagamaan bagi warga binaan.

• Dai Seni dan Budaya: Mampu memasuki dunia musik, film, sastra, teater, desain, dan industri kreatif.

Dengan demikian, dai NU tidak hanya hadir di mimbar, tetapi juga di berbagai ruang kehidupan.

3. Mendirikan “Akademi Dai NU Abad Kedua”

NU perlu memiliki sistem kaderisasi dai yang lebih terstruktur. Materinya tidak hanya mencakup ilmu agama, tetapi juga berbagai kompetensi yang dibutuhkan untuk membaca persoalan masyarakat dan menjawab tantangan zaman, antara lain:

1. Ulum al-Qur’an dan hadis

2. Fikih dan ushul fikih

3. Akidah Ahlussunnah wal Jamaah

4. Sejarah NU

5. Qanun Asasi

6. Analisis Sosial

7. Psikologi dakwah

8. Komunikasi publik

9. Retorika

10. Media sosial

11. Produksi konten

12. Literasi digital

13. Kecerdasan buatan (AI)

14. Politik kebangsaan

15. Resolusi konflik

16. Pendampingan keluarga

17. Dakwah lintas komunitas

Kader dai NU tidak cukup hanya pandai berceramah. Mereka juga harus mampu membaca persoalan, memahami konteks, membangun dialog, dan menawarkan solusi yang nyata bagi masyarakat.

Penutup

Pada akhirnya, wajah NU di abad kedua tidak cukup ditentukan oleh siapa yang memimpin, melainkan oleh sejauh mana nilai-nilai dasar yang diwariskan para muassis benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat. Qanun Asasi harus menjadi ruh sekaligus pedoman kerja: menguatkan persatuan, merawat tradisi dengan sikap terbuka, menggerakkan organisasi secara terarah, dan menghadirkan dakwah yang menjawab kebutuhan zaman.

Dalam konteks ini, kepemimpinan Gus Kikin memiliki peluang untuk mendorong NU melangkah dari kebesaran jaringan menuju kekuatan gerakan yang terintegrasi. Namun, peluang itu hanya akan bermakna jika diterjemahkan melalui kerja kolektif, kaderisasi yang serius, pemetaan kebutuhan umat, serta keberanian hadir di ruang-ruang yang selama ini belum terjangkau. NU abad kedua harus tetap berakar pada sanad keilmuan dan tradisi pesantren, sekaligus cakap membaca perubahan digital, sosial, dan ekonomi. Dengan begitu, Qanun Asasi tidak berhenti sebagai warisan yang dikenang, tetapi tumbuh menjadi energi yang menghidupkan dakwah, memperkuat kemaslahatan, dan menjadikan NU semakin dekat dengan umat.

KM. Imaduddin, M.Hum., Wakil Rais Syuriah PCNU Jakarta Utara, Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU Periode 2015-2021

Tags: DakwahGus ImadGus KikinQanun AsasiQonun Asasi
Share201Tweet126SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

“Dengan segala hormat, saya mengajak keluarga besar NU mulai sekarang harus siap-siap bertarekat
Nasional

Mudir JATMAN Ali Masykur Musa Serukan Warga NU Mulai Bertarekat

by liputan9news
October 14, 2026
0

Dengan segala hormat, saya mengajak keluarga besar NU mulai sekarang harus siap-siap bertarekat

Read more
Harlah ke-69 JATMAN, Ali Masykur Musa Sebut Negara Butuh Kekuatan Spiritual

Harlah ke-69 JATMAN, Ali Masykur Musa Sebut Negara Butuh Kekuatan Spiritual

October 14, 2026
KH Imam Jazuli, Lc., M.A., Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2026-2031 sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Jawa Barat.

Kiai Imam Jazuli Kembali Masuk Syuriyah PBNU, 5.000 Dai Disiapkan Hadapi Era Digital

October 5, 2026
Lebih Gemuk, Ini Struktur Baru PBNU 2026–2031 Pimpinan Gus Kikin

Lebih Gemuk, Ini Struktur Baru PBNU 2026–2031 Pimpinan Gus Kikin

September 30, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2632
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

760
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Hari Santri 2026: Kiai Imam Jazuli dan Wajah Baru Pesantren Transformatif

Hari Santri 2026: Kiai Imam Jazuli dan Wajah Baru Pesantren Transformatif

October 23, 2026
Implementasi Qanun Asasi dalam Gerakan Dakwah NU: Gus Kikin dan Wajah Nahdlatul Ulama Abad Kedua

Implementasi Qanun Asasi dalam Gerakan Dakwah NU: Gus Kikin dan Wajah Nahdlatul Ulama Abad Kedua

October 23, 2026
Peringati Hari Santri, BEM PTNU Salurkan 1 Juta Liter Air Bersih untuk Korban Karhutla dan kekeringan Ekstrem

Peringati Hari Santri, BEM PTNU Salurkan 1 Juta Liter Air Bersih untuk Korban Karhutla dan kekeringan Ekstrem

October 23, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In